Gagasan-gagasan klise seperti; mahasiswa harus berorganisasi, pentingnya organisasi bagi mahasiswa atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kebosanan seorang mahasiswa dalam berorganisasi.

Ungkapan-ungkapan klise atau alasan klasik pun acapkali dipekikkan seperti; saya dilarang berorganisasi oleh orang tua, saya punya jadwal kuliah jadi saya tidak bisa ikut rapat, saya punya urusan keluarga dan lain sebagainya.

Kesemuanya merupakan fenomena yang lumrah terjadi. Meskipun tidak semua seruan dan alasan tersebut di atas benar adanya akan tetapi diskursus mayoritas nampaknya berlaku. 

Sejatinya, setiap organisasi memiliki kelebihan dan kekurangan serta tujuan dan realisasi tujuan masing-masing. Kendati demikian, terdapat faktor pembeda antara organisasi satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut umumnya terletak pada segi pengelolaan dan orientasi para anggota organisasi.

Organisasi diibaratkan sebuah tembok yang besar nan kokoh karena tersusun dari bahan atau materiel yang sistemis dan nyaman dipandang karena warna dan teksturnya berpadu serta tidak saling memakan antar unsure satu dengan yang lainnya sehingga mampu berdiri tegak, memayungi dan mengayomi. 

Tembok tersebut akan tetap kokoh selama orang-orang yang bernaung di bawahnya selalu merawat dan memperhatikannya. Sebaliknya, akan runtuh dan rusak jika tidak terjaga.

Sebesar dan semegah apapun sebuah organisasi, pada akhirnya akan menjadi kenangan jika tidak diikuti dengan tata kelola yang baik dan bijak. Pertanyaan seputar mengapa harus berorganisasi dan mengapa para anggota organisasi semakin hedon nan apatis menjadikan pengelolaan organisasi sebagai jawaban. 

Organisasi dengan tata pengelolaan yang baik mampu mengejawantahkan antara hakikat dan urgensi dari organisasi secara jelas, dengan begitu para aparatur atau perangkat organisasi mampu menghadapi proses pembelajaran nyata dan tetap mengedepankan prinsip nilai (tujuan) dari organisasi tersebut.

Lebih lanjut, tata kelola organisasi yang baik pun mampu menghadirkan dasar dari organisir diri (self-management) dan waktu (time management) bagi para anggota organisasi, yakni kesadaran. 

Meskipun kedua perkara tersebut, baik self-management maupun time management, merupakan diskursus yang tidak kalah klise pula dari yang lainnya dan sering dikumandangkan di atas forum-forum intelektual dan pelatihan-pelatihan kepemimpinan.

Namun, keduanya hanya sekedar berputar dan mencengkram sumsum ide dan melupakan realitas. Baik self-management maupun time management adalah tergantung praktek. Keduanya meniscayakan proses melakukan bukan membicarakan. 

Kuat atau lemahnya sebuah organisasi dapat disimak dari manajemen diri dan waktu yang dimiliki anggotanya. Semakin hedon, apatis dan maraknya alasan-alasan klasik oleh para anggota organisasi, maka semakin lemah daya manajemen dalam organisasi tersebut.

Pada hakikatnya, self-management (manajemen diri) merupakan istilah psikologis untuk menggambarkan proses pencapaian otonomi diri (kesadaran). 

Dalam ruang lingkup organisasi, self-management merupakan metode, keterampilan dan strategi yang dilakukan oleh individu dalam mengorganisir diri untuk pencapaian tujuan dalam hal ini tujuan organisasi termasuk di dalamnya goal setting, self-development, planning, evaluating dan lain sebagainya.

Pengelolaan untuk mengorganisir diri merupakan upaya individu untuk melakukan perencanaan, pemusatan perhatian, dan evaluasi terhadap aktivitas yang dilakukan. 

Perkara tersebut meliputi kekuatan psikologis yang member arah pada individu untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihannya serta mengafirmasi cara-cara yang efektif dalam mencapai tujuannya (Knowles, 2003b: 48).

Aspek-aspek dalam manajemen diri meliputi pemantauan diri, reinforcement yang positif, perjanjian dengan diri sendiri dan penguasaan terhadap rangsangan. 

Pemantauan diri (self-monitoring) merupakan suatu proses mengamati dan mencatat segala hal yang dilakukan serta belajar mengendalikan penyebab dari terjadinya masalah. Reinforcement (penguatan) diri lebih kepada proses mengatur dan memperkuat diri atas konsekuensi yang dihasilkannya sendiri. 

Kontrak atau perjanjian dengan diri sendiri adalah dengan membuat perencanaan untuk mengubah diri, memiliki target dan merancang peraturan untuk diri sendiri agar tidak lupa target. 

Terakhir, penguasaan terhadap rangsangan dalam hal ini mampu mengendalikan emosi dan mengalihkan fokus ke tujuan awal.

Selain self-management yang harus dimiliki oleh anggota organisasi, time management pun kiranya tidak kalah penting. 

Adagium “time is money” yang dipopulerkan Barat bukanlah adagium yang dinilai cocok untuk time management sebuah organisasi apatahlagi berada di dalam naungan organisasi nirlaba, melainkan yang harus digunakan adalah“time is process” tanpa harus luput dari substansi atau nilai.

Bagi Forsyth (2009) bahwa manajemen waktu adalah membuat waktu jadi terkendali sehingga menjamin terciptanya efektifitas dan efisiensi juga produktivitas dalam berorganisasi. 

Bagi sebahagian anggota organisasi atau dalam hal ini mahasiswa yang berorganisasi, pada umumnya acapkali persoalan pembagian waktu yang menjadi kendala tersendiri. 

Antara rutinitas kuliah dan organisasi menjadi dua variabel yang acapkali saling korban-mengorbankan. Yang paling dominan dikorbankan adalah rutinitas organisasi.

Dalam menjalankan roda organisasi, proses pencapaian tujuan menjadi ihwal ultim namun hal demikian harus tertata dengan baik melalui kemampuan manajemen semua perangkat organisasi. 

Ideologi, strategi bahkan taktik mengambil peranan penting. Kecerdasan seseorang khususnya dari segi intelektual bukan sebuah jaminan memiliki time management yang baik. Melainkan, kecerdasan spiritual dan emosional lah yang menjadi ciri khas dari berhasilnya proses manajemen waktu.

Strategi POACE dan analisis SWOT sebagai teori klasik harus ditopang kuat oleh self-management dan time management

Saat seseorang telah mampu mengorganisir diri mereka maka secara otomatis mereka pun mampu mengklasifikasikan waktu dengan baik dan organisasi pun mampu melahirkan intelektual-organisatoris yang kompeten di segala lini dan bernilai.