Namaku Andi Rafli Nugraha, tapi kebanyakan orang memanggilku Rafli. Umurku sekarang 16  tahun dan aku bersekolah di SMA Negeri 1 Pitumpanua. Aku tinggal di kota Siwa, sebuah kota kecil di Provinsi Sulawesi Selatan. Hobiku menulis karena aku suka menuangkan isi pikiranku di dalam tulisan. Aku akan menulis tentang apa yang aku pikirkan terkait masalah kemanusiaan  

Berhubung aku masih tahap belajar, mungkin belum mengetahui banyak hal tentang masalah kemanusiaan jika dibandingkan dengan orang-orang di luar sana. Menurutku sifat kemanusiaan adalah rasa kepedulian yang timbul dalam hati manusia dengan tulus untuk manusia lain. Meski di masa sekarang banyak orang yang melakukan tindakan kemanusiaan hanya sebuah pencitraan semata. Dan menurutku itu bukan sifat kemanusiaan.

Kita pasti sering menonton masalah kemanusiaan di TV, mendengar di radio, ataupun membaca di koran. Kita pasti pernah merasa prihatin dengan masalah kemanusiaan baik yang kita baca, kita tonton, ataupun kita dengar di radio. Tapi pertanyaannya, “Pernahkah kita memperhatikan masalah kemanusiaan di sekitar kita? Di lingkungan kita?” Aku pernah mencoba melakukannya, dari yang aku amati, ada beberapa masalah tentang masalah kemanusiaan di lingkunganku ini.

Yang paling utama adalah masalah kemiskinan, dan menurutku masalah ini paling banyak terjadi bukan hanya di sini melainkan di seluruh Indonesia, mengapa demikian? Karena kemiskinan semakin lama semakin bertambah. Dari kemiskinan muncul masalah menyangkut pendidikan, seperti anak yang seharusnya sudah bersekolah tapi menjadi pekerja kasar dan masih banyak lainnya.

Kemiskinan juga berbanding lurus dengan rendahnya kualitas hidup seseorang. Dari kemiskinan yang terjadi di sini aku melihat anak kecil berjalan tanpa alas kaki menapakkan kaki kecilnya di atas aspal panas, ada sebuah keluarga yang tidur di kamar kecil dengan lemari baju dan kompor dalam satu ruangan dan mereka harus keluar rumah ketika ingin mandi ataupun buang air, dan orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal.

Sesekali aku bertanya dalam hati, “siapa yang bertanggung jawab atas mereka? Diri mereka? Presiden? Pejabat Negara? 

Mungkin jawabannya adalah “kita”. Lewat tindakan-tindakan kecil kita bisa bantu saudara-saudara kita. Pasti sulit mengatasi kemiskinan, tapi jika tidak ada usaha untuk membantu mereka, pasti tidak akan ada habisnya, malah akan semakin bertambah. Pasti sulit dan butuh waktu yang lama, tapi bukan berarti mustahil. Saya yakin suatu saat bisa.

Masalah kedua adalah diskrimanasi, kadang kita sering melakukan diskriminasi, atau kita menjadi korban diskriminasi. Diskriminasi merujuk pada pelayanan yang tidak adil terhadap individu-individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu yang cenderung membeda-bedakan satu sama lain. Jujur saja aku biasa menjadi korban diskriminasi, baik itu di sekolah maupun lingkungan bermain, tapi masih aku anggap sebagai candaan.

Kita pasti biasa mendengar ataupun menonton tentang masalah diskriminasi terhadap orang, kelompok, ras, aliran, suku, bahkan sampai agama. Diskriminasi menurutku tidak sangat pantas untuk dilakukan, mengingat kita sebagai manusia memiliki kodrat yang sama.

Kenapa sih kita diskriminatif sama orang? Apa kita sudah sempurna? Atau kita lebih baik dari orang itu? Belum tentu, bukan?

Mendiang Nelson Mandela pernah berkata: “Tidak ada yang lahir membenci orang lain karena warna kulitnya, atau latar belakangnya, atau agamanya. Orang harus belajar membenci. Jika mereka dapat belajar untuk membenci, maka mereka dapat diajarkan untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami ke jantung manusia daripada kebalikannya.”

Berkat usahanya melawan diskriminasi dan paham apartheid beliau dapat membebaskan rakyat Afrika Selatan dari diskrimanasi antara ras kulit putih dan kulit hitam. Bukankah seharusnya kita hidup rukun tanpa ada alasan saling membenci dan membeda-bedakan satu sama lain?

Yang ketiga adalah kekurangan air bersih. Masyarakat yang hidup di kota kota besar pasti jarang atau bahkan tidak pernah merasakan masalah yang satu ini. Tapi, bagaimana dengan mereka yang hidup di tempat yang jarang sekali ditemukan air bersih? Tentu saja setetes air akan sangat berharga bagi mereka, bahkan mereka rela menempuh jarak yang sangat jauh demi mendapat air bersih

Dampak dari kelangkaan air sangat berbahaya, beberapa penyakit pun bisa terjadi mulai dari penyakit cacingan, diare, hingga malaria. Faktanya ada sekitar 1000 anak yang meninggal setiap harinya karena kekurangan air bersih di seluruh dunia, benar-benar sangat memprihatinkan. Dampak lain seperti kerusakan lingkungan dan ekonomi juga akan terjadi.

Di sini juga kadang terjadi masalah seperti itu, air sungai yang kotor sehingga kalau kita pakai air di ledeng akan kotor. Bahkan kita harus beli air yang bersih untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, minum, dll. Tapi tidak berlaku untuk penduduk yang tinggal di sekitar sungai yang ekonominya lemah, mereka terpaksa mandi pakai air sungai, bahkan mereka minum air yang kotor.

Dari hal itu pun aku menyadari bahwa air bersih itu mahal, dan seharusnya kita memakai air sesuai kebutuhan. Dengan memakai air bersih secara hemat kita juga mencegah terjadinya kelangkaan air bersih di tempat kita tinggal.  Kita juga bisa membantu teman-teman kita di seluruh dunia yang mengalami kelangkaan air bersih melalui UNICEF Tap Project.

UNICEF Tap Project semacam kampanye yang bertutujuan untuk membantu mereka yang kesusahan mendapat air bersih di seluruh dunia.  UNICEF Tap Project ini ditujukan kepada kita yang selalu bergantung pada smartphone. Kampanye ini berisi tantangan untuk meninggalkan gadget dan melakukan kegiatan yang produktif seperti mengerjakan tugas, memungut sampah, dll.

Caranya, Log In di http:/tap.unicefusa.org/mobile dan kita hanya perlu melakukan kegiatan produktif tanpa menyentuh gadget kita. Selama 15 menit yang kita sisihkan, mereka yang kesusahan bisa mendapat air bersih setara dengan 1 hari pemakaian. Sangat berguna, kan? Terutama bagi kita para remaja yang setiap saat memakai gadget. Kita juga bisa mengirimkan donasi berupa uang.

Itu masalah kemanusiaan yang terjadi di Indonesia yang aku tulis. Kenapa saya memilih 3 masalah tersebut padahal banyak masalah lain yang terjadi? Karena kita bisa langsung berperan menghadapi masalah itu.

Di mana kita bisa memulai? Kita memulainya dari tempat yang sederhana, di dekat rumah kita, di sekitar kita, di lingkungan kita. Mulai dari perubahan-perubahan kecil yang kita lakukan, niacaya sangat besar manfaatnya untuk mengibarkan bendera kemanusiaan. Ayo semuanya, tunggu apa lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang jaman. Bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tidak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya” -Pramoedya Ananta Toer

#LombaEsaiKemanusiaan