Jakarta - Pulang kampung merupakan tradisi masyarakat Indonesia terkhusus bagi orang perantau di Ibu Kota. Seperti pulang kampung dari Jakarta menuju Surabaya, Jakarta menuju Palembang, Jakarta menuju Medan dan sebaliknya menuju kota-kota tujuan lainnya, sesuai dengan asal kotanya masing-masing. Biasanya di hari-hari tertentu yang paling dominan waktu lebaran Idul Fitri maupun lebaran Idul Adha.

Namun berbeda dengan tahun 2021, masyarakat tidak diperbolehkan mudik atau pulang kampung dikarenakan lunjakan virus corona semakin menjadi-jadi. Sehingga pemerintah memberikan kebijakan untuk tidak mudik ke kampung halamannya masing-masing. Menyimpan rasa rindu kepada sanak sauadara untuk kumpul bersama, canda tawa dan lepas beban penat menjadi refresh otak dan pikiran untuk selalu bersama dan kondisi tidak menentu.

Pulang kampung untuk perantau, tidak hanya saat lebaran saja namun bisa dalam kondisi keluarga yang sedang hajatan, khitanan dan persedakahan. Sisi lain yang lebih penting apabila keadaan orang tua dan keluarga sedang sakit bahkan lebih darurat lagi sanak saudara meninggal dunia. Ini alasan yang membuat perantau tetap berusaha harus pulang kampung dengan kondisi diatas, menjadi resiko terbesar pagi perantau bila tidak bisa pulang kampung dan tidak bisa melihat keluarga yang berduka.

Dengan demikian dalam kondisi mudik, perlu juga kita membuat perencanaan sebelumnya baik dalam keadaan darurat atau memang sengaja akan pulang kampung halaman. Sehingga pulang kampung lebih siap dalam menghadapi situasi yang tidak menentu seperti kemanan di jalan, peraturan protokol kesehatan, penggunaan transportasi untuk mudik, pengeluaran atau biaya yang akan dipergunakan untuk pulang kampung dan lain sebagainya.

Selanjutnya saya akan menguraikan proses aman saat melaksanakan pulang kampung ditengah pandemi Covid-19. Hal ini berdasarkan banyak refrensi, pengalaman dan analisa yang detail dan mendalam berikut penjelasannya "Tips Aman Pulang Kampung".

#1. Syarat Prokes Covid-19 :

Di tengah pandemi Covid-19 perjalanan jauh baik dinas untuk pekerjaan, pulang kampung dan tempat wisata. Perlu melengkapi persyaratan protokol kesehatan seperti menunjukan hasil PCR atau Swab antigen, sudah melaksanakan vaksinasi dan syarat lainnya. Ini menjadi kewajiban yang harus dilengkapi saat perjalan jauh menggunakan transportasi darat, laut dan udara.

Syarat prokes ini diberlakukan selama PPKM berlangsung atas dasar kebijakan pemerintah karena untuk menurunkan angka penularan Covid-19. Seperti kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia mengalami dampak Covid-19 baik dari ekonomi, sosial maupun dampak lainnya. Sehingga pemerintah perlu memberikan bantuan kepada masyarakat Indonesia baik secara materi maupun sembako serta bantuan lainnya.

#2. Kondisi Kendaraan :

Study kasusnya lebih kepada transportasi pribadi yang akan dipergunakan saat pulang kampung. Ini menjadi bagian penting melakukan pengecekan atau service kendaraan seperti ban kendaraan, aki kendaraan, power storing, balancing, dan lain sebagainya. Keselamatan di jalan menjadi tanggung jawab pribadi untuk tetap memperhatikan keamanan saat berkendara.

Baik dari sisi keamanan dan keselamatan yang menjadi perhatian adalah saat kendaraan melaju "lambat dan cepat" merupakan tolok ukur untuk menciptakan rasa aman dalam kendaraan dan tentunya sampai tujuan dengan selamat. Rata-rata kecepatan kendaraan diatur dan diimbangi pengemudi sendiri dengan sadar untuk mengatur keadaan dan situasi ngantuk atau tidak.

#3. Menguasai Jalur Jalan :

Memilih menggunakan transportasi darat, tentu sudah memikirkan jalur kendaraan atau lintasan kendaraan yang akan ditempuh. Kerawanan di jalan pasti diperhitungan dengan matang baik dari jarak tempuh, kondisi jalan, tindakan kriminal, atau resiko kejadian liannya. Memang sering kita jumpai dan pikirkan tentang lamanya di jalan, tempat-tempat rawan, dan lain sebagainya.

Ada alternatif yang bisa ditempuh diantaranya menghindari perjalanan malam, mempersiapkan sopir atau pengemudi cadangan sehingga bisa lebih aman dari ancaman dan gangguan serta keselamatan di jalan. Hal seperti ini jangan dianggap gampang karena hampir rata-rata pengemudi transportasi pribadi biasanya memikirkan jalur lalu lintas karena dengan niat dan nekad, terpaksa akan menghadapi hal-hal tidak diinginkan bisa terjadi.

#4. Analisa Biaya :

Sebelum tercipta rasa aman dan nyaman hingga lebih fokus terhadap keselamatan. Memang harus memperkirakan biaya perjalanan yang akan dipergunakan pulang kampung seperti bensin, tol, biaya makan, oleh-oleh, memberi uang kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya. Perlu juga menganalisa sebagai dana taktis atau biaya keadaan darurat baik biaya jalan-jalan bersama keluarga, ada kekuarga yang sakit, kebutuhan keluarga yang memerlukan uang dengan kepentingan darurat lainnya.

Lebih peduli terhadap biaya artinya anda bisa lebih optimis dan semangat lagi dalam melakukan perjalanan pulang kampung. Karena kejadian yang dijumpai tentu belum dikatahui bersama-sama, melainkan memikirkan sebagai langkah antisipasi menghadapi situasi yang tidak menentu. Hal ini bisa membuat anda lebih tenang dan nyaman baik dari pikiran maupun tindakan yang di perbuatkan seperti sedang di jalan, bertemu dengan keluarga, berjumpa dengan sahabat kecil dan lain sebagainya.

Yang perlu diantisipasi untuk mencari informasi dari keluarga atau saudara di kampung, saat tiba kampung apakah mengikuti isolasi mandiri atau di tempatkan terpisah sebelum bertemu dengan keluarga atau sanak suadara lainnya. Sehingga bisa lebih efektif dan efisien selama berada di kampung, lebih khwatir lagi tidak ada persiapan waktu hanya terbuang untuk melaksanakan isolasi mandiri sebelum berkumpul dengan keluarga.