Mahasiswa
3 tahun lalu · 377 view · 3 min baca menit baca · Tips & Trick surga-neraka.jpg
foto: kabarbangsa.com

Tips Masuk Surga

Tidak ada satu pun manusia di bumi ini yang tidak ingin hidup bahagia. Kebahagiaan tersebut mencakup di dunia dan di hari kemudian. Kebahagiaan jiwa manusia oleh kebanyakan orang dinamakan dengan istilah surga.

Surga dalam konsepsi kebahagian merupakan sesuatu hal yang bersifat kejiwaan (psikologis) bukan bersifat jasmani atau fisik, sebagaimana Ibn Sina menyatakan: "Mesti engkau ketahui bahwa bagi setiap fakultas jiwa memiliki kenikmatan dan kebaikan yang dikhususkan baginya serta penderitaan dan keburukan yang dikhususkan baginya pula."

Lebih lanjut ia berkata: "Pada hakikatnya, yang mendatangkan kenikmatan dan rasa sakit itu adalah tercitrakan di dalam jiwa, bukan yang ada di luar jiwa." Untuk mengapai surga tersebut, tentu ada syarat-syarat yang harus ditunaikan oleh manusia.

Meski ada pula yang berpendapat bahwa masuk tidaknya seseorang ke dalam surga, tergantung dari hak prerogatif Tuhan, bukan amal perbuatannya. Namun demikian, menurut beberapa keterangan, surga merupakan suatu akibat bagi seseorang yang melakukan amal perbuatan positif sesuai dengan ketentuan syari'at.

Dalam al-Qur'an, setidaknya ada dua syarat bagi manusia untuk mendapatkan jalan keselamatan, yaitu beriman dan beramal. Yang dimaksud dengan beriman adalah beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan yang dimaksud dengan beramal adalah beramal soleh.

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi'in, jika beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan beramal shaleh, maka bagi mereka itu pahala dari Tuhannya, dan baginya tidak ada ketakutan, dan baginya tiada kesedihan."

Lantas, apa hubungannya antara iman kepada Allah dan amal soleh? Beriman kepada Allah disebut tauhid. Dan dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, tauhid adalah suatu sistem kepercayaan yang mampu bertahan dan bersahabat dimanapun dan kapanpun.

Tauhid itu suatu sistem kepercayaan yang berkesesuaian dengan fitrah kemanusiaan. Allah adalah Kebenaran Absolut (al-Haq al-Mutlaq) yang dengan-Nya segala sesuatu itu ada. Dialah asal-muasal segala sesuatu yang ada dan muara terakhir dari akhir pergerakan sesuatu itu.

Karena Allah adalah Kebenaran Absolut, maka segala apapun yang menjadi perintah dan larangannya adalah kebenaran pula. Saat Allah memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, maka hal tersebut adalah perbuatan yang benar. Saat Allah melarang menyakiti anak yatim, maka hal itu pun merupakan perbuatan yang benar pula.

Segala bentuk perintah dan larangan yang keluar dari Allah, maka hal tersebut adalah perbuatan yang benar. Dan perbuatan yang benar itu disebut amal soleh. Amal saleh adalah perbuatan yang berkesesuaian dengan fitrah manusia.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk baik yang selalu ingin melakukan perbuatan baik pula. Jadi, pada hakikatnya, perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia adalah perbuatan yang berkesesuaian dengan Kebenaran Mutlaq. Kebenaran Mutlaq dan amal saleh adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Saat manusia berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah Kebenaran Mutlaq, maka dalam aktualisasi kesehariannya ia akan selalu melakukan perbuatan yang benar (amal saleh). Perbuatan yang didasarkan atas keinginan ego (hawa nafsu) maka hal itu adalah perbuatan yang salah.

Ego manusia selalu menginginkan sesuatu yang tak terbatas dan berlebihan. Maka dengan hal itu, ego manusia pada dasarnya menyeretnya kepada hal yang mubadzir dan tak bermanfaat, dan hal itu tidaklah dibenarkan. Tauhid dan amal saleh selalu berjalan beriringan, senada, dan seirama.

Amal saleh selalu menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Amal saleh mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan bagi kehidupan sekitarnya. Kunci keselamatan dari kehidupan ini adalah saat manunia bertauhid dan beramal saleh.

Beriman kepada Allah dan beramal saleh adalah dua hal yang harus dipegang teguh oleh manusia. Tiada orang mengaku bertauhid, akan tetapi dalam amal perbuatannya didasarkan atas hawa nafsunya. Jadi sangatlah jelas bahwa beriman kepada Allah serta Hari Akhir, dan beramal saleh adalah kunci sukses kehidupan ini menuju kesempurnaan jiwa.

Jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) itu adalah suatu kondisi di mana jiwa manusia tidak lagi merasakan keadaan takut dan sedih. Kesempurnaan jiwa akan didapatkan ketika manusia selalu melakukan amal kebaikan. Dan amal kebaikan itu adalah pancaran dari Allah, Sang Kebenaran Mutlaq.

Maka, tugas hidup manusia yang baik benar untuk menggapai kebagahiaan dan masuk ke dalam surgaNya adalah bertauhid dan beramal soleh. Dan itu berkesesuaian dengan fitrah asalnya sebagai manusia yang hanief.

Artikel Terkait