Hubungan Timur Tengah dengan Nusantara merupakan perkembangan dari hubungan perdagangan antara Timur Tengah dengan Cina yang telah berlangsung sejak berabad-abad sebelum Masehi.

Wilayah Cina yang menjadi pusat perdagangan tersebut adalah Cina bagian utara, dengan jalur perdagangan melalui Asia Tengah. Kegiatan perdagangan yang sepenuhnya dilakukan melalui jalur-jalur perdagangan di daratan Asia ini dengan sendirinya tidak memberi kemungkinan tumbuhnya suatu perdagangan maritim di Cina. 

Munculnya wilayah Cina bagian selatan sebagai pusat kekuasaan pada abad IV M berpengaruh pada perkembangan perdagangan antara Cina dengan Timur Tengah. Para pendiri dinasti-dinasti Cina bagian selatan mendorong tumbuhnya perdagangan maritim antara kedua daerah tersebut melalui kepulauan Nusantara. 

Meskipun pada masa itu Nusantara telah menjadi pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara yang menjalin hubungan perdagangan dengan wilayah India, tampaknya para penguasa Cina tidak berminat untuk menjadikan Nusantara sebagai wilayah hubungan dagang mereka. 

Bagi penguasa Cina, Asia Tenggara pada umumnya merupakan daerah yang belum beradab. Selebihnya, wilayah Asia Tenggara hanya merupakan daerah-daerah yang menjelaskan hubungan pelayaran antara Cina dengan Timur Tengah.

Asia Tenggara hanya mendapat perhatian Cina jika ada hubungan dengan perdagangan Timur Tengah. Seperti Cina, para pedagang Timur Tengah juga tidak terlalu menaruh perhatian untuk menjalin perdagangan dengan Nusantara. 

Bagi mereka, Cina adalah tujuan utama perdagangan mereka. Hal ini barangkali disebabkan para pelayar dan pedagang Timur Tengah yang masih kurang mengenal tentang Nusantara, kecuali hanya sebagai tempat transit temporal sebelum melanjutkan perjalanan, baik pergi ke Cina maupun kembali ke Timur Tengah.

Selain itu adalah komoditas utama perdagangan Nusantara pada waktu itu—cengkeh, pala, lada, kayu cendana, getah kayu kamper, kayu manis, lilin, damar— yang kurang diminati oleh para pedagang Timur Tengah. 

Di antara komoditas utama perdagangan Timur Tengah yang diminati oleh Cina adalah zamrud, berlian, yakut, zabarjad, gading, kurma, kismis, dan bahan-bahan celupan. Sementara komoditas Cina yang diminati oleh Timur Tengah ialah teh, kertas, kain, satin, sutera, benda-benda keramik, dan obat-obatan. 

Perkembangan kondisi sosial di Timur Tengah dengan munculnya Islam sebagai kekuatan politik dan agama memberikan perubahan yang signifikan dalam perdagangan kaum Muslim Timur Tengah. Selanjutnya, perluasan wilayah Islam ke Persia dan Anak Benua India sepanjang masa Dinasti Umayyah (660-749 M) memberikan dorongan baru kepada pelayaran Timur Tengah untuk menjelajah sampai ke Timur Jauh.

Penaklukan wilayah-wilayah ini memberikan kepada Muslim Timur Tengah yang baru memeluk Islam sejumlah pelabuhan-pelabuhan strategis sepanjang rute perdagangan, mulai dari Teluk Persia hingga Lautan India. Pada periode ini, pelayaran dan perdagangan kaum Muslim mengalami peningkatan intensitasnya secara reguler melalui rute laut sejak Arabia Selatan hingga Lautan Cina. 

Sejalan dengan kondisi Timur Tengah di atas, perkembangan di Nusantara memunculkan kerajaan Sriwijaya sebagai pusat kekuasaan baru di wilayah tersebut pada paruh kedua abad ke-7 M hingga lima abad kemudian. Hampir seluruh wilayah Sumatra, Semenanjung Malaya, dan Jawa berada di bawah kekuasaannya.

Pada periode ini, kerajaan Sriwijaya memainkan peran penting sebagai perantara dalam perdagangan Timur Tengah dan Cina. Sriwijaya bahkan menguasai lalu lintas pelayaran dan men-dominasi perdagangan Nusantara, dan ibu kotanya, Palembang, menjadi entrepot terpenting di kawasan ini. Dari seluruh kapal asing ini, keuntungan yang diperoleh oleh kerajaan Sriwijaya sangat besar. 

Selain penarikan bea cukai, Sriwijaya—yang merupakan negara maritim— juga memperoleh keuntungan lain dari perdagangan. Seperti perkampungan pedagang-pedagang Arab di Kanton yang telah ada sejak abad ke-4 M, wilayah kerajaan Sriwijaya yang menjadi pelabuhan-pelabuhan transit mengalami proses islamisasi seiring dengan interaksi yang cukup rapat antara pedagang-pedagang Muslim dengan penduduk setempat dalam kehidupan sehari-hari. 

Proses islamisasi ini menjadi meningkat seiring dengan migrasi besar Muslim Timur Tengah dari Kanton ke Palembang, untuk menemukan wilayah perlindungan yang aman, di mana telah terjadi kerusuhan di kota tersebut yang tidak menguntungkan pihak Muslim Timur Tengah.

Perkembangan berikutnya menjelaskan bahwa munculnya beberapa kerajaan Muslim di Nusantara sejak akhir abad ke-13 M menciptakan momentum baru bagi hubungan-hubungan politik, agama antara Timur Tengah dengan Nusantara. Pada masa ini, perkembangan menunjukkan perbedaan dengan sebelumnya.

Jika dalam masa sebelumnya Muslim Timur Tengah memusatkan kegiatan-kegiatan mereka pada perdagangan, maka sejak menjelang akhir abad ke-12 M mereka mulai memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha penyebaran Islam di wilayah Nusantara.

Pergeseran dalam kegiatan-kegiatan ini tidak hanya disebabkan perubahan-perubahan politik agama di Timur Tengah sendiri, tetapi juga oleh kemerosotan perdagangan di Nusantara sebagai akibat kemunduran kekuasaan Sriwijaya, khususnya menjelang akhir abad ke-13 M. Terlepas dari faktor penyebabnya, dampak kemunduran Sriwijaya terhadap perdagangan di Nusantara sangat besar. 

Dalam upaya meningkatkan kembali pendapatan negara yang terus merosot, para penguasa Sriwijaya menempuh kebijakan ekonomi dan perdagangan yang monopolistik, mengenakan bea-cukai yang besar terhadap kapal-kapal asing, dan memaksa para pedagang asing membayar denda yang berat jika mereka berusaha berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara. 

Sebagai konsekuensinya, para pedagang asing, khususnya pedagang-pedagang Muslim Timur Tengah, menghadapi kesulitan dan gangguan berat dalam perdagangan mereka.

Menilik semua perkembangan tersebut, tidak heran kalau kemudian para pedagang Timur Tengah ini mengalihkan kegiatan-kegiatan dagang mereka ke tempat-tempat lain di Nusantara. Selain itu, mereka mulai mengambil bagian lebih aktif dalam penyebaran Islam.

Hasilnya, bentuk-bentuk hubungan baru yang lebih akrab antara Timur Tengah dan Nusantara juga mulai muncul, terutama hubungan yang diperkuat dengan tali agama yang kemudian dengan cepat berkembang. 

Hubungan dagang tentu saja tidak ditinggalkan, bahkan hubungan dalam bidang ini diperkuat dengan pembentukan hubungan-hubungan religio-kultural, yang selanjutnya diikuti oleh hubungan dalam bidang-bidang lain, khususnya dalam bidang politik keagamaan.