Beberapa hari ini kita semua sedang dihebohkan dengan film Tilik. Bagaimana tidak, film ini sempat trending di Twitter dan berhasil ditonton sebanyak 8 juta lebih penonton hanya dalam waktu lima hari sejak penayangan perdananya di YouTube 17 Agustus lalu.

Film pendek karya besutan sutradara Wahyu Agung Prasetyo tahun 2018 ini sebenarnya cukup sederhana jalan ceritanya. Film ini menceritakan tentang sekelompok ibu-ibu desa yang sedang menggosipkan Dian (Lully Syahkisrani), gadis kembang desa yang diperbincangkan dalam perjalanannya ke kota menggunakan truk untuk ‘menilik’ (menjenguk) ibu lurahnya yang sedang sakit di rumah sakit.

Akan tetapi, keseruan publik ternyata banyak tertuju pada sosok pembawaan dari karakter Bu Tejo (Siti Fauziah) yang khas dalam cerita. Ia berperan sebagai ‘biang gosip’ dalam kelompok ibu-ibu tersebut. Banyak dari mereka menilai kalau sosok Bu Tejo ini selalu ada dalam masyarakat kita, sehingga sangat berkenaan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Namun, terlepas itu, pesan utama dari film ini yang coba ingin disampaikan sebenarnya bukan itu. Tetapi melalui gosip, film ini secara kontras mencoba memperlihatkan realitas warga desa dalam kemampuannya menyerap informasi di tengah ketidakpastian kebenaran informasi di internet atau media sosial saat ini.

Bagi yang sudah menonton, mungkin beberapa juga terlintas pertanyaan kalau sebenarnya bagaimana sih gosip bisa berkembang di masyarakat kita? Khususnya kalau bercermin lewat film Tilik ini. Coba kita bahas.

Terbentuknya gosip

Kalau di desa, sadar tidak biasanya kalau ada kabar sedikit saja bisa menyebar dengan cepat. Misalnya, pagi-pagi sudah dapat kabar kalau ada salah satu warga di desa yang selingkuh, tau-tau di waktu sore warga satu desa dipastikan hampir sudah tahu semua. 

Berbeda kalau dengan di kota, informasi juga bergerak cepat sekali, tapi biasanya cenderung tertutup atau informasi-informasi tersebut hanya beredar di kalangan-kalangan tertentu tergantung jenis informasinya. Nah, biasanya informasi-informasi ini bisa dengan cepat tersebar salah satunya melalui gosip yang kebenarannya juga masih dipertanyakan.

Sama seperti di film Tilik ini, bedanya kalau di film ini sekelompok ibu-ibu desa ini membicarakan soal status kesehariannya Dian, mulai dari pekerjaan, hubungan asmaranya, hartanya, dan lain-lain. Dian digosipkan kalau dia bekerja menjual dirinya ke kota, sampai Dian memiliki banyak uang karena jadi simpenannyaom-om’. 

Di dalam adegan ceritanya juga, masing-masing ibu-ibu itu berdebat satu sama lain untuk memastikan kebenaran kabar soal Dian tersebut.

Dalam hal ini, di masyarakat desa, khususnya di Jawa, umumnya gosip itu udah lumrah jadi bagian dari sehari-hari, atau dalam arti lain sudah jadi budaya. Hal ini ditandai dengan kultur Jawa yaitu ‘ngerasani’ atau membicarakan kehidupan juga sifat orang lain dari belakang.

Terlepas dari baik atau buruknya suatu gosip, sebenarnya secara sosial gosip juga memiliki fungsi sebagai kontrol sosial dalam masyarakat, yang mengatur keteraturan masyarakat dalam tatanan norma dan moral tertentu.

Secara, hubungan sosial masyarakat di desa umumnya relatif lebih komunal daripada di kota yang cenderung lebih individu. Oleh karena itu, tingkat perhatian antar sesama warga di desa relatif lebih intens yang ditunjukan salah satunya melalui ngegosip sebagaimana yang ditunjukan dalam film ini. Berbeda dengan di kota, masyarakat kota relatif tidak mau ikut campur urusan-urusan orang lain apalagi ikut campur urusan pribadi atau rumah tangga seseorang.

Akan tetapi, juga terdapat sebab lain yang membuat masyarakat desa melakukan gosip dalam sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa secara umum masyarakat desa khususnya ibu-ibu di desa kurang memperoleh tingkat literasi yang baik dalam mencerna dan mengelola informasi. 

Hal ini umumnya dikarenakan oleh terbatasnya akses pendidikan dan informasi yang layak di desa, sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat. Terlebih untuk mengakses dan mencerna literasi digital serta menjadi persoalan lain.

Lalu minimnya tingkat literasi ini serta didorong juga oleh masih berkembang kuatnya kultur patriarki dalam masyarakat desa yang menempatkan perempuan dinomorduakan dalam mengakses pendidikan yang layak. Perempuan desa relatif ditempatkan dalam urusan domestik, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk membangunan kapasitas literasinya dengan baik.

Kemudian, kompleksitas lain juga memperlihatkan bahwa keleluasaan waktu yang dimiliki ibu-ibu di desa, di sisi lain serta mendorong aktivitas antar sesamanya untuk bergosip. Keterbatasan aktivitas publik dari sarana dan prasarana pekerjaan dan pilihan kegiatan lainnya serta kultur masyarakat desa yang senang berkumpul membuat intensitas mereka untuk betemu dan bertukar kabar menjadi lebih intens, diantaranya juga melalui bergosip.

- - -

Bercermin dari sebab-sebab yang diutarakan ini, demikian penjelasan umum terkait mengapa gosip menjadi suatu fenomena dan masih berkembang dalam masyarakat kita. Penyebab-penyebab tersebut sekiranya secara mendasar mendorong perilaku gosip hingga saat ini masih terjadi dalam sehari-hari. Kompleksitas berupa terbatasnya akses literasi di desa, aktivitas pekerjaan, dan kultur patriarki setempat berkontribusi dalam mendorong perilaku bergosip dalam sehari-hari.

Khususnya melalui film Tilik, kita dapat melihat bahwasanya dengan gosip dalam masyarakat kita di sisi lain juga memiliki fungsi untuk mengatur keteraturan norma dan moral tertentu yang berlaku. Di samping itu, lewat film ini, kita juga dapat melihat realitas bahwa kapasitas warga desa dalam menyerap dan mengelola informasi juga sangat terbatas. Terlepas dalam konteks tertentu beberapa masyarakat kota juga serta mengalami keterbatasan kapasitas dalam mencerna informasi.

Melihat ini, film Tilik menjadi sangat natural dalam menggambarkan gosip sebagai potret sosial kehidupan Ibu-ibu desa dalam sehari-hari. Pembawaan karakter-karakter dalam film yang secara asli merepresentasikan cara ibu-ibu di desa untuk bergosip berhasil memunculkan ke-khasan dan kesan tersendiri bagi penonton.

Dengan demikian, film Tilik direkomendasikan untuk ditonton bagi yang merasa bahwa gosip serta merupakan bagian dari keseharian kita cukup relevan untuk mengikuti film ini. Di sisi lain, juga tidak heran kalau film ini berhasil meraih penghargaan Winner Piala Maya 2018 sebagai film pendek terpilih bahwasannya memang film ini memang layak untuk ditonton dan dipelajari. Selamat menikmati.