Pernah tiba-tiba ditinggal? atau malah pernah diam-diam meninggalkan?

Seringkali saat seseorang tiba-tiba menjauhi kita atau tidak membalas pesan, kita pasti bertanya-tanya mengapa atau apa yang telah kita ucapkan atau kita lakukan sehingga mereka menghindar. 

Pada dasarnya, benar-benar menghilang dari kehidupan orang lain tanpa mengatakan apa pun kepada mereka atau memberi tahu mereka tentang akhir interaksi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Di akhir tahun 2020 fenomena ini marak diucapkan dengan istilah ghosting.

Ghosting membuat orang tersebut tidak yakin tentang apa yang telah terjadi dan apakah hubungan telah berakhir atau tidak, membuat dia merasa tidak nyaman dan menghasilkan rasa sakit yang lebih lama. 

Meskipun fenomena ghosting tampak seperti sesuatu yang baru, sebenarnya tidak. Mungkin kasusnya meningkat karena teknologi baru, tetapi Zygmunt Bauman sudah membicarakan tentang hal ini di tahun 2003.

Meskipun ide untuk mengakhiri sebuah hubungan dengan memutuskan kontak kemungkinan besar sudah ada sejak lama, saat ini bentuk-bentuk teknologi membuat ghosting menjadi pemutusan hubungan yang lebih menonjol. 

Kemudahan dalam bermedia sosiallah yang dapat meningkatkan frekuensi ghosting tanpa mempertimbangkan kemungkinan konsekuensi hilir.

Dikutip dari situs Elle Amerika Serikat, dari sebuah survei ditemukan 33 persen pria dan 26 persen wanita pernah menjadi pelaku kan korban ghosting. Sementara itu, 17 persen pria dan 24 persen wanita mengaku sebagai pelaku ghosting tetapi tidak pernah di-ghosting

Beberapa orang dapat menerima perlakuan ghosting yang diberikan kepadanya, sedang yang lainnya tidak. Dukungan ghosting sebagai praktik pemutusan hubungan cukup rendah (yaitu, 18,9–38,6%) hal itu menunjukkan bahwa ghosting sebagai hal yang kurang dapat diterima.

Saat saya menanyai teman, dia mengatakan bahwa memang seperti itulah hidup, jika tidak ditinggalkan ya meninggalkan. Anggap saja itu semua takdir dan ambil pelajaran darinya. 

Jadi, keyakinan akan takdir dikaitkan dengan persepsi yang lebih positif terhadap ghosting sebagai cara yang untuk mengakhiri hubungan karena ia berprinsip bahwa dunia ini hanya persinggahan saja, kecil kemungkinannya untuk berpikir buruk mengenai ghoster.

Lalu apa yang mungkin menjadikan seseorang melakukan ghosting? Bisa saja karena dulunya ia pernah mengalami hal serupa, dan membalaskannya ke orang lain. Mungkin juga sedang mood swing/badmood, karena umumnya orang yang suasana hatinya sedang buruk tidak ingin diganggu, cenderung marah jika diajak berkomunikasi, dan menjauhi interaksi.

Seseorang melakukan ghosting pada pasangannya karena beberapa hal. Seperti perasaan cinta sesaat yang hanya main-main atau bahkan bahan pelarian. Merasa tidak percaya diri, dan masih belum siap dengan komitmen. 

Selain itu, penyebab ghosting juga bisa karena seseorang tidak ingin mendapat kekangan dari seseorang, mungkin ia merasa bosan karena sudah tidak menemukan keserasian, dan paling menyakitkan adalah berpaling ke lain hati. 

Dalam sebuah hubungan, di-ghosting adalah cara tepat menyadarkan diri sendiri bahwa berharap dengan sesuatu yang belum pasti sangatlah bodoh dan hanya membuang waktu.

Tak hanya dalam hubungan asmara saja, dalam hubungan pertemanan juga acap kali ditemukan fenomena ghosting, biasanya hal ini disebabkan salah satu dari mereka mempunyai prioritas yang harus segela diselesaikan, kepentingan mendesak, dan bisa saja ia membutuhkan me time. Jadi jika kamu salah satu dari korban ghoster, maka jangan berburuk sangka terlebih dahulu.

Namun di balik semua itu, tolong jangan menjadikan ghosting sebagai cara "mengakhiri" hubungan, karena mereka tampak seperti elipsis yang membuat orang lain sedih, tidak nyaman dan merasa diabaikan. Dan seringkali orang yang ditinggalkan cenderung menyalahkan diri sendiri pada posisi ini

Menurut survei yang sudah pernah diadakan, ghosting merupakan upaya terburuk dalam mengakhiri sebuah hubungan. Entah itu hubungan asmara atau hubungan pertemanan, pilihan ghosting justru dapat memicu konflik yang lebih besar di kemudian hari. 

Misalnya saja saat tidak sengaja bertemu di suatu event, mereka akan kucing-kucing (saling menghindar satu sama lain). Apabila hal itu terjadi di ruang lingkup pekerjaan, dikhawatirkan kurangnya sikap professional.

Beberapa pelaku ghosting dari survei yang pernah dilakukan juga mengaku merasa bersalah di kemudian hari. Merasa menjadi pengecut karena tidak dapat menyelesaikan masalah. Namun justru membuat rasa sakit seseorang yang di-ghosting sulit hilang yang akhirnya bisa menimbulkan trauma dan takut menjalani hubungan baru.

Oleh sebab itu, jika ada tanda-tanda kalau kamu akan atau mungkin sudah di-ghosting, kamu dapat mengirim teks yang mengatakan "Aku senang mengenalmu dan berharap kamu baik-baik saja", bisa juga "Jika kamu tidak tertarik dengan interaksi ini atau membutuhkan ruang, kamu hanya perlu mengomunikasikannya denganku agar aku dapat menghormatinya".

Ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan jika kamu sedang berada pada situasi di-ghosting. Pertama, kamu tidak perlu menyerang atau menuduh mereka. Menyerang siapa pun hanya memicu serangan balik bahkan ketika mereka 'memulainya' dengan mengabaikanmu. 

Kedua, kamu tidak pernah tahu apa yang sedang dihadapi atau dialami oleh seseorang dan kamu ingin mengekspresikan diri dengan cara yang akan memastikan dirimu tetap setia pada karaktermu yang tenang lalu dapat pergi dengan perasaan bangga pada diri sendiri.

Ketiga, kamu perlu ingat bahwa kamu berkomunikasi atas namamu sendiri. Ini bukan tentang memohon agar mereka menjawabmu. Ini tentang mengungkapkan perasaan dan pikiran terakhir serta menetapkan batasan yang jelas bagi diri sendiri untuk melangkah maju. 

Keempat, ekspresikan semua yang diperlukan, agar saat semua telah selesai, kamu dapat pergi dengan pikiran dan hati yang jernih. 

Kelima, once again! Jangan melakukan perbuatan yang kamu saja akan kecewa jika seseorang memperlakukanmu seperti itu.

Always be positive and just let it flow.