Fenomena gerhana matahari cincin beberapa waktu ini menjadi perbincangan hangat. Pasalnya, menurut pemberitaan yang tersebar, ada 25 kota dan kabupaten yang dilewati gerhana. Andaipun tidak dapat melihat secara langsung, di media sosial sudah barang tentu tak pernah ketinggalan dari peristiwa menakjubkan ini.

Gerhana matahari terjadi manakala posisi bulan berada di antara matahari dan bumi. Ketiganya berada segaris. Dari bumi, piringan bulan tampak lebih kecil daripada piringan matahari. Sehingga terlihat bayangan bulat hitam. Cuaca juga mengalami perubahan, lebih redup ketimbang biasanya.

Atas keagungan Allah, gerhana dapat terjadi dan dapat dilihat langsung oleh makhluk-Nya. Bagi yang melihat, dianjurkan untuk melaksanakan salat kusuf atau salat gerhana. Di mana pelaksanaan salat dilakukan sebanyak dua rakaat. Berbeda dengan salat pada umumnya, salat gerhana dalam satu rakaat ada dua kali rukuk. Diakhiri dengan salam dan ditambah penyampaian khotbah dari imam.

Tidak berhenti hanya pada soal ibadah, gerhana kerap kali dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat setempat. Kepercayaan ini berangkat dari paham nenek moyang atau orang tua zaman dahulu. Kemudian sebagian orang lantas menyebutnya sebagai mitos.

Masyarakat Sambas, misalnya, tersebar beberapa mitos yang diyakini tidak sedikit orang. Saya sebagai penulis, di masa kecil sering mendengar mitos ini. Dan di masanya, juga pernah mempercayai akibat pengaruh orang-orang sekitar. Namun, seiring berjalan waktu dan pembelajaran yang makin mendalam, akhirnya kepercayaan tersebut disadari adalah sekadar sebuah kepercayaan gaib.

Mungkin ada banyak, tetapi yang akan dituliskan di sini hanya sedikit: tiga saja. Sesuai yang saya alami sendiri.

Pertama, wanita hamil dilarang keluar rumah melihat gerhana.

Wanita yang sedang mengandung anak sangat disayangkan ikut menyaksikan fenomena yang hanya terjadi satu dua kali dalam setahun ini. Pasalnya, diyakini akan membuat anak yang lahir kelak badannya timbul bercak-bercak semacam tompel. Berikut sedikit gambaran percakapan larangan dalam dialek Sambas.

"Kitak yang bunting ye usah nak keluar rumah mun pas gerhane. Kalak anak kitak yang dalam parut ye badannye itam-itam. Daan pakai dikerajekan, bagus nogok di rumah ajak."

Lazimnya tompel ini disebut tanda lahir. Terlepas benar atau tidak, jika kita saksamai dari sesi medis, sebenarnya tanda lahir terjadi akibat pembuluh darah tidak tumbuh normal atau disebabkan pigmen tambahan pada kulit. Ada dua jenis tanda lahir: tanda lahir vaskuler dan tanda lahir berpigmen (alodokter.com).

Vaskuler terjadi ketika pembuluh darah abnormal. Biasanya timbul bercah merah muda, merah, ungu, atau biru. Menyerang bagian leher, wajah, dan kepala.

Sedangkan tanda lahir berpigmen adalah adanya kelompok sel berpigmen. Timbul bercak warna cokelat. Kedua jenis tanda lahir ini sebenarnya terbagi lagi menjadi beberapa macam. Tak usahlah dibahas panjang lebar, cukup gambaran sederhana saja.

Kedua, melihat secara langsung menyebabkan mata buta.

Gerhana yang dilihat langsung tanpa alat tambahan seperti kacamata khusus atau lainnya diyakini dapat membuat mata jadi buta. Dari sisi medis, melihat matahari langsung sebetulnya memang benar berbahaya.

Kebutaan akibat sinar matahari dikenal sebagai retinopati. Kondisi ini terjadi saat retina mata yang berada di belakang bola mata dibanjiri cahaya terang matahari.

Melihat gerhana memang berpotensi berbahaya bagi mata. Pernah dilakukan penelitian di Inggris pada tahun 1999 di Eropa, ada 45 orang penderita retinopati mendatangi klinik mata. Mereka mengaku selepas melihat fenomena gerhana.

Mengutip jurnal lancet tahun 2001, peneliti menyatakan bahwa tidak seperti yang kebanyakan orang duga, penderita retinopati kebanyakan tidak secara total menyebabkan kebutaan. Meski demikian, peneliti tetap menyarankan agar jangan melihat gerhana secara langsung apalagi dalam waktu yang lama. Semua itu dapat menyebabkan kerusakan pada mata.

Ketiga, mengguncang pohon mangga agar berbuah lebat.

"Mun pas gerhane, ade batang mangga yang laki daan buah. Bagus kitak guyuk kuat-kuat supaye die bebuah labat."

Ada satu dua orang warga di sekitar rumah saya ketika itu pernah mengguncang pohon mangganya. Di masa kecil, saya juga pernah ikut-ikutan karena tidak tahu-menahu mana mitos mana bukan.

Mitos ini agaknya berlebihan. Karena barangkali berada di luar nalar manusia. Kepercayaan ini mungkin turun-temurun diwariskan dari kepercayaan nenek moyang dahulu kala.

Sebenarnya mangga yang tidak berbuah bisa ditanggulangi. Apalagi sudah berada di umur produktif, sekitar 1,5 - 3 tahun. Caranya adalah dengan memberikan perlakuan khusus yaitu pemangkasan, memberikan luka pada batang, melengkungkan batang, pelilitan batang atau pencekikan, memberikan fosfor dan protein tinggi, serta pemberian zat pengaturan tumbuh (infoagribisnis.com).

Itu beberapa mitos yang saya alami sendiri dan masih diingat hingga hari ini. Bisa jadi pembaca, khusunya yang berasal dari Sambas memiliki pengetahuan yang lebih banyak tentang mitos seputar gerhana. Itu lumrah dan sah-sah saja. Pada dasarnya tulisan ini sekadar berangkat dari pengalaman empiris saya sebagai penulis.