Menjadi seorang penulis yang handal dan berbakat memang keinginan banyak orang. Dan hal ini tentu di lihat tidak hanya dari jumlah presentase buku yang setiap tahun terbit, tetapi situs-situs yang juga menjadi wadah untuk seseorang mengeluarkan gagasannya. Baik berupa novel, puisi, artikel, essai, jurnal, dsb. 

Dalam meraih cita-cita menjadi penulis tersebut tentu saja di butuhkan usaha dan kekuatan yang tidak hanya sekedar, tapi benar-benar. Menjadi penulis menurut saya, merupakan suatu pekerjaan yang terhormat, karena secara tidak langsung seorang penulis ikut memberikan sumbangsih pada peradaban bangsa. 

Di katakan oleh, A. Fuadi seorang penulis buku trilogi best seller nasional berjudul Negeri Lima Menara, Ranah 3 Warna, dan Muara bahwasanya, negeri yang maju peradabannya bukan hanya negeri yang mapan secara finansial, dan kebudayaan, akan tetapi negeri yang juga maju ranah literasinya. 

Meskipun Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal ini, tapi munculnya generasi penulis baru yang lebih giat dalam mengelola literasi bangsa, membubuhkan semangat yang luar biasa dalam dunia kepenulisan, hal ini juga bisa membuktikan bahwa kita sebagai Indonesia tidak boleh kalah perihal literasi dengan negara-negara lainnya.

Dalam meniti jalan menjadi penulis, agaknya jalan yang akan dilalui, cukup terjal. Banyak hal yang harus dilakukan untuk sebuah “Tirakat Kepenulisan” agar nantinya, tulisan yang tersaji tidak hanya menyajikan redaksi yang bombastis, bahasa yang meliuk-liuk, ejaan yang sempurna tapi, bisa membuat pembaca merasakan kemanfaatan dari apa yang di baca. 

Maman Suherman berkata dalam bukunya yang berjudul “Aku Menulis Maka Aku Ada” bahwa sebuah buku mesti menikam dan mencedarai pembacanya. Jika buku tidak bisa membangunkan jotosan di kepala, untuk apa kita membacanya?

Awal dari proses menulis adalah membaca, Hal ini sejalan dengan firman Allah yang pertama kali turun, yakni BACA, BACA, BACA. Dari membaca kita tidak akan pernah kehabisan wacana dan inspirasi. Allah menurunkan ayat tersebut, karena memang hal pertama yang harus kita lakukan dalam memulai segalanya, adalah membaca. 

Membaca di sini tidak dibatasi, hanya membaca buku saja. Tetapi, membaca seluruh yang ada pada alam semesta, apapun yang terlihat maka bacalah, sekecil apapun hal itu bacalah dan ambilah pelajaran dari hal tersebut lalu tuangkan dalam bentuk tulisan. 

Andalan seorang penulis adalah kertas dan pena, maka bawalah ia kemanapun kaki melangkah. Tulislah setiap ide yang terlintas di kepalamu. Jangan pernah berpikir bahwa “Ah ide ini tidak penting” semua hal yang kau anggap gagasan yang melintas di kepala, tulislah. Tidak ada ide yang tidak penting, tulis semuanya lalu saring melalui perenungan. 

Jangan pernah ragu untuk menuliskan apapun yang kita pikirkan, dan apa yang ingin kita utarakan pada khalayak luas. Kertas kosong jangan di biarkan tetap kosong tanpa satu hurufpun di atasnya. Selagi itu hal baik, maka tulislah, utarakanlah. Dan ini harus di lakukan secara terus menerus. Tanpa lelah. 

Jika mulai ragu, maka ingatlah pesan-pesan yang ada pada buku Hidup Kadang Begini Kadang Begitu, karya Maman Suherman dan Gus Nadzir. 

Bahwa menulis itu soal gagasan, baru kemudian tata bahasa. Jadi, menulis saja. Tidak usah takut salah ejaan atau cacat redaksinya. Nanti, saat tangan telah terbiasa mengetik apapun itu, dengan sendirinya naluri kepekaan kita akan terasah, otak yang biasa digunakan untuk berpikir, akan dengan mudah mendeteksi kesalahan. 

Menulis itu soal pengetahuan, bukan soal selera. Jadi, kalau tidak paham masalahnya, lakukan riset kecil-kecilan. Agar nanti apa yang kita sampaikan itu jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Bukankah dengan menulis yang baik dan benar, kita sama saja sedang menebar kebaikan?

Kembali lagi pada membaca, menulis itu soal seberapa banyak kamu membaca buku. Dari membaca, kita tidak akan pernah kekeringan ide, tidak akan pernah kehabisan topik, dan tulisan akan terasa segar di baca. 

Alam semesta beserta isinya adalah buku yang selalu terbuka tanpa harus membeli, atau tanpa pergi ke toko buku. Karena ia jelas terpampang di depan kita. Untuk itu, jangan sia-siakan hal ini. Gunakan kepekaan untuk bisa membaca alam semesta, bacalah dengan kekuatan dan kemampuan yang kita punya dan berlatih lah untuk mengasah kepekaan. 

Karena, senjata seorang penulis selain PUEBI, EYD adalah kepekaan. Semakin ia peka terhadap sesuatu, maka semakin tajam tulisan yang dibuat. 

Maka, tirakat yang harus segera di genggam erat dan di amalkan dengan kontinyu adalah membaca, membaca, dan membaca. Dari membaca, maka kita akan berpikir dan merenungi banyak hal, semakin banyak waktu yang di gunakan untuk membaca dan merenung, akan semakin bagus kualitas tulisan tersebut. 

Setelah sudah memiliki keberanian dan mental penulis, maka mulailah pahami kaidah-kaidah kepenulisan, dan akan berjalan kearah mana tulisanmu. Fiksi kah? Ataun Non-Fiksi? Dan lakukan terus pembelajaran terhadap kaidah kepenulisan, bahasa yang digunakan dan apapun yang akan membentuk karakter tulisanmu. 

Pahami juga tentang 5W+1H, karena itu adalah makanan seorang penulis sehari-hari. Bagaimana peletakkannya, dan seperti apa nanti bentuknya, dll. Seorang penulis harus memahami hal ini. 

Sebenarnya, hanya dua hal saja tirakat awal menjadi penulis. Yakni, membaca terus menerus, dan bentuk mental setangguh mungkin. Karena segagah apapun tulisanmu jika mental yang di miliki lembek, tidak akan manis buah tulisanmu. Sedangkan, tulisan adalah cerminan dari diri penulisnya. 

Selalu pacu diri sendiri dengan semangat bertubi-tubi dan kesabaran yang bertubi pula. Pada tahap pemula, seseorang harus sabar dan tak pantang menyerah dalam menulis. Jika gagal mengajukan tulisan pada penerbit, maka coba lagi, gagal lagi coba lagi, belajar lagi. 

Jangan mudah jenuh karena, biasanya nuansa jenuh mudah memborbardir semangat yang di bangun dengan susah payah. 

Ingatlah wejangan Mbah Semar bahwa ora oleh mati tanpo aran, yang artinya tidak boleh meninggal tanpa nama. 

Usahakan ketika kita meninggal ada sesuatu yang membuat tenang di alam sana. Ada sesuatu yang membuat seseorang mengingat kita lantas mendoakan keselamatan kita di kubur sana. Ada amal jariyyah yang tidak pernah putus pahalanya. Apa? Menulis lah. 

Menulislah, suaramu takkan padam di telan angin, abadi, sampai jauh di kemudian hari. Begitu ucap Pramodya Ananta Tour. 

Semangat berkarya