Siapa sih yang nggak kepingin punya rumah sendiri? Mayoritas dari kita tentu kepingin punya rumah sendiri, bagaimanapun keadaannya. Sebab pada umumnya, kita menganggap bahwa tinggal di rumah sendiri ini dapat menghadirkan lebih banyak kenyamanan dibanding tinggal dengan menumpang di rumah orang lain.

Di antara kenyamanan yang kita peroleh manakala kita sudah berdikari di rumah milik sendiri adalah kita tidak lagi terikat dengan aturan di pondok mertua bahagia, tidak lagi pusing mikirin biaya sewa kontrakan, dan lain sebagainya.

Sebelum kita memutuskan untuk memiliki rumah sendiri, tentunya kita harus mikirin dulu berapa banyak anggaran dana yang harus kita siapkan untuk meminang rumah yang telah jadi atau membangun rumah sendiri. Dari kedua jenis pilihan ini, sebenarnya ada sisi kelebihan dan kekurangan masing-masing manakala kita memutuskan untuk memilih salah satu dari keduanya.

Keuntungan bagi kita jika kita memilih rumah yang sudah jadi, yakni, kita akan langsung bisa tahu bentuk fisik akhir dari calon hunian kita. Jadi, kita tidak akan lagi dihantui oleh angan-angan apakah nanti calon rumah itu bagus atau nggak, sebab fisiknya secara kasat mata sudah tampak di depan mata kita. Namun, membeli rumah yang telah jadi ini tentu juga ada kekurangannya.

Antara lain, mungkin saja pada poin tertentu bagian dari rumah itu akan ada yang belum klop atau masuk dengan selera kita, mengingat sejak awal, rumah itu memang telah didesain oleh pemilik rumah terdahulu. Jadi, ya, seleranya menyesuaikan dengan keinginan dari pemilik rumah yang dahulu.

Sementara itu, kalau kita membangun rumah sendiri dari nol, manfaatnya adalah kita akan berpotensi mendapat bentuk rumah yang sesuai dengan angan-angan dan anggaran kita. Mulai dari denah rumah, pondasi, bentuk fasad, hingga pernak-pernik ornamen yang akan menghiasi rumah kita. Semuanya kemungkinan besar akan sama dengan angan-angan dan rencana kita.

Akan tetapi, jika kita memilih opsi untuk membangun rumah sendiri ini, kita harus pintar-pintar memilih pengembang yang kredibel dan kompeten di bidangnya agar tidak timbul kekecewaan di kemudian hari. Atau kalau ingin dikerjakan secara mandiri, kita harus telaten untuk mencari dan mengurus tukang beserta kulinya, menyediakan bahan baku bangunan, dan kesabaran untuk menunggu dan mengecek hasil kerja mereka selama proses pembangunan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, maka perkara mana yang lebih nyaman antara membeli rumah yang sudah jadi atau membangun sendiri, tentu saja, jawabannya akan relatif, seiring beragamanya latar belakang pada masing-masing orang.

Ada tipe orang yang tidak ingin ribet, pokoknya asal tahu beres lah. Untuk orang dengan tipe ini bisa langsung beli rumah yang telah jadi atau menyerahkan pengerjaan pembangunan sepenuhnya pada pihak kontraktor. Dan bagi mereka yang suka meyibukkan diri, maka akan lebih cocok bagi mereka untuk memilih mencari tukang dan kuli sendiri, sekaligus mengurusi mereka.

Anyway, pada ulasan saya kali ini, saya akan menuliskan beberapa pertimbangan bagi mereka yang hendak membangun rumah sendiri berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa pengalaman dari tetangga saya.

Barangkali pengalaman saya dan para tetangga saya ini akan bermanfaat bagi para sahabat pembaca Qureta tercinta, pada saat mereka hendak mewujudkan mimpi untuk memiliki rumah sendiri.

Pertama, Membangun Rumah dengan Dana Melimpah

Bagi mereka yang memiliki posisi ini, mereka tidak akan bingung untuk masalah anggaran pembangunan. Ibaratnya, mereka hanya tinggal menentukan model rumah atau memilih kontraktornya saja.

Dan biasanya, bagi mereka yang memutuskan untuk membangun rumah sendiri ini, mereka hanya akan berkonsultasi dengan para developer-nya saja dengan cara seperti ini, “Pak Developer, jika saya kepingin membangun rumah dengan model yang kayak begini, kira-kira anggarannya berapa ya?”

“Ya, kurang lebih sekian rupiah, Bu.”

“Baik, kalau begitu saya pilih model yang ini saja. Kapan kira-kira bisa dimulai Pak?”

“Minggu depan insyaallah siap Bu,”

Jadi, intinya, pada pihak yang punya dana pembangunan yang sangat longgar seperti ini cenderung akan cepat dan mudah dalam membuat keputusan pembangunan. Bagi mereka, dana yang telah mereka kantongi saat ini adalah solusi untuk mewujudkan rumah impian mereka.

Kedua, Membangun Rumah dengan Dana Pas-pasan

Bagi mereka yang memiliki dana yang cukupan, tidak terlalu banyak dan tidak kurang, maka biasanya akan sangat mempertimbangkan betul biaya untuk pembangunan. Mereka akan membuat rincian biaya yang terdiri dari, biaya pengembang atau tukang, sekaligus biaya untuk pembelian material bangunan. Biasanya, pihak yang memiliki dana yang cukupan ini akan sangat selektif dalam memilih material, khususnya material yang perbedaannya tidak terlalu signifikan.

Sebagai contohnya, untuk urusan semen, mereka bisa saja menggunakan semen merek Merah Putih dibandingkan semen berkelas lainnya, layaknya Semen Gresik atau Holcim. Untuk jenis semen-semen berkelas seperti ini, biasanya hanya akan mereka gunakan untuk bagian inti bangunan saja, misalnya untuk bagian pengecoran supaya terasa lebih kuat. Prinsip mereka sebenarnya sangat rasional, yakni, tidak masalah memakai semen Merah Putih, toh produknya sudah SNI dan sama kuatnya.

Bagaimana? Rasional bukan. Jika ada yang murah, kenapa harus cari yang mahal. Boros tauk!

Ketiga, Membangun Rumah dengan Dana Agak Kurang

Pengalaman dari para tetangga saya yang membangun dengan dana agak kurang ini, biasanya mereka akan membangun dengan visi yang realistis sesuai dengan keadaan budget mereka saat ini, sehingga mereka benar-benar mempraktikkan istilah rumah yang berkembang.

Mereka yang membangun rumah dengan dana yang agak kurang ini akan mementingkan membangun rumah sehingga tampak berdiri dulu. Meski menurut anggapan para tetangga dan orang-orang yang memandangnya, rumah tersebut belum termasuk hunian yang elok untuk dipandang mata.

Namun bagi mereka, hal itu bukanlah masalah yang cukup berarti. Dalam angan mereka, yang penting saat ini mereka sudah dapat beristirahat, melepas penat, sekaligus merasakan kemerdekaan ketika tinggal di dalamnya.

Para tetangga yang mengomentari hunian mereka yang tampak kurang elok ini biasanya dikarenakan kondisi rumah mereka saat itu belum memiliki tembok yang sudah diaci, lantai yang belum dipasangi ubin atau keramik, atap rumah yang belum diberikan plapon, atau hiasan list gypsum. Sehingga kesan mereka yang memandangnya adalah seperti rumah darurat.

Namun, seiring berjalannya waktu, rumah berkembang tersebut akan mengalami penyempurnaan pada tiap sisinya, sehingga kian lama ia akan semakin indah untuk dipandang. Terutama menjelang acara pernikahan untuk anak-anak mereka nanti.

Keempat, Membangun Rumah dengan Dana Sangat Kurang

Bagi mereka yang ingin memiliki hunian namun dananya sangat terbatas, saking terbatasnya bahkan mungkin hampir dikatakan mustahil untuk bisa memiliki rumah. Maka solusinya ada dua, yakni ikut KPR atau ikut Tapera. Melalui KPR, maka setidaknya kita akan memiliki rumah sendiri meski secara de facto kita harus mengangsur setiap bulannya pada pihak bank.

Dan sebelum kita mengambil KPR, tentu kita harus mempertimbangkan dulu secara cermat dan masak-masak antara total penghasilan kita dengan seluruh pengeluaran kita selama sebulan. Apabila kita masih punya sisa (margin) yang cukup untuk mengangsur cicilan rumah, maka bolehlah kita mengambil KPR.

Dan jika nilai margin pendapatan kita terlalu sedikit, atau bahkan nilainya minus, ya sebaiknya ikut Tapera saja. Sambil berdoa, semoga saja program pemerintah yang teramat bijak ini bisa segera terealisasi. Saya dari sini, juga akan ikut mengamini.

Kelima, Sebagai Bonus, Membangun Rumah dengan Tanpa Dana

Ya. Tentu saja saya serius untuk kiat yang kelima ini. Dan sebenarnya, untuk kiat ini sudah pernah dicontohkan oleh Om Putut EA, Kepala Suku Mojok. Setelah saya membaca tulisan dari Om Puthut, maka saya pun berkesimpulan, bahwa untuk mewujudkan keinginan memiliki rumah atau bangunan tanpa keluar modal sepeser pun dari kita, maka kita harus menyiapkan modal yang lainnya. Apa sajakah modal lainnya itu?

Modal yang perlu kita siapkan antara lain, mental baja saat meminta dana, menyusun daftar atau list para dermawan yang hendak memberikan sumbangan pembangunan, dan konsep fungsi bangunan yang harus benar-benar matang di masa yang akan datang.

Biasanya, dana akan mudah mengalir dari para donatur manakala tujuan dan fungsi dari bangunan itu sudah sangat jelas. Misalnya, bangunan itu akan digunakan untuk kegiatan sosial, untuk menampung aksi-aksi solidaritas, dan sebagainya. Dan yang pasti, jika kita sudah memilih konsep yang sudah matang itu, kita harus membayar kepercayaan dari mereka yang budiman itu dengan merealisasikan rencana penggunaan dana yang telah kita ajukan.

Jika kita benar-benar merealisasikan dana tersebut sesuai dengan proposal yang telah kita ajukan, ditambah dengan adanya transparansi penggunaan dana, maka besar kemungkinan dana-dana lainnya juga akan mengalir dengan sendirinya seiring proses pembangunan tersebut. Tapi, ya itu tadi, garansinya adalah kita harus benar-benar membayar kepercayaan dari mereka. Jangan sampai meleset sedikit pun dari apa yang pernah kita sampaikan pada mereka.

Perihal membangun rumah atau bangunan tanpa modal ini, sebenarnya sangat masuk akal, mengingat saat ini mencari kepercayaan atau amanah dari orang lain adalah sesuatu yang sangat sulit di jagat ini. 

Dan manakala kita benar-benar mampu membuktikan amanah tersebut secara konsisten, maka ibaratnya, kita bukanlah yang nantinya akan mencari dana, akan tetapi justru dana pembangunanlah yang akan datang menghampiri kita.

Itulah tadi diantara kiat memiliki rumah berdasarkan ketersediaan dana. Dan sebagai catatan penegas, tips ini adalah murni dari pengalaman pribadi saya dan tetangga saya, yang kemungkinan pelaksanaanya bisa jadi berbeda untuk kasus-kasus lainnya.