3 minggu lalu · 703 view · 3 menit baca · Politik 46113_60843.jpg

Tirakat Ahok

Ahok akan dibebaskan pada Kamis, 24 Januari 2019. 

Beberapa hari lalu, pada 17 Januari 2019, Ahok menulis surat kepada pendukungnya. Surat itu disebarkan di akun Twitter dan Instagram. Saya membaca surat itu lepas azan subuh saat muazin melantunkan selawat Asyghil di Surabaya.

Tiba-tiba mata saya tergenang. Receh benar emosi ini. Suatu kesimpulan sederhana setelah membaca surat itu: Ahok tirakat. 

Timbul pertanyaan lain, bagaimana mungkin dalam ruang sempit dan pengap penjara, Ahok dapat melakukan tirakat?

Secara harfiah, tirakat merupakan penyerapan dari bahasa Arab thariqah, yakni jalan yang dilalui. Orang orang Indonesia di masa lalu melakukan tirakat dengan banyak cara: tapa ngalong, tapa nguwat, tapa bolot, tapa ngidang, dan lain lain.

Orang orang pesantren juga memiliki varian tirakat. Mulai dari puasa Senin-Kamis, mutih, pembacaan hizib, dan lain lain. Berbacam cara tirakat ini bermuara pada pengendalian hawa nafsu. Dalam Bahasa lainnya, riyadhah.

Isi surat dari Ahok menggambarkan bahwa dia sudah mulai berhasil mengendalikan dirinya. Isi surat itu dimulai dari ucapan terima kasih dan imbauan agar para pendukungnya tidak menjemputnya. Karena dikhawatirkan akan mengganggu lalu lintas orang yang akan mencari rezeki.

Kisah Ahok ini memiliki kemiripan dengan Gus Dur. Saat begitu banyak orang yang akan membela dengan mempertaruhkan nyawanya saat akan diturunkan sebagai presiden, Gus Dur malah menyuruhnya pulang.

Isi lain dari surat Ahok mengisahkan beberapa hal penting. Pertama, kata "maaf". Untuk Ahok yang tampak selalu tegas dan bahkan kasar dalam memarahi para ASN di Balai Kota selama ia menjabat, kata "maaf" dari surat itu penanda dari kelembutan hatinya yang telah melalui pengendalian diri yang besar.

Kedua, syukur. Ahok telah melampuai jerat duniawi yang membelenggu. Jika ada pilihan istana dan penjara, bayangan kita akan langsung memilih istana. Ahok telah melampaui itu semua. Dalam suratnya, Ahok bersyukur bahwa bisa dipenjara daripada terpilih di pilkada.

Bait kata yang sangat saya suka dari surat itu: “Saya bersyukur diizinkan tidak terpilih lagi pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Jika saya terpilih lagi di Pilkada tersebut, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai balai kota saja. Tetapi di sini saya belajar menguasai diri seumur hidup saya.”

Ketiga, jiwa juang. Pada bagian akhir dari surat Ahok mengutip tentang pidato Soekarno, tentang Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia, saat di mana Ahok juga akan terlibat dalam menjaga Pancasila.

Surat itu diakhiri dengan kata-kata: “Majulah kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan. Ingatlah sejarah dan tujuan proklamator negara ini. MERDEKA!” Pada kalimat terakhir ini, Ahok tampaknya telah siap untuk Indonesia.  

Surat itu tentu melalui suatu proses pertarungan di dalam diri yang kuat. Saat baru selesai perang badar, Kanjeng Nabi pernah ditanya, "apa perang yang lebih besar dari perang badar?" Nabi menjawab, "perang melawan hawa nafsu."

Salah satu jalan menang melawan hawa nafsu adalah dengan tirakat. Penjara adalah tempat tirakat Ahok. Surat itu salah satu tanda kemenangan Ahok. 

Ahok memang selalu menang. Ia menang untuk menjaga kehormatannya sebagai manusia Indonesia yang hingga titik terakhir tetap tidak kehilangan cinta untuk Indonesia.

Tentang cinta yang besar, saya jadi teringat dengan sufi perempuan yang hingga kini saya kagumi. Namanya Robiah al-Adawiyah. 

Saat Robi’ah bertemu Iblis, ia meminta maaf kepada iblis. Sebab tidak mampu membenci iblis. Karena di hatinya sudah dipenuhi cinta kepada Allah.

Bahkan saat bertemu kanjeng Nabi Muhammad, Robiah al-Adawiyah juga tidak mampu membagi cintanya kepada Muhammad. Karena di dalam hatinya sudah penuh dengan cinta kepada Allah. Kepada Nabi Muhammad pun tidak ada tempat untuk membagi cinta.

Bagi sufi, tidak ada ruang sedikit pun untuk membenci. Karena hatinya sudah dipenuhi oleh cinta. 

Indonesia membutuhkan hati yang penuh cinta. Karena kini narasi keindonesiaan kita tampak sesak berjajal kebencian yang direproduksi. Media sosial kadang menjadi tempat sampah kata-kata yang merusak optimisme.

Melalui surat itu, Ahok berusaha menularkan cintanya kepada Indonesia. Sebagai korban politik karena framing, Ahok berhak sakit hati. Tetapi bukan itu yang ditunjukkan, Ahok tetap menjadi oase di tengah kegersangan atas kebencian yang akut karena berbeda pilihan.

Lepas dari isi surat itu, saat masih dipenjara, terdapat narasi yang menyamakan Ahok dengan Nelson Mandela. Karena suatu peristiwa penting, Ahok dan Nelson sama-sama bercerai dengan istrinya. Kala itu, Nelson langsung menjadi presiden. Entah dengan Ahok, kita tunggu bagian sejarah Indonesia berikutnya.

Saya bukan ahokers. Hidup di Surabaya. Tidak pernah terlibat dalam perdebatan sengit pilkada Jakarta. Sejujurnya saya memiliki harapan akan pengabdian Ahok berlanjut dalam skala lebih luas, yakni Indonesia. Karena Indonesia butuh cinta setangguh Ahok.