Dalam sebuah wawancara dengan Ernest Prakasa di podcast-nya, Bintang Emon kurang lebih mengatakan sangat hati-hati dalam mengunggah video dan berkomentar apa saja. Khususnya di video-video DPO (Dewan Perwakilan Omel-Omel), Bintang Emon menghindari pembahasan yang agak sensitif. Istilahnya cari aman.

Namun, entah dapat kekuatan magis dari mana, tiba-tiba komika bernama asli Gusti Bintang itu membuat video yang isinya komentar terkait kasus yang menimpa Novel Baswedan. Mungkin karena ke-trigger kali ya. Alhasil kontennya pun viral.

Videonya disebarkan ulang oleh tokoh-tokoh kesohor. Iya pantas sih, dari sekian ratus atau bahkan jutaan netizen yang mengomentari—tepatnya mencibir—tuntutan jaksa yang cuma membebankan setahun pada pelaku penyiraman air keras ke Novel Baswedan dengan dalih nggak sengaja, Bintang Emon-lah yang paling unik sekaligus lucu, tetapi poinnya jelas.

Banyak netizen mendukung Bintang Emon. Akan tetapi, saking banyaknya yang dukung, akun-akun yang diduga buzzer akhirnya kalang kabut. Mereka memfitnah dengan menuding Bintang Emon dalam pengaruh narkoba saat merekam video tersebut.

Tuduhan yang sangat-sangat sepele dan layak disepelekan. Netizen pun banyak yang merespons kasus yang menimpa Bintang Emon itu. Netizen menilai fitnah terhadap Bintang adalah satu dari seribu satu cara untuk membungkam kritik.

Gelombang pembelaan kepada Bintang Emon pun makin besar. Bintang Emon mendapatkan pujian dan dukungan dari netizen ibarat air bah. Bentuknya bermacam-macam. Bahkan nih ya, tipe netizen yang membela Bintang Emon pun sama menariknya dengan kasusnya itu sendiri.

Saya mencoba memperhatikan dan mencermati bagaimana gaya netizen mengomentari kasus itu. Kasus yang sangat dekat dengan budaya kritik dalam tubuh negara yang konon menganut sistem demokrasi.

Paling Tahu Pribadi Bintang Emon

Orang-orang terdekat Bintang Emon akan langsung sigap dalam mengomentari kasusnya. Mereka biasanya langsung mengonter dengan argumentasi bahwa Bintang adalah orang baik dan mustahil memakai narkoba.

Netizen-netizen ini berasal dari kalangan seleb, entah itu selebtweet, selebgram, atau sebangsanya. Tak ketinggalan juga teman-teman satu komunitas Stand Up Comedy. Hal ini penting, sebab, jika orang yang tahu pribadi Bintang Emon tak menyuarakan pendapatnya, kita—maksudnya netizen biasa, terutama yang mudah percaya akan mengamini tweet fitnah para buzzer itu.

Dengan mengetahui siapa dan bagaimana ia nge-tweet soal kasus Bintang Emon. Ditambah mengetahui track record-nya pula, kita jadi lebih sehat dalam melihat dan membaca apa yang sedang menimpa Bintang Emon. Seminimal-minimalnya tidak dikelabui robot buzzer.

Suka Mengaitkan dengan Tokoh Lain

Kasus fitnah terhadap Bintang Emon yang cenderung mempunyai fungsi merepresi kritik itu nyatanya bukan kali pertama terjadi. Ada sekian artis, aktivis, mahasiswa, petani, sampai orang biasa yang kena represi karena mendemo dan menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun hukum.

Kita masih ingat kasus terdahulu yang menimpa Munir, Widji Thukul, bahkan Novel Baswedan itu sendiri jadi rentetan kasus pembungkaman terhadap kritik. Sementara di era kekinian ada Ravio Patra, Ananda Badudu, sampai Ferry Kombo. Semuanya dibungkam suaranya.

Tak ayal, Bintang Emon sebagai publik figur yang kebagian jatah diserang setelah ketahuan mengkritik lewat video, dengan humor khas komika itu pun disejajarkan dengan tokoh-tokoh tadi. Di media sosial, netizen menyebarkan foto Bintang Emon yang disejajarkan dengan gambar Widji Thukul dan Munir. Berikut cara pemerintah membungkamnya.

Komentar netizen terhadap kasus Bintang Emon yang mengaitkannya dengan tokoh-tokoh kaliber perjuangan kebebasan berpendapat sangat patut kita apresiasi bersama. Ente-ente semua yang kebetulan belum ngeh jadi mafhum bahwa kebebasan berpendapat masih menemui jalan terjal. Bahwa kebebasan berpendapat itu memang ada, tapi syarat dan ketentuannya berlaku.

Nggak Ngerti Kasus yang Dibahas

Dari jutaan netizen yang mengomentari kasusnya si Bintang Emon ini, pasti ada satu netizen yang membuat hati saya terenyuh. Bagaimana nggak terenyuh, dia nanya gini, "ini si Bintang Emon trending ngapa dah?"

Lah? Dia nggak tahu. Saya heran juga, netizen yang begitu-itu kalau buka Twitter yang di-scroll timeline bukan sih? Jangan-jangan dia buka Twitter, tapi nggak cek timeline malah buka-buka Story WhatsApp. Hadehhh~

Sok-sokan Paham Kasusnya

Kalau yang ketiga tadi nggak tahu babarblas kasusnya, netizen banyak juga yang tiba-tiba paham kasusnya. Sok-sokan tahu apa yang disinggung Bintang Emon dalam videonya, dan sok-sokan menguasai kronologi penyiraman terhadap Novel Baswedan. Helahdalah...

Netizen semacam ini hanya nyampah saja di timeline. Jangankan paham kasusnya, siapa yang dimaksud Bintang dalam videonya saja mungkin nggak tahu. Eh, komentarnya malah nyolot. Sok-sokan ngerti banget, padahal nihil.

Tetap Skeptis

Nah ini salah satu tipe komentar netizen yang saya salut. Dia berusaha semaksimal mungkin membentengi diri agar tak gegabah mengomentari kasusnya si Bintang. Netizen yang seperti ini biasanya nggak langsung menuduh bahwa yang memfitnah Bintang Emon adalah buzzer istana.

Netizen yang sikapnya amat-amat skeptis melebihi wartawan yang digaji tipis itu akan lebih dulu menganalisis. Kemudian akan memunculkan semacam hipotesis. Baru setelah itu, ia nge-tweet. Hasilnya, dia bakal menduga kalau fitnah ini boleh jadi settingan dari oposisi untuk menjatuhkan pemerintah.

Well, yang bikin saya tambah salut, netizen tipe kelima ini bersedia menyusahkan dirinya sendiri untuk sekadar mengomentari. Mau komentar sebuah kasus saja harus pakai analisis segala. Serius bener udah kayak ngerjain disertasi.

Mbok ya tinggal komen aja kok repot. Nggak usah pakai analisis yang ndakik-ndakik. Mengomentari itu asalkan nggak merugikan orang lain, sah-sah aja kok. Nggak usah sok analitis, komen dengan memberi dukungan itu sudah cukup melegakan.

Mencomot Tweet

Saya yakin, dari jutaan netizen terselip di antara mereka wartawan media-media mainstream. Wartawan-wartawan semacam ini biasanya berkamuflase sebagai netizen guna memantau akun-akun yang berhubungan dengan kasus. Ladang berita, bosss.

Wartawan tersebut akan menampilkan komentar si A, dukungan si B, dan tanggapan si C terhadap kasus yang menimpa Bintang Emon. Selanjutnya diketik dalam naskah-naskah berita yang disetorkan. Sumbernya? Mencomotnya dari si pemilik akun. Sementara soal izin tidaknya, ya... gampanglah itu.

Netizen yang Mengomentari Netizen Lain

Kalau yang ini sudah jelas. Tiada lain dan tiada bukan, orangnya adalah saya. Netizen pengangguran yang kekurangan bahan nulis, jadinya mengomentari netizen yang berkomentar deh. Wqwqwq~