Berbicara adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia, kecuali untuk orang-orang tertentu yang Tuhan takdirkan tidak dapat berbicara (tunawicara). Karenanya, banyak yang menganggap berbicara itu bukan sebuah keterampilan, sehingga tidak merasa harus mempelajari bagaimana cara berbicara yang benar.

Padahal untuk bidang pekerjaan tertentu, berbicara merupakan modal utama. Gagal dalam berbicara akan membuat gagal juga pekerjaannya, atau setidaknya hasilnya tidak maksimal. Sebutlah untuk contoh pekerjaan yang mengandalkan kemampuan berbicara: salesman, trainer, motivator, negosiator, khotib, penceremah, dan lain-lain.

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang disebutkan tadi, kemampuan berbicara harus dilatih atau dipelajari sehingga mampu berbicara secara efektif. Kenapa? Karena dengan berbicara efektif, pengaruh yang diinginkan oleh si pembicara terjadi pada si pendengar, akan terjadi secara maksimal. Kata anak muda sekarang ‘bicaranya ngefek’.

Lalu, bagaimana caranya supaya bisa bicara secara efektif?

Berikut langkah-langkah praktis yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berbicara efektif. Saya akan menggunakan Teknik 5W1H atau Why, Whom, Where, When, What dan How.

Why atau Mengapa Harus Berbicara?

Saat kita akan berbicara, pertamakali yang harus ditetapkan adalah apa tujuan kita berbicara. Ajukanlah pertanyaan pada diri kita sendiri, ‘Mengapa saya harus berbicara?’ jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan materi atau bahan apa yang sesuai.

Misalnya, saya harus berbicara karena produk saya ingin laku. Atau, saya harus berbicara supaya program (proposal) saya bisa diterima.

Whom atau Siapa Pendengar?

Tujuan berbicara tentu ingin mempengaruhi pendengar. Setelah menentukan materi atau bahan yang akan dibicarakan, berikutnya harus mengetahui secara sepesifik, siapa pendengar kita, siapa yang akan kita pengaruhi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan pendengar:

  • Berapa banyak orang yang hadir atau yang akan mendengarkan?
  • Apa alasan mereka hadir? Apa yang mereka harapkan atau inginkan?
  • Bagaimana tingkat pengetahuan yang pendengar miliki atas topik yang akan dibicarakan?
  • Bagaimana bauran usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin dari pendengar?

Where atau Di mana Pembicaraan akan Dilakukan?

Penting bagi seorang pembicara untuk mengetahui tempat yang akan digunakan untuk berbicara. Pertama, tempat yang dimaksud apakah itu di kampus, di lapangan terbuka, di pasar, atau di daerah Sunda, Jawa, Padang, atau Bugis.

Kedua, kalau sudah mengetahui lokasinya, berikutnya yang harus dilakukan adalah:

  • Melakukan gladi resik, maksudnya dengan mendatangi lokasi yang ditentukan di H-1 atau sebelum para pendengar mendatangi/memasuki lokasi tersebut, kemudian mencoba berbicara di tempat yang nanti akan digunakan (mencoba suara). Dengan demikian, akan diketahui seberapa keras kita harus berbicara.
  • Mengecek fasilitas yang disediakan, baik itu sound system, infokus, lampu-lampu, dan lain sebagainya.
  • Meneliti kemungkinan gangguan yang akan timbul. Hal ini perlu juga diperhatikan, supaya kita bisa mempersiapkan antisipasinya. Misalkan tempat kita berbicara berada di dekat rel kereta api, saat kereta lewat tentu suaranya akan mengganggu. Kalau sebelumnya kita mengetahui jadwal kereta lewat, kita bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi gangguan tersebut.
  • Tata letak tempat duduk. Ini tentu bisa kita, sebagai pembicara yang menentukan, bisa juga ditentukan oleh penyelenggara, atau tempatnya memang sudah fix. Hal-hal tersebut harus diperhatikan sebelumnya.

When atau Kapan akan Dilakukan Pembicaraan?

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk berbicara, atau di waktu kapan pembicaraan dilakukan, itu juga harus menjadi perhatian. Dalam hal ini, manajemen waktu diperlukan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan waktu, di antaranya adalah:

  • Waktu pelaksanaan. Kapan akan dilaksanakan, apakah siang hari setelah makan siang? atau pagi hari? Atau dilaksanakan di malam hari?
  • Berapa lama alokasi waktu yang digunakan. Pembicara harus mampu mengatur antara berbicara dengan memberi kesempatan pendengar untuk rehat (coffe break). Pembicara harus juga mampu mengatur berapa lama melakukan pembukaan, perkenalan dan lain-lain sebelum ke topik utama. Perlu diperhatikan juga alokasi waktu untuk tanya jawab atau diskusi.

What atau Apa yang Akan Dibicarakan?

Ini terkait dengan topik yang akan dibicarakan. Setelah menetapkan topik yang akan dibicarakan, berikutnya adalah mempersiapkan bahan atau materi berikut referensi yang diperlukan.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan terkait dengan bahan atau materi pembicaraan,

  • Susunlah pokok-pokok pembicaraan. Mana yang akan disampaikan 15 menit pertama, mana yang pokok atau penting untuk disampaikan dan diterima oleh pendengar, mana pula yang dipersiapkan untuk menutup pembicaraan (closing statement).
  • Gunakan ilustrasi. Salah satu yang dapat membantu efektivitas penerimaan oleh pendengar adalah adanya ilustrasi yang menjelaskan sesuatu yang dibicarakan. Ilustrasi di sini dapat berupa contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari, bisa berupa gambar, foto atau animasi sehingga ada unsur hiburan, maupun berbentuk praktek dengan melibatkan pendengar.
  • Membuka dan menutup pembicaraan. Saat membuka, gunakan kalimat atau sampaikan sesuatu yang membuat pendengar penasaran, sehingga merasa perlu mendengarkan sampai akhir. Saat menutup, pembicara harus dapat menyampaikan kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan. Kesimpulan yang tidak lagi mengundang tanda tanya, kecuali topik yang disampaikan memang akan dilakukan dalam beberapa kali pembicaraan.
  • Membuat catatan-catatan pokok apa yang akan dibicarakan. Catatan ini berguna supaya pembicaraan kita tetap fokus pada apa yang ingin disampaikan, tanpa ada yang terlewat. Catatan bisa disimpan di kertas kecil, di buku atau di gadget.

How atau Bagaimana Teknik Penyampaian?

Memang dalam berbicara, penggunaan kata lah yang dominan. Namun, untuk memperbesar tingkat penerimaan oleh pendengar, penggunaan nonkata pun sangat diperlukan.

Menurut penelitian yang dilakukan Abert Menrabhain, persentase kontribusi penggunaan kata dan nonkata adalah sebagai berikut:

  • 7% penggunaan kata,
  • 38% penggunaan nada dan suara, dan
  • 55% penggunaan ekspresi muka, bahasa tubuh, dan gerakan tubuh.

Penggunaan kata

Pilih kata yang sesuai dengan pendengar, terutama dalam menggunakan istilah-istilah. Karena penggunaan kata yang tidak tepat akan menimbulkan salam pemahaman.

Penggunaan nada dan suara

Contoh yang tepat bagaimana penggunaan nada dan suara saat berbicara, diperlihatkan oleh para pembawa berita di TV-TV. Coba saja perhatikan. Berita yang disampaikan menjadi menarik, karena mereka juga menggunakan:

  • Ekspresi wajah dan intonasi yang tepat,
  • Waktu jeda supaya pendengar dapat menerima, dengan diam sejenak,
  • Suara yang jelas dan teratur,
  • Volume suara diatur secukup mungkin.

Bahasa tubuh

Penggunaan nonkata sangat berpengaruh juga dalam keberhasilan menyampaikan isi pembicaraan. Bahkan, dalam beberapa kasus, keberhasilan pembicaraan justru dipengaruhi faktor nonkata, seperti: gestur tubuh, gerakan tangan, kontak mata, cara berdiri atau ekspresi muka.

Dengan memperhatikan semua yang dijelaskan di atas, diharapkan pembicaraan yang dilakukan menjadi efektif, dan tujuan tercapai.