Rasanya lucu, deh, saat pertama kali anak-anak muda di kampung saya menggandrungi Tik Tok. Di setiap kesempatan berkunjung ke rumah saudara atau ke rumah teman yang punya anak muda, pasti deh, ada momen yang mengundang tawa. Bagaimana tidak, anak mudanya pasti melenggang-lenggok di depan kamera gadget tiada henti.

Barangkali bagi mereka, hidup di era revolusi industri 4.0 ini, adalah kesempatan untuk memanfaatkan media sosial. Sehingga tidak hanya digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga media sosial digunakan sebagai alat ekspresi dan pencitraan diri.

Walau pun demikian, lama-lama rasa ingin tahu mulai menggoda naluri saya, untuk bisa menyimak pertunjukan pada aplikasi Tik Tok  yang sedang menjadi tren ini. Seperti apa, sih, Tik Tok, itu? Sehingga sandal jepit pun diberi merk Tik Tok. Hehehe ....

Sampai pada suatu sore, datanglah Gerson anak saya, berbisik, "ayah, donlod dong aplikasi Tik Tok, biar kita bisa nonton bareng-bareng."  

"Nonton apa, Nak?"

"Ada, deh."

Bayangin, anak seusia kelas empat SD, sudah bisa menggoda bapaknya untuk "tangkap" Tik Tok. Saya kemudian tergiur untuk mendonlod aplikasi Tik Tok ini, biar tidak dibilang norak, ketinggalan zaman, orang kampungan, dan sejenisnya.

Pertama kali menyaksikan konten tayangan pada Tik Tok ini, ada pertanyaan yang terus melayang-layang di kepala, kenapa kok, bukan cuma menyaksikan goyangan pinggul orang-orang muda, tetapi juga emak-emak dan bapak-bapak? Kadang saya tertawa sendiri, meski pun merasa cukup terhibur di kala lelah, karena kontennya cukup menarik perhatian.

Bagaimana pun itu, semakin ke sini, saya melihat Tik Tok tidak hanya menyodorkan goyang pinggul atau pun tarikan suara para artis Tik Tok, tetapi sudah mengarah ke hal-hal digital marketing. Misalnya, mempromosikan menu makan, perabot rumah tangga, fashion dan lain sebagainya.

Artinya apa? Inilah sesungguhnya yang menjadi harapan kita bersama, bahwa media sosial, apa pun itu jenisnya, yang tercipta oleh daya kreasi anak muda milenial, hendaknya menjadi media pembelajaran dan atau menjadi media informasi yang bermanfaat bagi kehidupan. Apalagi aplikasi sosial media yang sangat diminati oleh anak-anak muda seperti Tik Tok.

Dengan demikian, saya mulai berpikir bahwa, bagaimana jika konten yang tersaji pada Tik Tok, tidak hanya terfokus pada ruang-ruang promosi, untuk hal-hal yang bersifat marketing, dan hiburan bagi anak-anak zaman now, semata?

Mengapa kepada anak-anak muda yang menggandrungi Tik Tok ini, tidak dipandang sebagai sebuah peluang, untuk menciptakan juga konten tentang pendalaman wawasan kebangsaan?

Bagi saya, hal wawasan kebangsaan ini penting untuk segera diperdalam oleh setiap anak bangsa secara masif, pada ruang dan waktu yang tepat. Karena tidak cukup, jika hal wawasan kebangsaan disajikan hanya pada forum-forum formal, seperti di sekolah dan lain sebagainya. Tetapi anak muda mesti dicari jalan lain, dicarikan media yang praktis untuk dijadikan media pengayaan.

Sehingga demikian, mereka akan memiliki gambaran yang jelas tentang kelangsungan hidup bangsa, sekaligus perkembangan kehidupan bangsa dan negara di masa depan. Menata kehidupan kebangsaan menjadi penting, karena pada kenyataannya, ruang-ruang ini, begitu gampang dijadikan komoditas perpecahan antar sesama anak bangsa, di republik ini.

Tentunya, dalam rangka memperkokoh wawasan kebangsaan di era milenial ini, saya yakin, pemerintah telah membuat suatu inovasi dalam hal penyampaian dan penanaman wawasan kebangsaan bagi rakyatnya.

Namun, yang saya maksudkan adalah bahwa, Inovasi tersebut mestinya diakses oleh anak-anak muda secara praktis, melalui media yang mereka gandrungi, seperti TIK Tok, sehingga kapan pun dan dimana pun, melalui media itu, mereka akan lebih suka menyimak.

Mengapa harus Tik Tok yang saya tawarkan menjadi media edukasi, untuk memahami wawasan kebangsaan? Karena itu tadi, bahwa pengguna Tik Tok terbesar setiap tahunnya, setelah saya googling, ternyata adalah anak-anak muda yang berusia 18-24 tahun.

Ada sih, media sosial lainnya, seperti FB, twiter, youtube, dan lain sebagainya, juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan tersebut. Cuman,  penggunanya tergolong heterogen. Tidak didominasi oleh anak-anak muda. Sedangkan, perkara wawasan kebangsaan mesti sudah ditanam ke dalam jiwa anak-anak muda, sebelum mereka "jatuh ke dalam pencobaan."

Di sisi lain, rupanya aplikasi Tik Tok memiliki fitur yang terbilang unik dan simpel, dibandingkan dengan fitur-fitur yang ada di media sosial lainnya. Fitur pada aplikasi Tik Tok, mampu menciptakan variasi konten yang beragam, sehingga anak muda dengan mudahnya berkreasi.

Kemudahan-kemudahan seperti inilah, anak-anak muda mesti diarahkan, untuk menciptakan kreativitasnya, sehingga kemudian menjadikan Tik Tok sebagai kanal pewartaan informasi wawasan kebangsaan untuk disimak.

Dengan demikian, jika, misalnya dari total anak muda penikmat aktif Tik Tok tersebut,  kemudian menyimak apa yang tersaji secara rutin tentang wawasan kebangsaan, saya yakin generasi milenial saat ini, pada titik tertentu, akan mampu meciptakan keharmonisan hidup dalam berbangsa dan bernegara dalam keberagaman.

Memang sedang ramai diperbincangkan warganet di media sosial, ketika menyaksikan prilaku anak muda dengan gaya-gaya aneh, sebagai ekspresi pencarian jati dirinya, namun saya merasa bahwa, tidak banyak hal yang mendidik. Kebanyakan mereka menggunakan Tik Tok dengan tidak bijak dan sudah barang tentu akan sangat mempengaruhi karakter anak bangsa di kemudian hari.

Nah, oleh karenanya, dari pada membiarkan hal itu berlarut-larut dalam prilaku yang tidak terpuji, sudah saatnya bagi pegiat Tik Tok untuk sedapat mungkin, membelokan sedikit saja, arah konten Tik Tok ke hal-hal yang mendidik generasi milenial ini, khususnya kepada soal wawasan kebangsaan.

Mumpung saat ini grafik pengguna aplikasi Tik Tok masih terus meningkat drastis. Termasuk anak saya dan barangkali juga isteri saya, meski cuma jadi penonton setia. Heheheh!