Coba saja kalian bayangkan waktu kemarin tidak terjadi masa pandemi. Mungkin kehadiran TikTok tidak akan seramai saat ini. Dimana semua orang melakukan seluruh kegiatannya hanya di rumah saja. Dan kesempatan itulah yang menjadikan intensitas penggunaan TikTok sangatlah tinggi.

Karena konten yang ada di TikTok sangat relate dengan kehidupan kita. Banyak video viral yang bermunculan berasal dari TikTok. Banyak model hiburan yang bisa didapatkan dari TikTok. Sampai-sampai tren yang ada di TikTok menyebar ke semua platform media sosial.

Banyak sekali fitur menarik yang disediakan oleh TikTok. Sehingga kita dapat mengekspresikan diri dengan sebebas-bebasnya. Sesuai dengan kehidupan penggunanya masing-masing.

Namun juga begitu disayangkan banyak konten negatif yang tak senonoh berkeliaran. Begitu mudahnya mendapatkan apa yang dulu sulit didapatkan. Tapi sekarang sangat mudah didapatkan melalui TikTok.

Berbagai konten sensitif yang dapat mudah diakses tanpa adanya penyaringan berarti. Dan justru anehnya masyarakat sangat menyukai akan hal itu. Yang ditakutkan apa? Tidak ada batas usia dalam menggunakan platform tersebut. Semua kalangan bisa mengakses hal-hal tersebut.

Tentunya tidak hanya sampai pada hal-hal itu saja. Banyak segala aspek kehidupan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang sedang hype di TikTok. Mulai dari obrolan ketika hangout, jokes kita dalam bergaul. Sampai selera musik kita yang dipengaruhi oleh TikTok.

Sangat begitu mengherankan bukan?

Begitu besarnya pengaruh tren TikTok terhadap tren yang ada di kehidupan nyata. Dan yang marak terjadi adalah adanya pembanding kehidupan. Keberadaan konten yang ada, tidak sedikit menyebabkan kecemburuan sosial kepada sebagian orang. Dan itulah yang menjadi titik permasalahan.

Secara tidak sadar otak kita di brainwash oleh konten-konten yang ada di TikTok. Karena TikTok itu sangat adiktif sekali. Di setiap kita melakukan scrolling kita sebenarnya mendapatkan dopamine hit. Bahayanya, sekali buka TikTok nggak akan cukup hitungan menit saja.

Dapat juga berakibat pada pengambilan keputusan dan pengendalian diri seseorang. Dimana dipengaruhi oleh saraf otak yang terjadi lebih mudah dan rentan. Akibat dari adanya kecanduan TikTok bisa merusak kualitas dan gangguan mental diri. Secara tidak sadar rasa senang mereka atau mood bisa dipengaruhi oleh TikTok.

Karena di dalam TikTok banyak terdapat berbagai macam konten. Tak jarang juga sekarang banyak konten-konten flexing. Hal tersebut bisa menjadikan kecemburuan sosial oleh seseorang. Orang yang menonton bisa jadi mulai membandingkan dirinya dengan para pegiat konten.

Maka tak heran mulai dari situlah muncul perasaan insecure dan juga overthinking. Insecure karena tidak bisa menyamai orang yang ada di TikTok. Dan overthinking akan kehidupannya saat ini bahkan akan masa mendatang juga. Terkadang hal baik pun bisa menjadi boomerang untuk kita.

Memangnya dengan scrolling TikTok sepanjang waktu tidak merasa waktumu terbuang sia-sia?

Makanya mulai sekarang harus kebih bijak lagi dalam membuka TikTok. Harus mengetahui waktu yang kita habiskan untuk TikTok. Hindari konten-konten yang mengarah ke hal-hal negatif. Dan yang penting, lakukan aktivitas lain yang juga menurutmu menyenangkan.

Berhentilah membandingkan diri kalian dengan kecantikan, ketampanan ataupun tubuh yang dimiliki seseorang. Belum tentu apa yang kalian pandang itu enak. Bisa jadi menurutmu mereka selalu mendapatkan pujian. Namun dalam satu sisi tidak menutup kemungkinan mereka juga kebal akan hujatan.

Tidak hanya itu kendalikan dirimu atas konten-konten yang ada. Mulailah jangan menjadikan apa yang ada di TikTok untuk menjadi standarmu. Standar kehidupan yang ada dan standar terhadap pasangan.

Mungkin efek jangka panjangnya akan memiliki mental yang lemah dalam mencari pasangan. Karena semakin banyak kriteria akan menjadikan kita menjadi seseorang yang picky. Sering juga mendapat resistance dari target pasangan mereka. Dan hal itulah akan menjadikan minder atau kurang percaya dengan dirinya sendiri.

Yang terpenting dari dalam diri kita bisa membatasi diri. Bagaimana cara kita mengendalikan. Bagaimana kita bisa mendapatkan hal positif yang lebih banyak. Dan bagaimana hal tersebut justru bisa membuat kita lebih semangat.

Hanya diri kita masing-masing yang bisa mengontrol itu semua. Karena pada dasarnya apapun kalau sudah menjadi adiktif itu selamanya tidak akan baik. Karena bagaimanapun kesehatan mental kita itu yang utama.

Masalah untuk konten-konten yang ada saat ini. Dengan kita tidak menanggapi atau cuek justru konten tersebut tidak akan viral. Banyak hal-hal yang bisa dibilang negatif justru viral belakangan ini. Contoh konten flexing yang viral, karena kita memberi panggung orang tersebut.

Oleh karena itu sebenarnya kita sebagai penonton yang memegang kendali. Jika kita tidak memberi panggung atau cuek saja, pasti tidak akan viral. Justru konten-konten positif yang seharusnya kita viralkan. Karena pada dasarnya para pegiat konten membuat konten sesuai dengan selera penontonnya.