Manusia pada dasarnya diciptakan dengan kodrat sebagai makhluk yang mampu untuk bernalar dan berpikir secara logis. Dari kemampuan bernalarnya inilah kemudian manusia bisa menemukan berbagai macam pengetahuan baru di dalam kehidupannya.

Banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki tentang konsep dan metode berpikir ternyata tidak menjadi jaminan bagi keterampilan berpikir seseorang jika tidak diimbangi dengan kebiasaan mempraktekan keterampilan berpikir atau bernalar tersebut.

Maka dari itu, selain mempelajari ilmu logika secara formal, praktek dari kecakapan bernalar tersebut harus tetap ditekuni melalui latihan serius setiap saat guna mengembangkan kemampuan berpikir serta mempertajam akal budi. Adapun di antara beberapa manfaat dari berlogika bagi kehidupan kita adalah tumbuhnya kemampuan berpikir secara benar, objektif, dan logis.

Dikutip dari Y.B. Adimassana pada bukunya yang berjudul Logika Berpikir Ilmu Lurus, bahwa berpikir secara benar sangat penting sebagai dasar prinsip dalam bertindak. Dan yang dimaksud dengan benar pada dasarnya adalah apa yang kita pikirkan itu berbanding lurus dengan realitas yang ada melalui pendekatan dan pengamatan terhadap kejadian yang benar benar terjadi secara nyata.

Berpikir benar juga berarti tidak mengalami penyimpangan dari aturan berpikir menurut logika agar kita dapat menarik kesimpulan yang benar dan sesuai dengan apa yang nyata. Dalam membentuk kemampuan berpikir agar dapat berpikir secara benar, ada beberapa prinsip yang mendasarinya, sebagai berikut:

Pertama, adanya hubungan yang real atau nyata antara satu objek dengan objek lainnya, karena untuk memahami suatu objek kita tidak bisa memisahkan keterkaitan hubungannya dengan objek objek yang ada di sekitarnya.

Kedua, adanya kesadaran bahwa setiap sesuatu itu pasti mengalami perubahan, perubahan yang mengarah kepada kemajuan dan perkembangan serta berasal dari faktor internal objek.

Kemudian untuk membangun konsep berpikir secara benar, ada beberapa hal yang dapat dipraktekkan, yaitu:

Pertama, melibatkan diri secara langsung pada praktek kehidupan sosial. Misalnya kita ingin mengamati kehidupan dan kebudayaan orang orang Dayak, maka agar dapat membentuk suatu pemikiran yang logis dan benar sesuai realitas, kita hendaklah melakukan pengamatan secara langsung dengan terlibat di tengah tengah keseharian mereka.

Hal tersebut dilakukan agar kita dapat memahami secara nyata mengapa ada kebudayaan yang seperti ini, mengapa mereka melakukan kegiatan yang seperti itu, yang mana jika kita pandang melalui kacamata antropologi adalah agar kita terjaga dari sikap etnosentrisme, yaitu di mana kita memandang nilai kebudayaan dan realitas kejadian yang ada hanya melalui perspektif dan kacamata pribadi sendiri saja.

Kedua, membiasakan diri untuk berpikir secara hati hati dan tidak terburu-buru, karena untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar tentunya kita harus membangun pemikiran dan sudut pandang juga berdasarkan dari kebenaran fakta yang ada, bukan sekadar berdasarkan dari apa yang kita inginkan sebagai individu.

Manfaat yang selanjutnya dari berlogika adalah kita mampu berpikir secara objektif, yaitu adalah berpikir berdasarkan pada data yang dapat diobservasi keberadaan dan kebenarannya.

Kegiatan berpikir ini jika kita lihat hanya sepintas maka akan memberikan kesan sebagai sesuatu yang ringan dan mudah dilakukan karena sudah terbiasa dilakukan sehari-hari. Namun jika dilakukan secara teliti dan intensif, maka akan dijumpai kesukaran berupa ketidaksesuaian antara penalaran yang dilakukan dengan kaidah kaidah logika yang berlaku.

Manusia juga sering menganggap suatu kebenaran itu adalah apa yang sesuai dengan keinginan dan kesukaannya. Kebiasaan ini dapat melahirkan sifat subjektivitas dalam pemikiran, sehingga melahirkan sebuah produk pemikiran yang tidak sesuai dengan kebenaran fakta yang ada pada realita.

Melalui berpikir objektif ini kita juga dapat mengubah sudut pandang terhadap sesuatu yang asalnya dipandang negatif menjadi sesuatu yang dapat dipandang positif. Seorang psikolog yang bernama Richard Binder dan John Adler menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) menggunakan teknik reframing, yaitu teknik di mana kita membangun ulang terhadap bingkai sudut pandang yang telah ada sehingga sesuatu yang pada asalnya diasumsikan sebagai sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang dipandang positif.

Menurut Kasdin Sitohang dalam jurnalnya yang berjudul Berpikir Kritis: Sebuah Tantangan dalam Generasi Digital, bahwa bersikap objektif terhadap realita yang ada itu berbanding lurus dengan kejernihan berpikir seseorang, serta dapat menguatkan sisi rasional dari pemikiran yang mana hal ini bersifat sangat esensial.

Untuk membuktikan kebenaran proposisi menurut Ainur Rahman Hidayat dalam bukunya yang berjudul Filsafat Berpikir: Teknik-Teknik Berpikir Logis Kontra Kesesatan Berpikir menyebutkan proposisi haruslah terlebih dahulu melalui pengamatan terhadap realitas objek beserta praktek nyatanya, derajatnya, dan isi konkrit yang terdapat pada proposisi tersebut.

Meskipun ketika dihadapkan pada realita yang sesungguhnya kita tidak pernah memiliki bukti yang benar-benar nyata yang bisa membenarkan proposisi, seperti pada dua buah jeruk yang sama yang ada di hadapan kita, meskipun terdiri dari jenis buah yang sama.

Hal ini dikarenakan momentum dari benda yang pertama pasti berbeda dengan benda yang kedua, karena setiap benda memiliki kurun waktunya masing-masing dan waktu adalah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan suatu materi.

Walaupun fakta pada realita yang ada demikian, namun dengan bersifat objektif dan memperhatian proposisi yang berhubungan dengan realita, setidaknya kita telah berada pada jalur berpikir dan bernalar yang mendekati kepada kebenaran.

Kemudian manfaat dari berlogika adalah kita dapat berpikir logis. Menurut Andriawan berpikir logis berarti suatu proses di mana seseorang menggunakan penalaran sebagai kemampuan untuk menemukan kebenaran dan menuju kesimpulan berdasarkan aturan, pola atau logika tertentu.

Kemampuan berpikir secara logis juga dapat dilihat ketika seseorang mampu menyimpulkan hasil tertentu yang dicapai dengan menerapkan argumentasi dari dasar pemikiran yang digunakan.