Agama di atas Sains

Meyakini bahwa Agama berposisi di atas Sains. Baginya, agama merupakan ciptaan Tuhan yang membawahi sains. Seluruh kehidupan bersumber dari agama. Agama mengatur segala hal. Dipercayai bahwa sebelum pada akhirnya sains dapat dibuktikan melalui uji eksperimen dan lain sebagainya, semua kisi-kisi sains berasal dari  sumber materiil agama.

Pun, sekelas teknologi mutakhir diyakini berasal dari agama. Sehingga, manusia bukanlah penemu atas sains tetapi manusia adalah penggali sains yang disediakan oleh nilai-norma agama. Sains dipercayai sebagai hasil penelusuran atas teks-teks keagamaan yang telah diwariskan berabad-abad silam.

Seperti kisah Nabi Adam AS yang disangsikan oleh Malaikat. Dalam kisah, Malaikat berkata: “Wahai Adam, beri tahu kami nama-nama, jika memang engkau termasuk golongan orang yang jujur”. 

Lalu Nabi Adam menyebutkan nama-nama tumbuhan (sains) atas izin Tuhan. Oleh sebab itu, sains adalah karunia Tuhan. Ketuhanan adalah zat maha trasendental yang berkaitan dengan ketauhidan. Dan Tauhid, adalah unsur paling inti dalam sebuah agama.

Cerita yang lain terjadi pada masa Nabi Musa AS. Terdapat salah satu umat Bani Israil mengalami sakit perut. Lalu meminta Nabi Musa untuk 'berbicara' kepada Tuhan. Sebab, Nabi Musa adalah seorang Nabi yang dapat berbicara dengan Tuhan. Obat apa yang mujarab untuk mengobati sakit perut?. 

Lalu, Tuhan memberi wahyu bahwa terdapat tanaman semak belukar yang hidup di bibir sungai. Lantas orang yang sakit mengambil tumbuhan tersebut sebagai obat dan kemudian sembuh.

Pada hari yang lain, terdapat orang yang sakit perut dan langsung memakan tumbuhan namun tidak sembuh. Orang sakit itu protes kepada Nabi Musa, “Mengapa sakit perutku tidak sembuh Wahai Nabi?”

Nabi Musa kemudian mengadu kepada Tuhan. Tuhan berfirman,

“Itu disebabkan engkau kemarin meminta pertolonganku terlebih dulu,sehingga aku menyembuhkanmu melalui perantara daun tumbuhan itu, tetapi sekarang kamu meyakini bahwa daun tumbuhan itu akan menyembuhkanmu bukan atas kehendak perantara-Ku, Zat Maha Penyembuh.”

Cerita di atas sama-sama memberi hikmah bahwa do'a kepada Tuhan harus diutamakan terlebih dahulu (agama) lalu mencari obat sebagai media perantara Tuhan menyembuhkan (sains).

Seringnya, pendapat  ini dianggap sebagai hasil cocoklogi antara agama dan sains. Kebenaran sains terlebih dahulu melalui kebenaran agama. Keberadaan obat-obat yang dipercaya bersumber dari sunnah Nabi Muhammad diimani sebagai  bukti nyata. Kurma, Madu, habbatussauda, dijuluki obat sunnah.

Kemudian, sains membuktikan bahwa kurma jika dimakan berjumlah ganjil menghasilkan kesehatan dan dimakan genap akan menghasilkan penyakit. Teori ini dipercaya sudah disampaikan Nabi Muhammad jauh-jauh hari sebelum akhirnya dibuktikan oleh sains. Dan sampai sekarang banyak orang percaya bahwa obat-obat itu adalah obat untuk segala penyakit (termasuk untuk pandemi).

Pada akhirnya, seolah dalam pandangan ini melahirkan ungkapan: “semakin relegius seseorang maka semakin pintar dia” kebalikan dari “semakin relegius seseorang maka ia semakin bodoh”.

Agama berdampingan dengan Sains

Studi agama dan sains sudah dipelopori sejak zaman  Friedrich Max Müller melalui karyanya Introduction to the Science of Religion (1873). Saat ini, terdapat teori agama dan sains saling berdampingan. Yakni teori Dialog dan teori Intergrasi. 

Menguasai dan mengetahui agama saja tanpa menguasai sains berarti tidak menguasai apa-apa. Begitupun sebaliknya. Ungkapan yang terkenal ialah; “He who knows one, knows none.

Baik sains dan agama tidak berada pada satu sisi berbeda, melainkan satu kesatuan. Terjalin dan saling mengisi satu sama lain bagi kehidupan manusia. Faham agama dan sains saling berdampingan punya pengikutnya sendiri. Kaum akademisi berlomba merumuskan konsep agama dan sains tanpa dikotomi.

Melalui teori dialog, agama dan sains 'didudukan' untuk saling berkomunikasi. Diklaim, baik agama maupun sains saling membutuhkan antar satu sama lain.

Dengan teori integrasi, agama dan sains sama-sama memiliki status sebagai kebenaran yang equal. Kedua-duanya dianggap valid dan tidak saling falsifikasi. Agama berdampingan dengan sains dinilai sebuah prestise kaum akademisi. Agama dan sains mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri.

Pada praktiknya, agama dan sains berdampingan pada ranah disiplin ilmu sosial. 

Agama dan Sains tidak berhubungan

Pada satu level paling ekstrim difaham ini ialah; agama dan sains mengalami konflik. Kedua hal itu mempunyai prinsipnya masing-masing yang tidak bisa diintergrasikan ataupun didialogkan. Sebagai contoh karya Charles Darwin’s Origin of Species (1859) yang telah mengguncang dunia dengan teori evolusi. Dinilai sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. 

Agamawan percaya bahwa Nabi Adam As adalah manusia pertama yang diciptakan dari tanah berikutnya Nabi Isa AS yang lahir tanpa Ayah sebab juga diciptakan dari tanah. Saintis melalui hasil penelitiannya menemukan bahwa manusia adalah hasil evolusi. 

Agamawan sangat percaya bahwa semua kebenaran milik Tuhan semata. Baik yang nyata maupun ghaib. Saintis sangat mengandalkan rasionalitas sehingga banyak hal dapat dijelaskan secara logis. Sedangkan hal-hal berbau mistis ataupun mitos dianggap irrasional paling bagus biasanya dianggap sebagai next science.

Agama adalah jalan terbaik meraih ilmu pengetahuan yang dikaruniakan tuhan kepada manusia. Sains adalah jalan terbaik meraih ilmu pengetahuan dalam kehidupan.

Sekarang, anda yang memilih.