Siapa yang tidak mempunyai impian untuk memiliki keluarga yang harmonis? Keluarga yang harmonis merupakan dambaan bagi setiap orang. Ketika hendak menikah, seorang perempuan mendambakan laki-laki yang dapat membimbingnya dan bersamanya membangun keluarga yang harmonis. 

Begitu pula sebaliknya. Seorang laki-laki mendambakan perempuan yang dapat menemaninya dan bekerja sama dalam membangun keluarga yang harmonis.

Tidak hanya bagi orang tua, keluarga yang harmonis juga menjadi impian bagi setiap orang anak. Seorang anak tentu merasa tidak nyaman tinggal bersama dengan keluarga yang penuh dengan konflik dan lika-liku. Mereka juga ingin tumbuh di lingkungan yang nyaman dengan kondisi keluarga yang harmonis.

Akan tetapi, bagaimana cara mewujudkan keluarga yang harmonis? Apa yang mesti dilakukan sehingga keluarga menjadi harmonis? Banyak orang mendambakan untuk memiliki keluarga yang harmonis, namun tak sedikit dari mereka yang tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. 

Tidak sedikit rumah tangga yang hancur yang disebabkan karena ketidaktahuan para penggawa rumah tangga akan bagaimana mewujudkan keluarga yang harmonis.

Dr. Aidh al-Qarni, salah seorang ulama Arab Saudi yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Laa Tahzan yang fenomenal, menuturkan dalam kultwitnya bahwa keluarga yang harmonis memiliki tiga pilar utama, yaitu cinta (kasih sayang), penghormatan (pemuliaan), dan toleransi (mudah memaafkan). Dengan adanya ketiga pilar ini, maka pernikahan menjadi sukses dan keluarga yang harmonis pun terwujud. Pendapat ini juga diamini oleh ash-Shadiq al-Hasyimi, ulama hadis asal Sudan.

Bagaimana Cara Mewujudkan Tiga Pilar Ini?

Terkadang seseorang mengklaim bahwa dirinya mencintai dan menyayangi seseorang yang lain, namun di dalam hatinya ia memendam rasa kebencian. Terkadang seseorang juga mengklaim bahwa ia mencintai seseorang yang lain, namun perilakunya justru menampakkan hal yang sebaliknya. Dari sini dapat diketahui bahwa cinta bukanlah klaim semata.

Abdul Aziz ath-Tharifi, salah seorang ulama hadis asal Kuwait, dalam fatwanya yang dimuat di situs Thariq al-Islam menjelaskan bahwa pada dasarnya cinta dan benci letaknya berada di dalam hati, akan tetapi ia berbuah pada lisan dan amalan anggota badan. 

Ketika seseorang benar-benar mencintai seseorang yang lain, maka ia akan memberikan segala sesuatu yang ia miliki dan yang dapat ia lakukan kepada orang yang ia cintai sebagai wujud dari cinta tersebut.

Khalid al-Hussainan, salah satu dai Islam asal Kuwait, dalam kajian rutin bulan Ramadhan-nya memberikan contoh sederhana dari wujud cinta tersebut. Dalam wujud yang paling sederhana, beliau menuturkan bahwa orang yang jatuh cinta pasti akan berbicara dengan lemah lembut kepada orang yang ia cintai. 

Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta mesti berkata-kata kepada orang yang ia cintai dengan penuh perhatian agar orang yang ia cintai itu dapat mengerti apa yang ia maksudkan. Dari sinilah rasa cinta dan kasih sayang terealisasikan.

Penjelasan lebih lanjut hadir dari salah seorang ulama Yaman, Adil al-Abbab. Beliau menuturkan dalam ceramahnya berjudul "al-Wala' lil Mu'minin" bahwa wujud dari rasa cinta dan kasih sayang ini sangat banyak nan beragam. 

Beliau memberikan contoh bahwa memberikan perkataan dan nasihat yang baik, kepedulian, pertolongan, dan pengorbanan merupakan di antara wujud dari rasa cinta dan kasih sayang.

Kurang lebih, dengan cara inilah bagaimana keluarga yang harmonis dapat terwujud. Masing-masing anggota keluarga, baik itu ayah, ibu, maupun anak, saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Bukan dengan klaim semata, namun dengan langkah nyata sehingga rasa cinta dan kasih sayang tersebut mampu terwujud.

Semakin seorang anak dididik oleh ayah dan ibunya dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka semakin bertambah besar pula kadar kecintaan anak tersebut kepada ayah dan ibunya. 

Hal ini juga berlaku sebaliknya. Ketika cinta seorang anak kepada kedua orang tuanya semakin tumbuh dan membesar, kemudian ia menjadi semakin penurut nan patuh, maka kecintaan kedua orang tua kepada anaknya juga menjadi semakin besar pula. 

Hubungan rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka saling terkait dan semakin membesar sesuai dengan semakin banyaknya rasa cinta dan kasih sayang yang mereka realisasikan.

Selain rasa cinta dan kasih sayang, salah satu pilar utama lainnya yang membentuk keluarga yang harmonis adalah pemuliaan atau penghormatan. Maksud dari pemuliaan dan penghormatan di sini adalah masing-masing anggota keluarga menyadari kedudukan dan peran mereka dalam menjalankan bahtera rumah tangga.

Ketika masing-masing anggota keluarga menyadari kedudukan dan peran yang mereka mesti jalankan dalam menjalani rumah tangga, maka mereka akan memberikan penghormatan dan pemuliaan kepada satu sama lain. 

Seorang istri menyadari kewajiban-kewajiban yang mesti ia tunaikan kepada suaminya. Seorang anak menyadari kewajiban-kewajiban yang mesti ia tunaikan kepada kedua orang tuanya. Begitu pula seterusnya.

Kemudian pilar terakhir dalam mewujudkan keluarga yang harmonis adalah sikap toleransi atau mudah memaafkan. Sikap ini merupakan salah satu sikap yang mesti dipegang oleh setiap anggota keluarga. Hal ini dikarenakan manusia tidaklah mungkin terlepas dari kesalahan.

Terkadang salah seorang anggota keluarga membuat kesalahan karena ia tidak tahu atau karena alasan yang lain. Terkadang salah seorang anggota keluarga memiliki beberapa kekurangan yang membuat ia gagal dalam menunaikan kewajibannya kepada yang lain. 

Dengan sikap mudah memaafkan, maka keluarga yang harmonis dapat tetap terwujud seberapa pun banyaknya kesalahan yang terjadi dan seberapa pun besar kekurangan yang ada di dalam bahtera rumah tangga.

Setelah menjelaskan beberapa pilar terwujudnya keluarga yang harmonis, Dr. Aidh al-Qarni melanjutkan dalam kultwitnya dengan sebuah nasihat,

“Barang siapa yang kurang dalam memberikan cintanya, maka hendaknya ia tidak kurang dalam memberikan penghormatan. Sedang barang siapa yang kurang dalam memberikan penghormatannya, maka hendaknya ia tidak kurang dalam memberikan toleransi.”

Dr. Aidh al-Qarni kemudian menutup kultwitnya dengan mengatakan bahwa hidup mesti berjalan seberapa besar apa pun rintangan yang ada. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kesalahan. 

Andai setiap rumah tangga menjadikan pilar-pilar ini sebagai fondasi bagi mereka dalam membentuk rumah tangga, niscaya perceraian akan semakin sedikit terjadi. Kehidupan yang sempurna hanya ada pada kehidupan surga.