Penipuan berbasis agama sudah banyak memakan korban. Di Indonesia, penipuan-penipuan itu bisa dikerjakan dengan kedok yang sangat bervariasi. Mulai dari investasi perumahan, investasi kebun, investasi travel naik haji, dan lain-lain.

Maraknya isu penggunaan agama di dalam setiap penipuan yang dikerjakan membuat saya berpikir lebih jauh lagi mengenai agama. Apakah betul agama yang mereka pakai boleh digunakan untuk menipu? Atau jangan-jangan agama yang mereka pakai itu sebenarnyanya menjadi satu alat saja untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka?

Awalnya saya hanya berpikir ini dikerjakan oleh 1 sampai 2 orang saja, tidak banyak. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan polisi membongkar bahwa penipuan-penipuan berkedok agama dikerjakan oleh sekelompok orang dalam jumlah yang banyak.

Polisi membongkar sudah beberapa kasus, bahkan di dalam penipuan travel umrah, merupakan penipuan terbesar sepanjang sejarah. Ini adalah satu hal yang serius dan krusial harus kita pikirkan di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Islam terbesar di dunia dan mereka menjadi korban dari penipuan berkedok agama maupun Syariah ataupun hal-hal yang lain.

Kecurigaan saya adalah pemahaman agama mereka sungguh kerdil dan belum masuk ke dalam tahap kritis. Mereka yang tidak bisa bersikap kritis menjadi komoditas bagi tukang tipu yang menggunakan label-label agama tertentu apalagi agama mayoritas di Indonesia.

Miris jika orang Indonesia yang dianggap sebagai orang yang taat beragama, tapi tidak memiliki ketekunan di dalam berpikir rasional. Betul-betul ironi yang real dan faktual. Tipuan berkedok agama saat ini menjadi virus yang menyebar terus-menerus.

Apakah berhenti di dalam penipuan travel, rumah investasi bodong, dan lain-lain yang sudah terbongkar? Saya curiga ini hanyalah permulaan dari terbongkarnya tipuan berbasis agama. Kekhawatiran ini bukan tidak beralasan. Saya memiliki alasan yang kuat untuk mengatakan statement ini.

Kurangnya pendidikan agama yang menekankan kepada berpikir kritis menjadi penyebabnya. Dengan mudah mereka ditipu dan dengan modal juga mereka sekaligus merasa sudah menjalankan tugas keagamaan mereka.

Ironi di atas ironi adalah ketika mereka tidak merasa tertipu dan merasa sudah melakukan amal ibadah ketika mereka ditipu.

Dari sini saya bisa melihat dan menyimpulkan secara sementara bahwa mereka sungguh perlu dididik di dalam pendidikan yang baik dan khususnya berpikir secara utuh dalam memaknai agama dan kehidupan sehari-hari mereka.

Sudah saatnya pemuka-pemuka agama hadir untuk mencerdaskan bangsa ketimbang hanya menghasut mereka untuk kepentingan politik saja. Abu Tours dengan korupsi nyaris menyentuh angka 1 triliun menjadi sebuah fakta yang mengagetkan dan mencengangkan kita semua.

Uang itu digunakan untuk hal-hal pribadi mereka, baik dari suami maupun istri. Rasanya vonis 20 tahun adalah vonis yang tidak terlalu membuat kita puas, bukan? Saya sangat menyayangkan vonis 20 tahun tanpa adanya pengembalian uang yang layak untuk para korban tipuan ini.

Kehadiran negara sangat kurang dirasakan oleh para korban. Fokus pada artikel ini bukanlah menyalahkan siapa-siapa, termasuk menyalakan pelaku. Melainkan fokus pada artikel ini adalah untuk mempertanyakan kehadiran negara di dalam menghadirkan keadilan sosial bagi mereka yang tertipu.

Hidup yang sementara ini dan tabungan yang dikerjakan oleh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun oleh jemaah calon naik haji hilang begitu saja. Sudah seharusnya keadilan mereka rasakan dan tabungan bertahun-tahun itu mereka nikmati.

Sudahlah, saya menuliskan artikel ini untuk menyadarkan kita semua bahwa agama sangat rentan dijadikan komoditas untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah tercermin di dalam kehidupan agama mereka yang sesungguhnya.

Solusi satu-satunya yang tadi saya katakan adalah pendidikan. Pendidikan yang baik akan menghasilkan akhlak yang baik dan akhlak yang baik akan menghasilkan rasio yang baik. Esensi dari pembelajaran agama menjadi sangat penting untuk kecerdasan kita.

Agama hadir bukan untuk membodoh-bodohi manusia, melainkan untuk mencerahkan manusia di dalam pencarian ilmu mereka akan dunia ini. Jangan mau ditipu oleh orang-orang yang membuat dan menampilkan simbol dari agama-agama tertentu.

Carilah hal-hal yang baik dari agama dan gunakanlah itu untuk kemaslahatan kita bersama, bukan untuk kepentingan kita personal ataupun kelompok-kelompok tertentu.

Sadarkah Anda bahwa dulu demo 212 sudah sangat menyita banyak sekali perhatian rakyat? Bahkan ada pria dari Aceh yang rela menjual mobilnya untuk mengikuti demo 212 pada saat itu.

Lalu apa hasilnya? Apakah itu membawa sebuah pahala baginya atau malah kerugian yang tidak terhitung kekesalannya? Hidup itu harusnya nyata, bung. Jangan mudah tertipu oleh iming-iming agama yang disalah-artikan.

Untuk ke depannya, belajarlah untuk hidup lebih realistis lagi ketimbang hanya mau diiming-imingi oleh para pelaku eksploitasi agama.

Seperti yang dikatakan almarhum Gus Dur bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Membela sesuatu yang maha adalah tindakan menjaring angin dan menggantang asap. Sia-sia semuanya dan tidak ada untungnya buat kalian.

Beragamalah dengan cara yang benar, bukan malah menjadikan diri sumber benar dan absolut.