Dahulu, mungkin sampai saat ini, citra yang timbul saat melihat tembakau, papir yang dilinting menjadi lintingan yang biasa disebut tingwe, adalah citra kuno dan jadul. Ritual tingwe adalah ritualnya orang-orang tua bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe biasanya dianggap jadul atau kuno.

Hal ini memang lumrah terjadi, karena biasanya ritual ini hanya dilakukan oleh orang-orang tua. Kebanyakan anak muda lebih memilih rokok pabrikan. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok golongan mereka adalah rokok sigaret keretek mesin (SKM) atau sigaret putih (SPM). Tidak semua seperti itu, tetapi di beberapa tempat stigma semacam itu masih ada.

Namun belakangan ini, terutama di kota-kota besar, stigma semacam itu mulai hilang. Kesadaran akan produk keretek sebagai produk kebanggaan bangsa mengubah banyak stigma perihal ritual tingwe tersebut.

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Dan tingwe sudah menjelma menjadi tren baru bagi anak-anak muda di beberapa kota besar. Awalnya hanya sekadar ingin mencoba atau ingin tampil beda. Akan tetapi banyak pula yang cocok dengan tingwe dan memutuskan untuk merokok tingwe saja. Di lain tempat, ada yang memang memilih merokok tingwe karena alasan penghematan.

Biasanya penikmat tingwe dari kalangan muda adalah mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau yang merantau ke kota besar, yang kemudian menularkan ke teman-temannya sehingga lambat laun ritual tingwe bisa menjamur di mana-mana. Anak-anak muda sudah tidak peduli dianggap jadul atau kuno karena merokok tingwe.

Selain harga murah, kelebihan tingwe yaitu kita bisa meracik rokok sesuai degan selera masing-masing, seberapa ukuran lintingannya, dan juga bisa menambahkan bahan campuran lainnya sesuai selera.

Ritual tingwe ini butuh keahlian tersendiri. Jika bisa melinting rokok tingwe dengan baik, kita akan merasakan kenikmatan yang bisa jadi mengalahkan kenikmatan rokok pabrikan.

Biasanya mereka yang mulai merokok tingwe menjadikan rokok tingwe sebagai pendamping rokok pabrikan pilihan mereka. Masih sedikit yang menjadikan rokok tingwe sebagai rokok utama. Penyebab tren tingwe tentu saja karena kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif cukai rokok. Tentu saja akan memberatkan perokok kelas menengah ke bawah.

Ada beberapa pilihan bagi para perokok untuk mengakali mahalnya harga rokok. Yang pertama adalah mengganti rokok dengan harga yang lebih murah, yang berpotensi rokok ilegal muncul ke pasaran.

Kedua, adalah dengan pindah ke tingwe atau yang biasa disebut aliran indie yang menurut saya banyak dipilih oleh para perokok. Membeli tembakau rajangan sendiri, membeli papir sendiri, dan melinting sendiri rokok yang ingin diisap. Jika ingin melakukan penghematan, cara ini adalah cara terbaik di tengah tarif rokok yang tinggi.

Seperti menjamurnya para penikmat kopi premium di banyak kafe. Yang tadinya karena berdasarkan selera lidah hingga akhirnya menjadi tren di kalangan muda pencinta kopi dan senja hehe. Bisa jadi, rokok tingwe akan menjadi ciri khas anak-anak indie pecinta senja dan musik yang liriknya indie banget gitu.

Tapi ada kelemahan dari tingwe, hasilnya tidak sebagus dan rapi seperti rokok pabrikan, ukuran dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah. Tempat penyimpanan tembakau belum ada yang sesuai standar, sering kali masih dibungkus dengan plastik. Kuno sekali.

Ada lagi kelemahannya, kita tidak bisa membantu ibu-ibu buruh yang menjadi pembuat rokok industri. Lama-lama mungkin pendapatannya akan berkurang. Mau gimana lagi, perokok juga harus menyesuaikan kantong masing-masing. Karena naiknya tarif cukai rokok, kita mencari alternatif merokok murah, ya tingwe jawabannya.

Teman saya pernah berkata, “tingwe gak seperti rokok elektrik yang punya banyak rasa.” Jangan pikir tingwe gak bisa dibuat seperti itu. Sudah banyak juga varian rasa seperti yang ada di rokok elektrik, misal tembakau rasa pisang dan varian rasa lainnya yang tidak kalah dengan rokok elektrik. Agar makin dekat dengan anak-anak muda yang biasanya mudah bosan.

Tingwe ini akan menjadi tren yang luar biasa. Kebanyakan tren yang hadir karena tokoh terkenal, atau merek terkenal. Tingwe bisa menciptakan kelompok kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena tingwe sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.

Ritual tingwe ini sudah menjadi budaya turun-temurun dari nenek moyang kita, bahkan sudah mempunyai ciri khas sendiri dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti relaksasi dan untuk pengobatan alternatif. Untuk itu, dengan dalil apa pun, ritual tingwe tidak bisa dihentikan.

Demikian pembahasan kali ini tentang tingwe. Untuk sekarang, jangan lagi menganggap ritual tingwe itu kuno. Sudah tidak ada citra tersebut karena sekarang sudah banyak anak-anak muda yang melakukannya.