Mahasiswa
3 minggu lalu · 458 view · 4 min baca · Hiburan 68063_52800.jpg
Pinterest

Tiger Show yang Tak Ada Harimaunya

Saya tiba di Phuket, Thailand, malam hari waktu itu. Dengan berbekal tiket hiburan yang bertajuk Tiger Show, saya pun langsung menghambur di jalanan sensual khas Phuket yang terkenal itu. 

Mulai dari suguhan gratis tarian tiang tunggal (pole dance) dengan liukan estetis pinggir jalanan hingga musik urban ajeb-ajeb yang menyemburkan birama yang terdigital.

Sambil memantapkan pijakan di trotoar jalanan Phuket, kepala mulai dipenuhi silogisme kusam. Berpikir filosofis tentang estetika tarian tiang tunggal yang sekilas erotis.

Namun dapat dipertanggungjawabkan di ruang privasi. Ketika seluruh badan, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dituntut bekerja sama untuk bisa meliuk di tiang. Tentu saja efeknya membuat badan kita makin kencang dan tidak ada gelambir lagi.

Jam pertunjukan Tiger Show hampir tiba. Tidak ada informasi awal sebagai rujukan atas seni performa tersebut saat itu. Saya miskin data, yang penting memanfaatkan bonus yang berupa tiket seharga 300 ribu yang masih tersimpan rapi di saku celanaku.

Hanya kilasan-kilasan latar pengalaman budaya, bahwa Tiger Show itu semacam sirkus yang tak pernah kutonton secara live, hanya acara di televisi masa kecil dulu. Ini saatnya melihat live, kesempatan tak boleh disia-siakan.

Pucuk dicinta ulam tiba, jam menunjukkan pukul 9 malam waktu Thailand. Dengan langkah bernas menuju ke pintu masuk pertunjukan Tiger Show. Wow, sederet body guard bertato berjajar di pintu masuk sambil berseru: No camera!


Apa-apaan ini, hanya sirkus kok No Camera segala? Bukankah itu seni performa yang legal untuk dijepret-jepret oleh kamera?

Namun dari luar tadi ada yang sedikit mengganjal. Sirkus tentunya memerlukan tata ruang yang megah untuk kebebasan manuver binatang-binatang yang beraksi. Ini kok kecil dan tanpa dukungan ruang manuver udara semisal bentuk kubah besar nan lebar?

Jawaban makin gak karuan setelah tubuh saya melewati pintu masuk. Dan sekali lagi wow, ternyata acara pertunjukkan sudah dimulai. Buyar sudah semua sinopsis tentang sirkus yang ada harimaunya. Apa yang saya lihat adalah sirkus-sirkus lain yang juga sebagian biasa dan lumrah dilakukan binatang.

Ternyata Tiger Show itu adalah seni performa di atas panggung yang sungguh kreatif dan estetik. Bagaimana tidak, kreator seni performa ini berhasil memadukan antara erotisme dengan parodi-parodi nan kocak yang bikin terpingkal.

Tiger Show adalah sebuah dadaisme dalam seni performa dewasa (adult contents). Cukup layak memprovokasi penonton secara terang-terangan, seperti menampilkan adegan berhubungan badan di atas panggung secara terang-terangan tanpa tabir selembar pun.

Mereka menciptakan suasana yang dapat mempermainkan libido dan humor penonton. Mampu secara taktis merangsang penonton untuk mengeluarkan hormon endorfin (rasa nyaman) dan hormon kortisol (rasa gelak) secara bersamaan. Sebuah sintesis hormonal yang jarang terjadi. Lazimnya humor mendadak itu akan mematikan libido.

Bagaimana gak ketawa, Tiger show menyuguhkan performa pasangan yang sedang berhubungan intim (coitus) yang dibarengi dengan sikap menyalahkan bahkan merundung seekor nyamuk yang tak berdosa.

Dengan entengnya si aktor melakukan tindak slapping atau tampar nyamuk yang sedang menggigit bagian anggota badan empuknya, sambil ketawa pula. Plakkk.

Tiger Show juga terpapar menggunakan performasi kualitas rendah secara bebas dan halus sambil menjunjung tinggi muatan lokal. Seperti pada tampilan berikutnya yang berupa pertunjukan berbau ekshibisionis. 

Beberapa aktris seksi nan cantik keluar dari balik tirai dengan dandanan minimalis ala BDSM (Bondage, Discipline, dominance, submission, Sadism and Masochism), sebuah genre performa dewasa di dunia lendir.


Cuma bahan BDSM-nya khas Thailand, seperti rumbai-rumbai ala Kick Boxing (tarung drajat). Ini juga membuat Anda terjungkal ketawa tanpa menghentikan ekor mata Anda yang sedari tadi terus-menerus menatap glandula mamae ukuran akbar khas Thai yang menantang atmosfer tanpa mangkok penutup.

Tiger Show juga merupakan seni yang mampu mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Anda akan disuguhi seni performa gaya daur ulang dan DIY (Do It Yourself). Beberapa piranti yang mudah ditemukan di sekitar kita akan direorganisasi menjadi bahan lelucon yang sangat kooperatif dan mutualisme.

Seperti pada suguhan penampilan selanjutnya dalam Tiger Show, kalau boleh saya kasih subjudul, The Markswoman. Kalau di Google adanya Marksman, penembak jitu. Karena aktris, ya tepat menggunakan istilah Markswoman, penembak jitu perempuan. 

Seni performa ini mengandalkan kekuatan otot-otot peristaltik pada alat vital wanita. Beberapa peluru yang terbuat dari jarum berekor rumbai-rumbai rafia ditembakkan dari dalam menuju sasaran beberapa balon yang mengambang di udara. Dan, blarrr, tepat sasaran!

Saya gak habis pikir bagaimana latihannya? Mungkin membutuhkan ajian senam Kegel tingkat dewa. Jarak tembaknya cukup jauh untuk sebuah kekuatan semburan otot peristaltik vital manusia. Sebuah prestasi tinggi dunia fluida bergerak dan ilmu kompresi.

Pertunjukan selanjutnya lebih cenderung ke aura zoofilia, mengikutsertakan binatang dalam seni performa dewasa. 

Seekor burung pipit yang mampu bertahan di dalam ruang tuba falopi vital wanita yang kemudian dilepaskan dengan bukaan erotis dan menyasar ke penonton. Tentunya penonton yang dihinggapi burung tersebut pastilah panas dingin sambil cengar-cengir.

Dan suguhan terakhir adalah atraksi beraroma debus. Alat yang namanya Can opener atau pembuka tutup botol minuman bersoda yang pasti terbuat dari logam, saat itu tergantikan dengan hormat oleh alat vital. Waw, ini terlatih model latihan jaringan spons apa lagi?

Akhirnya pertunjukan yang bertajuk Tiger Show tersebut selesai tanpa ada harimaunya. Sebuah terobosan entertain dewasa yang laris manis di Thailand. Disiplin proteksinya cukup tinggi hingga tak satupun tayangannya bocor ke tayangan YouTube atau sejenisnya.

Tak akan bisa Anda cari di internet dengan mengetikkan “Tiger Show” yang dimaksud. Dunia kopian dan reproduksi tayangannya tersebut sepertinya dipaksa mati total. Sekeras junta militer Thailand yang pernah ada.

Artikel Terkait