Budaya “mengomentari” menjadi ciri khas masyarakat kita. Bahkan, hanya melihat dengan sekilas, menjadi sasaran empuk untuk “dikomentari”. Mulai dari penampilan, karier, hingga pertanyaan-pertanyaan sensitif yang kurang etis untuk dilontarkan.

Umumnya, hal ini dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki kepekaan. Ada beberapa komentar yang justru dapat menyakiti orang lain. Mirisnya, kebanyakan orang menganggapnya sebagai bentuk perhatian. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak bisa kita sama ratakan.

Kita tidak bisa request kepada Tuhan, mau dilahirkan seperti apa. Namun, di saat kita berusaha menjadi yang lebih baik dan menerima diri kita sendiri, justru ada orang lain yang notice kekurangan itu dan mengomentari. Bukannya anti kritik, tetapi saat kita berjuang mati-matian untuk memperbaiki dan menerima kekurangan kita.

Komentar-komentar tersebut menjadi hal yang toxic dan membuat kita down. Bagi sebagian orang yang mengira komentar adalah bentuk perhatian, mereka salah besar. Ada beberapa part-part yang tidak etis untuk dikomentari dan bahkan membuat seseorang semakin terpuruk.

Perihal studi, menjadi hal yang sangat umum untuk dikomentari. Hal-hal seputar studi merupakan sesuatu yang cukup sensitif untuk dikomentari. Seringnya, pertanyaan ini muncul saat pertemuan keluarga. Katanya, niatnya perhatian menanyakan kabar studi keponakannya, tetapi aslinya kepo dan membandingkan dengan anaknya.

“Kamu sudah lulus belum, kok dari dulu belum lulus-lulus”, sebuah pertanyaan sederhana yang dapat menghancurkan mental seseorang. Kondisi seperti ini membuat seseorang tidak menghadiri pertemuan keluarga untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan toxic.

Pernyataan-pertanyaan yang mereka kira sebagai bentuk perhatian justru merupakan hal-hal toxic yang dapat mempengaruhi kesehatan mental kita. 

Seseorang yang sedikit terlambat studinya, umumnya karena salah jurusan. Bukannya tidak menakar passion dalam dirinya, tetapi dorongan orang tua untuk memilih jurusan sesuai kehendak mereka. Katanya, jurusan pilihan orang tua memudahkan anaknya mencari pekerjaan.

Namun, orang tua lupa, passion dan bakat yang dimiliki anaknya. Seseorang dengan latar belakang kurang fasih dalam matematika dipaksa masuk ekonomi, bukankah sebuah kesalahan yang fatal? Akhirnya, anak menjadi korban untuk “dikomentari”. Orang hanya tau, keterlambatan studi karena hal-hal negatif dalam diri seseorang.

Tetapi, mereka melupakan peran orang tua yang memaksa anaknya masuk jurusan di luar minat dan bakatnya. Sejatinya, anak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya. Selain itu, penting bagi orang tua untuk berdiskusi atau ngobrol dengan anak supaya tahu apa minat dan bakat yang dimiliki anaknya.

Body shaming, yang paling sering untuk dilakukan. Setiap orang memiliki bentuk tubuh yang berbeda-beda. Ada yang sedikit kurus, ada yang sedikit berisi, dan ideal. Bentuk badan ideal menjadi idam-idaman bagi orang-orang.

Namun, di saat kita berusaha membentuk tubuh yang ideal, orang-orang dengan mudahnya melontarkan komentar-komentar sensitif yang justru membuat kita semakin merasa bersalah dengan bentuk tubuh kita.

“Kamu kok gendut banget sih? Padahal pas kurus cantik banget lho, kurusin lagi”, sekiranya begitu. Kenyataannya, di balik komentar tersebut ada seseorang yang berjuang mati-matian demi menghempaskan satu kilogram lemak di tubuhnya.

Ada yang hampir mati karena lari puluhan kilo demi membakar kalori, dan ada yang hanya menelan lidah untuk menghindari makanan-makanan manis. Orang hanya tau, “gendut itu jelek”, “gendut itu buruk”, tetapi sama sekali tidak memberi support kepadanya.

Tidak hanya orang dengan tubuh sedikit berisi yang menjadi sasaran empuk, tetapi tak lepas dari orang yang memiliki tubuh sedikit kurus. Orang mengecapnya dengan “manusia tengkorak berjalan”. Betapa menyakitkan, jika lisan dibiarkan tanpa tujuan.

Seperti dituntut memiliki topeng yang tebal, seseorang harus tersenyum di tengah hati yang tercabik-cabik akibat lisan orang yang tak memiliki etika. Menahan rasa malu yang menggerogoti hati dan pikirannya.

Pertahanan yang dijaga runtuh, seseorang rela menahan tangis hingga sesak di dadanya membuat matanya sedikit basah. Bagi sebagian orang yang berani speak up, mereka akan membalas kalimat menyakitkan tersebut dengan setimpal.

Balasan yang setimpal tanpa harus menyentuh. Dengan rasa sakit yang sama. Namun sayangnya, tak banyak orang yang berani melakukan tindakan seperti ini. Lebih-lebih, mereka takut dicap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua.

Kendati demikian, perlakuan yang sama akan membuat pelaku diam dan jera. Hal ini karena seseorang tidak akan pernah tau rasanya, jika tidak merasakannya.

Berbicara soal karier seseorang, tidak pernah ada orang sukses tanpa melewati sebuah kegagalan. Pencapaian seseorang yang pertama dinilai adalah kesuksesannya, tanpa mereka tau banyak kegagalan yang ditelan habis-habisan.

Kadang di atas dan kadang di bawah. Saat berada di posisi yang sulit, mereka berupaya sekuat tenaga agar dapat mencapai target yang ingin dicapai. Kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki rela dilakukan.

Pencapaian seseorang biasanya menjadi ajang untuk pamer dan membanding-bandingkan. Sering kita temukan seseorang dengan latar belakang keluarganya lebih sukses.

Membanding-bandingkan dengan orang yang pencapaiannya belum sebanding dengannya.  “Kamu kerja jadi barista ya? Anak tante jadi pegawai bank, alhamdulillah sudah dapat pekerjaan enak”, sangat miris dan tak pantas untuk diucapkan.

Kembali lagi, dalam konteks ini rasa empati dan etika amat dijunjung tinggi. Orang dengan karier yang sedikit kurang beruntung tak selamanya menjadi orang yang kurang beruntung. Tuhan telah menjamin rezeki setiap hambanya, bahkan pepohonan, tumbuhan, binatang-binatang yang tak bisa menghasilkan uang telah dijamin rezekinya.

Teringat satu kalimat yang diutarakan oleh seorang motivator, “Perkataan adalah doa yang akan kembali pada pemiliknya suatu saat nanti, maka ucapkanlah banyak  hal yang baik karena hal baik akan kembali pada pemiliknya, sebaliknya  ucapan yang buruk dan menyakitkan, akan kembali pada kita dengan versi yang sama”.

Seseorang yang hidup dalam lingkungan toxic dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Maka tidak heran, sebagian dari mereka menjadi anti sosial demi menjaga kesehatan mentalnya.

Ada banyak kemungkinan terburuk yang terjadi akibat “budaya mengomentari”, salah satunya seseorang tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Terlepas dari budaya mengomentari, setiap orang memiliki kekuatan mental masing-masing yang tidak dapat disamaratakan.

Secara umum, budaya mengomentari sering kali dianggap hal yang lazim untuk dilakukan. Bahkan, telah menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Spekulasi yang tidak dibenarkan ini, terus mendarah daging, seperti tak lekang oleh waktu. Nyatanya, budaya seperti ini perlu dihilangkan keberadaannya.

Lidah memang tak bertulang, segala perkataan dapat dilahirkan. Tetapi, tidak ada salahnya jika memfilter omongan.

Kesalahan dalam berbicara menjadi salah satu hal yang fatal. Bisa dibayangkan, berapa banyak mental seseorang yang rusak karena komentar-komentar sensitif yang sangat tidak penting diucapkan? Kendalikan lisan karena bisa jadi lisan kita mengancam kesehatan mental seseorang.