Dengan situasi yang masih pandemi ini, kebanyakan sekolah masih melaksanakan pembelajaran secara daring. Hal ini masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sebagian orang tua keberatan dengan berbagai argumen. 

Sebetulnya guru juga tidak menginginkan kondisi tersebut. Dalam hal ini guru tentu berbeda-beda dalam menyikapinya, tergantung mana yang dirasa nyaman digunakan serta sesuai dengan passion masing-masing. Berikut ini beberapa tipe-guru saat menjalani pembelajaran daring.

Mungkin banyak keluhan-keluhan dari siswa maupun wali murid selama pembelajaran daring ini. Salah satunya menyoroti guru mapelnya. Bagi guru yang bersangkutan ini juga menjadi tantangan tersendiri karena berubahnya metode pengajaran dari tatap muka menjadi via jarak jauh. Ada yang disenangi siswa

Titip tugas ke wali kelas

Adakalanya guru yang memanfaatkan keberadaan wali kelas untuk nitip tugas, materi ataupun absensi. “Pak, nitip materi pembelajaran hari ini, ya”, kemudian dijawab “Oke, Bu” atau cuma pakai emote jempol. Sang wali kelas lalu nge-share ke grup kelas. 

Cara pengumpulan tugas pun bervariasi; mulai dari kirim ke WA, melalui email ataupun ditulis di kertas/buku kemudian dikumpulkan di meja guru.

Misalnya tugas yang sudah dikerjakan bisa difoto (tentunya sudah diberi nama & kelas), kemudian dikirim ke guru yang bersangkutan. Kebanyakan ini guru yang punya kelihaian dalam melihat peluang yang efektif, efisien dan tidak ribet. Kalau ada yang mudah, kenapa dibuat susah.

Memanfaatkan media "sejuta umat"

Mungkin paling banyak guru yang bertipe ini dengan menjamurnya berbagai media belajar online. Guru golongan ini nggak ingin yang neko-neko. Yang penting pembelajaran bisa dilaksanakan, materi-tugas tersampaikan, hasil pekerjaan siswa bisa dikoreksi. 

Misal untuk membuat kelas online banyak yang memakai Googleclassroom. Untuk media pembuatan tugas, sudah banyak yang memanfaatkan Quizizz dan Googleform.

Kedua aplikasi ini bisa disisipkan di Googleclassroom sehingga lebih praktis. Selain itu juga ada Schoology, Kipin dan sebagainya. Untuk aplikasi video call mungkin paling banyak memakai aplikasi Zoom karena juga banyak dimanfaatkan untuk rapat virtual.

Kreatif Memanfaatkan Teknologi

https://cdn-2.tstatic.net/jogja/foto/bank/images/ilustrasi-youtubers-ist.jpg

Sumber foto: Tribunnews.com

Untuk guru tipe ini biasanya yang masih muda, fresh, milenial dan melek teknologi. Tentu banyak juga guru senior yang masuk golongan ini. Selain masih memakai media dan aplikasi sejuta umat di atas, guru-guru ini juga berinovasi agar kegiatan pembelajaran semakin menarik. Misalnya yang bisa edit video, bisa membuat video pembelajaran.

Saat ini banyak guru memanfaatkan youtube untuk meng-upload materinya. Siswa diminta untuk membuka channel youtube guru. Tidak lupa mengingatkan untuk like, subscribe, komen dan share, hehe. Tidak mengherankan jika sekarang banyak guru yang menjadi youtuber dadakan gara-gara ini.

Video pembelajaran semakin menarik karena sekarang bisa menampilkan guru ketika menjelaskan. Lumayan, wajahnya bisa dilihat seantero jagat. Ada juga yang memanfaatkan Zoom jadi bisa langsung berinteraksi dengan siswa dengan membuat ID Meeting.

Tapi, tentu akan memakan kuota yang cukup menguras. Cocoknya sih, diterapkan pada sekolah yang siswanya termasuk golongan ekonomi menengah ke atas karena kuota saat ini sangat berharga. Ingatlah pepatah: harta, tahta, dan kuota.

Wali kelas yang siap siaga

Sudah menjadi rahasia umum jika wali kelas  punya tugas berat untuk mengawal anak-anaknya dan menjadi penghubung antara sekolah dengan siswa. Tugas semakin bertambah ketika memasuki musim pembelajaran online kali ini. Contohnya siap-siap jika ada guru yang nitip tugas.

Kadang ada juga siswa yang mengeluh setiap kali walikelas nge-share, sehingga harus siap dengan segala keluh kesah mereka. "Lah, tugas lagi. Pusiingg...", "Tugas teroosss..", "Tugas Bu **** yang minggu kemarin aja belum dikerjakan, Pak", "Kapan masuk sekolah, Pak?" Macam-macam lah keluhan mereka.

Yang agak nelangsa itu wali kelas siswa baru. Bagimana tidak, mengkoordinir siswa yang baru sekali dua kali dilihat bahkan ada yang belum pernah terlihat batang hidungnya karena masih pandemi mereka tidak ke sekolah. Jelas ini menjadi tantangan.

Selama pembelajaran daring, wali kelas juga senantiasa untuk selalu mengingatkan kelasnya untuk mengerjakan tugas dan absensi. Malah, saya punya teman guru sekaligus wali kelas yang tiap pagi punya agenda rutin japri satu per satu siswa kelasnya. 

Jika ada yang tidak merespon, langsung telepon orangtuanya. Katanya, "Tiap pagi berasa jadi alarm ngingetin anak-anak". Sungguh, wali kelas yang berdedikasi.

Sambil ikut webinar plus berburu sertifikat

 Sumber foto: Galuh.id

Sambil memantau siswa dalam pembelajaran daring, banyak juga guru yang begitu giat mengikuti webinar maupun pelatihan salah satunya karena menyediakan e-sertifikat baik yang gratis maupun berbayar. Apalagi jika dilengkapi dengan administrasi lengkap seperti surat undangan, absensi, file materi dan laporan kegiatan. Wah, mantap sekali. Sertifikat ini bagi guru PNS tentu akan berharga karena ada poinnya.

Ya, memang kecil sih kalo untuk sekelas webinar. Tapi kalo umpama punya 15 sertifikat, kan lumayan juga dengan hanya modal 4 D; duduk, diam, dengar, dapat (sertifikat), hehe

Kalau pelatihan atau diklat tentu poinnya lebih banyak, apalagi dilakukan secara daring juga, tidak perlu ke kota tempat pelaksanaan dan bisa hemat waktu dan pengeluaran. Sertifikat ini tentu berguna jika nanti mau mengajukan kenaikan pangkat.

Karakteristik guru dalam menyikapi pembelajaran daring ini juga dipengaruhi oleh sistem yang berjalan di masing-masing sekolah. Yang pasti kita harus menghargai usaha guru. Bagaimanapun mereka sudah berusaha sebaik mungkin agar siswa bisa mendapatkan ilmu dan materi meskipun terpisah oleh jarak.