Tiktok kini bak santapan sehari-hari masyarakat Indonesia yang penggunanya didominasi oleh kaum muda, mungkin bagi sebagian orang menilai Tiktok hanyalah aplikasi yang berisi video anak muda yang berjoget-joget mengikuti alunan musik. Namun, siapa sangka ternyata didalamnya tidak hanya berisi video “berkonotasi negatif”. Banyak juga konten kreator yang membagikan video-video yang bersifat edukatif, seperti pengenalan budaya/bahasa daerah, berbagai tutorial (memasak, memakai hijab, membuat essay, membuat cv, dsb), hingga tentang sejarah-sejarah negara, wilayah yang ada di pelosok negeri juga ada, loh!

Video yang muncul di homepage Tiktok atau biasa disebut FYP (For You Page), tentunya mengikuti tren yang sedang marak. Layaknya di Twitter, jika ada suatu topik yang sedang tren akan memicu netizen untuk membuat tweet yang membahas topik tersebut, baik berupa kritikan yang berisi kontroversi maupun saran yang membangun. Begitu juga di Tiktok, ketika suatu hal sedang ramai diperbincangkan atau lebih dikenal dengan “Trending Topic”, maka penggunanya akan berlomba-lomba untuk membuat video dengan topik serupa disertai dengan musik yang sedang banyak digandrungi, dengan harapan video yang diunggahnya akan muncul di FYP orang lain, memperoleh banyak viewers dan like. 

Baru-baru ini, tren #budayaIndonesia sedang ramai-ramainya di Tiktok Indonesia, video yang diunggah oleh para konten kreator dengan menggunakan tagar "tanda pagar" sudah ditonton oleh 63 juta pengguna Tiktok. 

Seiring maraknya tren ini, tanpa disadari generasi muda yang semula acuh tak acuh terhadap budaya sendiri bahkan tidak ingin tahu sama sekali, menjadi terpacu untuk menonton video tersebut dan tertarik untuk mengetahui budaya-budaya lain. dengan durasi yang singkat, pengambilan gambar yang tepat, dan editing  yang epic oleh para konten kreator, sukses membuat orang-orang  tertarik untuk menonton video yang berisi tentang budaya Indonesia tersebut.

Budaya apa aja sih yang diunggah? Budaya-budaya yang diunggah oleh para konten kreator diantaranya upacara metatah (mengikir gigi) di Bali, upacara ngaben, upacara pemakaman Tana Toraja, Tari Gedruk Wonosobo, Kolaborasi adat Key, Sentani &Waropen,  dan masih banyak lagi. Dari video-video tersebut, dapat kita lihat seberapa besar rasa toleransi masyarakat Indonesia terhadap budaya di negeri sendiri, menilik  komentar-komentar yang ditulis di setiap video.

Salah satu contoh video yang diunggah oleh akun @elsamangampa yang berisi salah satu bagian dari upacara pemakaman di Tana Toraja, dalam video tersebut menampilkan para lelaki beramai-ramai mengarak peti jenazah sambil bersorak-sorai sambil menggoyang-goyangkan peti yang berisi jenazah menuju lapangan tempat upacara pemakaman akan dilangsungkan. Video yang ditonton oleh 2,4 juta orang tersebut tersebut, sontak menuai beragam komentar pengguna dari komentar yang  berkonotasi positif hingga negatif. Orang-orang yang memiliki rasa toleransi yang tinggi dapat terlihat dari komentarnya  yang positif seperti, “lain daerah lain budaya, salam toleransi” sedangkan orang yang minim toleransinya akan menulis, “itu mayatnya digoyang-goyang apa gak kasian, Nyesel kali dia meninggal”.

Kemudian video upacara Metatah di Bali yang diunggah oleh akun @Ellchintya, video tersebut ditonton oleh 2,3 juta pengguna tiktok di seluruh penjuru Indonesia, dan dibanjiri oleh ribuan komentar yang senada, berupa kritikan-kritikan pedas dari orang yang kurang toleransi / minim pengetahuannya dan pujian-pujian dari orang yang menunjukkan toleransi terhadap budaya di negeri sendiri. Contoh salah satu komentar nyinyir dari masyarakat minim toleransi, “ mau potong gigi aja ribet amat, kayak mau nikahan aja,” lain halnya dengan orang-orang yang toleran, “setiap suku di Indonesia mempunyai adat dan budaya masing-masing, jadi kalau tidak tau apa-apa mending diam saja saling menghormati,”.

Dari kedua contoh tersebut, kita bisa belajar bahwa bagaimanapun proses yang dilakukan oleh suatu suku kita harus tetap menghormati budaya/adat istiadat mereka, karena budaya tersebut merupakan harta karun yang dimiliki oleh negara tercinta ini. karena banyak budaya dan adat-istiadat yang mulai lenyap secara perlahan, karena masyarakatnya tidak merasa memiliki, tidak ikut serta menjaga atau "ngurip-nguripi" budaya sendiri. Sikap toleransi tetap harus dijunjung tinggi dalam bersosialisasi, untuk menunjukkan bahwa kita termasuk masyarakat yang beradab sesuai dengan sila ke 2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.  Nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila tersebut memang harus diamalkan dalam kehidupan bernegara, agar tidak terjadi perpecahan meski banyak perbedaan.

Kita sebagai generasi milenial, generasi penerus bangsa yang harus melanjutkan tugas untuk melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan nenek moyang. Jangan sampai budaya kita diakui oleh negara lain baru kita berteriak-teriak memintanya kembali.

Manfaatkan sosial media untuk menambah wawasan/hal-hal yang positif, bijak dalam menulis apapun didalamnya. Karena ungkapan “ mulutmu harimaumu” kini sudah tergantikan dengan ungkapan “ketikan jarimu, harimaumu”, jangan sampai ketikan jari kita dapat melukai hati saudara kita sendiri. Salam Toleransi!