Kehidupan seakan terasa berubah drastis semenjak kemunculan fase globalisasi. Globalisasi membawa arus positif sekaligus arus negatif di dalamnya serta membawa kemajuan sistem informasi teknologi yang sangat pesat perkembangannya. Contohnya kita dapat melihat sebuah film yang rilis di USA secara bersamaan dengan kita yang dapat melihat hanya melalui telepon genggam milik pribadi.

Adanya globalisasi juga membuka pintu-pintu pasar bebas dimana sistem perekonomian antar negara dituntut untuk saling bersaing dan saling bekerja sama melengkapi kebutuhan dalam maupun luar negerinya. Di samping itu, dalam bidang budaya adanya globalisasi mengharuskan masuknya budaya asing masuk ke negara kita baik itu budaya yang selaras maupun budaya yang bertolak belakang dengan budaya asli kita.

Lalu, apa yang harus kita perbuat? Bagaimana sikap kita terhadapnya?

Dalam sebuah penelitian dari Universitas California pada tahun 2002 mengemukakan bahwa mulai abad ke-20 dekade terakhir merupakan salah satu transformasi sosial terbesar yang pernah terjadi dalam skala global. Banyak negara Eropa Timur dan Asia mengalami dan terus mengalami  perubahan sosial yang besar.

Kekuatan ini yang mendorong perubahan datang baik dari dalam maupun dari luar masing-masing negara. Sebagai kekuatan dari luar budaya, globalisasi telah menjadi tren yang signifikan di mana difasilitasi oleh teknologi komunikasi yang modern seperti komputer, internet, dan satelit.

Hal ini dapat dikaitkan dengan kemudahan-kemudahan mengakses sosial media di mana perolehan informasi yang terlampau banyak sehingga perlu adanya filter untuk menyaring apakah informasi tersebut relevan atau informasi tersebut sebaiknya dihiraukan. Sosial media bukan hanya sarana untuk sekadar melepas penat, tetapi isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial.

Twitter, Instagram, dan Youtube telah merajai generasi muda Indonesia

Mudah dan murahnya biaya internet daripada tahun-tahun sebelumnya serta dapat diakses dari rumah melalui komputer pribadi ataupun telepon seluler. Hal ini juga dipicu dengan maraknya gadget yang hampir dimiliki oleh mayoritas generasi muda. Dengan gadget itu, mereka membawa sosial media kemanapun, bersosialisasi dimanapun dan kapanpun, bagai membawa dunianya di dalam saku.

Hal ini dapat menimbulkan rasa kecemasan akan ketertinggalan trend atau dalam bahasa gaul disebut FOMO (fear of missing out). Banyak remaja merasakan hal ini karena sosial media mengharuskan penggunanya untuk melihat dan membandingkan kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Terkadang hal tersebut menimbulkan kecemasan yang mendalam apakah kita dapat diterima di lingkungan sekitar atau harus hidup dengan pura-pura menjadi orang lain dan meninggalkan sifat-sifat yang telah menjadi cetakan sedari kecil untuk diterima di lingkungan terutama pertemanan.

Be Yourself!” “Be Confident!” “Be You!

Sering sekali mendengar sebuah pernyataan klise tersebut. Namun, pada realita yang dihadapi menyatakan bahwa tak semudah yang diucapkan. Terlebih lagi untuk para usia remaja di masa masa peralihan menuju sedang dimulai. Masa di mana penuh pertanyaan mengenai pencarian jati diri dan masa perkembangan sikap. Semua orang tahu bahwa usia remaja masih pada tahap mencoba dan mencari hal baru dalam hidupnya di mana akan banyak dijumpai trial and error.

Output yang dihasilkan antar individu juga tidaklah sama. Sebagian muncul berbagai gejolak emosi yang menyebabkan timbulnya masalah baik dengan sesama rekan, dalam keluarga, maupun lingkungan sosialnya.

Di sisi lain dijumpai pula output positif yang bisa diserap sehingga para remaja dapat mengetahui dirinya sendiri secara lebih mendalam mengenai apa yang digandrungi dan apa yang seharusnya dihiraukan.

Lalu bagaimana cara tetap menjadi diri sendiri di tengah gempuran globalisasi?

Menghargai pilihan diri sendiri sama seperti menghargai pilihan orang lain. Mengembangkan perasaan menghargai diri sendiri diri sebenarnya membantu memaksimalkan potensi dan mengembangkan hubungan yang sehat dengan sesama. Semakin mampu memahami diri sendiri, maka semakin mampu untuk mengenali diri sendiri.

Setiap individu pasti memiliki prinsip hidup, kepribadian, dan bakat masing-masing. Maka, bisa diaplikasikan dengan membuat daftar mengenai kegiatan yang dapat mengidentifikasi hal yang benar-benar disukai dan dibutuhkan dalam hidup.

Menerima, Mensyukuri, dan Mengembangkan Anugerah Tuhan Kepada Diri Kita.

Pada konteks ini bukan berarti kita pasrah akan keadaan tetapi lebih mengarah kepada menerima diri sendiri sehingga dapat lebih baik dalam eksplorasi potensi-potensi yang positif. Seperti pepatah filsuf legendaris berkata:

If everything around you seems dark, look again, you may be the LIGHT”

Jalaluddin Rumi 


Fokus Pada Tujuan 

Setiap cerita dari perjalanan menuju pendewasaan pada masing-masing individu pasti sangat berwarna dan berliku. Mulai yang tak sangka bahwa akan menghadapi banyak ekspektasi- ekspektasi yang tinggi dari lingkungan sekitar. Hal ini akan terasa berat di pundak untuk dijalani. Belum lagi kegagalan yang membunuh semangat yang berkobar.

Fokus pada tujuan adalah salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas diri. Bisa dilakukan dengan membaca buku genre self development seperti buku Atomic Habits karya James Clear, Filosofi Kopi karya Henry Manampiring, dan banyak lagi.

Mengenali Diri Sendiri

Sikap yang harus dipegang teguh bahwa pada kenyataannya orang-orang akan menerima mereka jika mereka menjadi diri sendiri, jika mereka menjadi jujur terhadap diri mereka sendiri, dan jika mereka percaya pada diri mereka sendiri.

Memang sangat membutuhkan waktu dan tenaga yang besar untuk mencapai titik kepercayaan diri dan titik mencintai diri sendiri itu. Namun, itulah fakta yang harus diterima dalam menjalani proses perjalanan hidup.