Mahasiswa
1 minggu lalu · 114 view · 5 min baca · Cerpen 25706_30357.jpg
Idearumahidaman.com

Tikus Berdasi

Senja kala itu, mobil mewah merk Avansa, orang-orang ber-jas hitam menyusuri desa-desa terpencil. Terdengar suara mobil, anak-anak desa, para pengembala sapi saling mengejar menuju tepi jalan untuk melihat mobil itu. Saat itu adalah musim kemarau, debu jadi makanan setiap hari. Betapa senangnya para pengembala sapi ketika melihat mobil Avansa menyusuri kampung-kampung. Yah, lima tahun sekali. 

Gelap pun tiba, angin sepoi, suasana malam begitu hening. Di bawah langit yang telanjang, seorang lelaki tua berselimut tais adat (kain adat) berjalan kaki menuju rumah katuas adat (kepala suku). Yohanes seorang pengembala sapi yang sedang menyalakan api di samping rumah untuk membakar hasil berburu dalam sehari. Mendengar hentakan kaki lekaki tua itu, dengan kaget ia langsung menyambarnya.

He, kamu siapa? malam tidak tidur!”

“Ini om Stef, sa mau pi katuas adat.” Sambung lelaki itu.

Ah, sa pikir pencuri e om, jalan hati-hati karena gelap dan ada acara apa to?” dengan nada halus Yohanes mulai berbincang dengan om Stef.

“Tadi mobil lewat itu, tim sukses calon bupati dong, katanya minggu depan pak Lasarus mau datang kampanye.” Jawab om Stef dan langsung meneruskan perjalanan menuju rumah kepala suku.

Seusai membakar hasil berburu, Yohanes berdiam diri menikmati suasana malam di desa terpencil, bintang-bintang, kunang-kunang malam yang selalu menghiasi keindahan desa di waktu malam. Bunyi suara roket sudah tiga kali, tandanya malam semakin dewasa, Yohanes menuju kamar merebahkan badan di atas papan jati yang tersusun, melepas penat dan ia terkapar hanyut di tengah kesenduan malam.

Renrua Tahun 2009


Pagi yang cerah, para lelaki mulai membangun tenda kecil dan ibu-ibu membersihkan halaman rumah, anak-anak desa latihan tarian Likurai untuk menjemput pak Lasarus yang akan datang siang ini. Semua masyarakat sibuk menyiapkan segala perlengkapan, harapan terbesar untuk calon orang nomor 1 Belu yang datang berkunjung  menyampaikan pidato politik, serta program kerja membangun desa.

Waktu menujukkan pukul 14.00 Wita, Pak Lasarus bersama rombongan dengan mobil berbondong-bondong menjajaki desa terpencil itu, riuh suara masyarakat untuk menyambutnya. Ia turun dari mobilnya, seorang yang berbadan kekar, tinggi dan langsung di sambut secara adat oleh para kepala suku, om Stef tampil dengan berpakaian adat lengkap, membacakan sapaan adat, layaknya sang Politisi itu (Pak Lasarus) seorang pahlawan yang usai bertempur, dielu-elukan oleh rakyatnya.

Suara-suara tihar (gendang kecil)  berserakan, dipukul oleh anak perempuan desa, nenek-nenek tua dan dua lelaki remaja yang meronggeng menggunakan klewang (pedang) sambil mengitari pak Lasarus bersama rombongannya. Anak-anak desa, para gembala sapi, para pemuda, tukang ojek, para petani, para kepala suku berbondong-bondong menjemput pak Lasarus, mengiringi dengan tarian Likurai (Tarian khas masyarakat kabupaten Belu) menuju tenda acara. Suasana terharu, bangga, senang, itu terlihat dari wajah para masyarakat.

Yohanes, seorang pengembala sapi itu hadir juga mendengar pidato politik pak Lasarus dengan mulut yang berbusa-busa. Dengan nada halus Pak Lasarus menyapa masyarakat desa!
Ina no Ama hotu mak hau kakneter (Ibu dan Bapa yang saya hormati), Salam sejahtera dan salam perubahan.” Disambut dengan tepuk tangan riuh oleh masyarakat, aura perubahan yang terpancar dari wajah politisi itu.

“Berikan kepercayaan padaku, ini adalah anakmu yang akan berjuang demi masyarakat kecil.” Sambung Pak Lasarus. Dan seakan ada air bah yang berlinang di pipi  politisi itu, mata hingar-bingar orang-orang desa dengan penuh keheranan dan timbul tanya dibenak publik.

“Dia masih keluarga dengan kita, harapan terbesar kita semua semoga dia terpilih.” Om Stef berbisik di seorang lelaki tua yang berada di sampingnya dengan wajah yang penuh kebingungan melihat tingkah pak Lasarus.

Ah, iya k? Nah, kita coblos dia saja.” Sambung Seorang lelaki tua yang bernama Seran.

“Kita semua harus suara bulat, pilih dia menuju kursi empuk itu, untuk masa depan desa dan anak-anak kita!” Tegas Om Stef kepada orang-orang di sampingnya.

“Ketika saya terpilih nanti, saya akan bangun desa ini. Perbaiki jalan di sepanjang desa, air bersih dan fokus pembangunan ekonomi masyarakat.” Tegas Pak Lasarus dengan nada lantang.

“Maju terus Nai, kami dukung!” Teriak masyarakat desa.


Kepercayaan masyarakat bertumpuk pada pemuda itu, dengan harapan kondisi desa yang tandus di musim kemarau, naik turun gunung  mencari air untuk hidup dan lelaki tampan itu datang dengan suatu harapan perubahan.

Seusai berpidato, Ia beserta rombongan langsung menuju desa tetangga untuk melanjutkan kampanye. Masyarakat desa menikmati nasi bungkus yang di bawa pak Lasarus. Dengan canda tawa, bersenda gurau orang- orang memuji  pak Lasarus yang sopan, ramah, tegas untuk kehidupan masyarakat.

“Ah, ini orang hebat e, datang bawa nasi bungkus kasih masyarakat. Sejak kapan ada begini!” Ungkap Yohanes.

“Iya, makanya nanti kita pilih dia, su kasih makan kita jadi jangan lupa e.” Sambung Om Stef.

“Ah, ko jangan kwatir Om! Itu su pasti.” Yohanes, seorang gembala sapi itu meyakinkan om Stef.

Setelah mencicipi nasi bungkus yang berisi paha ayam, sayur putih dan sambal tomat. Masyarakat berbondong-bondong kembali ke rumah dengan wajah bersinar menyusuri jalan berdebu, tanah yang tandus. Selama seminggu, Pak Lasarus menjadi buah bibir orang-orang desa, di kebun, lereng gunung, pos ronda dan termasuk para pengembala sapi. Sosok pemuda itu meluluhkan hati orang-orang desa, dia bagikan bintang yang selalu hadir di awan biru yang menemani masyarakat.

Saat Pilkada

Pagi yang masih belia, matahari memancarkan sinar dari ufuk timur, jalanan di penuhi masyarakat desa. Orang-orang berpakaian tais adat, kaki beralas tanah menuju TPS. Masyarakat desa sangat antusias untuk memilih pemimpin. Mereka berdiri di bawah pohon-pohon untuk menunggu para petugas memanggil nama sesuai urutan untuk ke ruang kecil menggunakan hak pilih.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA, orang-orang desa terus menunggu sampai perhitungan suara. Mereka masih setia, mengetahui Pak Lasarus dengan suara unggul di TPS itu, betapa senang para masyarakat. Sosok pemuda yang pernah datang mengumbarkan semangat juang bersama masyarakat desa. Sebulan kemudian, mendengar hasil pengumuman KPU, Pak Lasarus dipercayakan oleh masyarakat untuk menghuni rumah merah dan menduduki kursi singgasana.

Betapa senang masyarakat desa, janji yang akan dibayar tuntas oleh sang politisi itu. Harapan dipundak Pak Lasarus, rasa percaya pada sosok pemuda itu, rakyat menentukan dia sebagai sang pemimpin perubahan bersama kaum tertindas. Rumah rakyat yang ia tempati untuk memperjuangkan nasib orang-orang desa. Harapan rakyat untuk dirinya dari mengelu-elukan dia saat datang kampanye, antusias menuju TPS hingga setia menunggu hasil KPU.

Rumah mewah yang ia tempati, membuat dia semakin nyaman berpangku kaki di ruangan ber-AC. Harapan orang desa semakin sirna tanpa jawaban. Mulut berbusa dengan mengumbar janji,  dan janji itu tidak kunjung datang. Nasib rakyat di terlantarkan, pemimpin  pintar mengumbar janji. Yah, janji palsu.  

Nasi bungkus kala itu, sebagai bayaran suara rakyat dan tangisan waktu itu adalah tangisan tikus berdasi.

Artikel Terkait