1 tahun lalu · 543 view · 5 menit baca · Filsafat 78914_56927.jpg

Tiga Macam Dalalah Lafzhiyyah Wadh'iyyah

Ngaji Mantik (Bag. 8)

Pada tulisan yang lalu sudah dijelaskan bahwa dalalah yang dijadikan dasar dalam ilmu mantik hanya ada satu, yaitu dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah. Karena hanya dalalah ini yang bisa memberikan petunjuk yang jelas. Selain jelas, ia juga bersifat universal.

Sebelumnya kita juga sudah sampai pada kesimpulan bahwa baik dalalah lafzhiyyah maupun ghair lafzhiyyah kedua-duanya dibagi tiga, yakni ‘aqliyyah (rasional), thabi’iyyah (natural) dan wadh’iyyah (kontekstual). Pengertian beserta contoh-contoh ketiganya juga sudah kita kemukakan.

Sekarang kita akan kembali lagi pada pembahasan dalalah lafzhiyyah untuk mengetahui pembagian lanjutan dari salah satu macam dalalah tersebut, yaitu dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah.

Sekedar mengingatkan kembali bahwa dalalah ini ialah dalalah yang petunjuknya diperoleh melalu lafaz, dan yang memastikan adanya keterkaitan antara lafaz tersebut dengan maknanya adalah konteks kebahasaan, bukan kemestian akal, juga bukan watak kemanusiaan.

Nah, karena dalalah ini adalah satu-satunya dalalah yang mu’tabar, maka ia diperinci dan dibagi lagi kedalam tiga bagian, yaitu muthabaqiyyah, tadhammuniyyah, dan iltizamiyyah. Pertanyaannya: Mengapa dalalah ini hanya dibagi tiga? Jawabannya: Karena petunjuk dari setiap lafaz yang digunakan itu hanya memiliki tiga kemungkinan.

Bisa jadi suatu lafaz itu menunjukan makna utuhnya, bisa jadi menunjukan sebagian maknanya, atau bisa jadi juga yang dimaksud itu ialah makna yang berada di luar esensinya, tapi menyertainya. Yang pertama muthabaqiyyah, yang kedua tadhammuniyyah, dan yang ketiga iltizamiyyah.

Tulisan ini akan membahas tiga macam dalalah tersebut beserta contoh-contohnya.

Dalalah Lafzhiyyah Muthabaqiyyah

Dalalah artinya petunjuk, lafzhiyyah artinya berbentuk lafaz, dan muthabaqiyyah artinya sesuai atau selaras. Dengan demikian, dalalah ini bisa kita pahami sebagai “penunjukan suatu lafaz atas makna utuh yang dibakukan untuk lafaz tersebut.” (dalalat al-Lafzhi ‘ala tamami ma’nahu al-lLadzi wudhi’a lahu) 

Sebagai contoh, kita ambil kata “rumah”. Apa yang kita tahu tentang rumah? Kita tahu bahwa rumah itu ialah tempat tinggal manusia yang terdiri bagian-bagian tertentu, dari mulai fondasi, pintu, tiang, kamar, atap dan lain sebagainya.

Suatu ketika, misalnya, istri atau pasangan Anda mengeluh: “Mas, please deh,  aku udah menderita hidup ngontrak begini. Aku pengen beli rumah. Kalau nggak, udah lah kita cerai aja! Aku menderita hidup sama kamu!” 

Oke. Sekarang kita perhatikan contoh di atas. Ketika istri Anda menyebut kata rumah, apakah yang dia maksud dengan kata rumah itu makna utuhnya atau sebagian kandungan maknanya? Jawabannya jelas. Ketika ada orang ingin membeli rumah, tentu yang dibeli bukan hanya atap, pintu ataupun kamarnya, tapi rumah seutuhnya.

Nah, ketika ada orang menyebut kata rumah, dan yang dia maksud dari kata rumah itu ialah makna utuh dari rumah, maka dalalah atau petunjuk dari kata rumah yang disebutnya itu masuk dalam kategori dalalah ini, yakni dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah muthabaqiyyah. Mengapa? Karena lafaz tersebut menunjukan makna utuhnya.

Contoh lain: kata Islam. Apa yang kita tahu tentang Islam? Kita tahu bahwa kata ini menunjuk suatu Agama monoteis yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dan nabi-nabi sebelumnya.

Ketika ada orang yang menyebut kata Islam, sebagai sebuah agama, dan yang dia maksud dari kata tersebut adalah makna utuhnya—seperti yang penulis sebutkan di atas—maka petunjuk lafaz tersebut tergolong kedalam dalalah ini, yaitu dalalah lafzhiyyah muthabaqiyyah.

Contoh lain, saya kira, sangat banyak. Intinya, dalalah muthabaqiyyah ialah petunjuk suatu lafaz atas makna utuhnya, bukan makna sebagian, juga bukan makna yang di luar esensi lafaz tersebut.

Dalalah Lafzhiyyah Tadhammuniyyah

Seringkali kita menggunakan suatu lafaz, tapi yang dimaksud adalah sebagian makna dari lafaz tersebut. Misalnya, kata Islam. Kita tahu bahwa makna utuh dari kata tersebut—seperti yang sudah penulis singgung di atas—adalah agama tauhid yang dibawa oleh seluruh nabi, sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Saw.  

Namun, dengan menggunakan dalalah kedua ini, bisa saja kita menggunakan kata Islam, tapi makna yang kita maksud dari kata tersebut hanya sebagian maknanya. Kita menggunakan kata Islam, tapi yang kita maksud hanya agama saja, misalnya, atau tauhid saja. Bukan makna utuhnya.

Contoh lain: kata manusia. Makna utuh dari manusia ialah hewan yang berpikir (al-Hayawan al-Nathiq). Dengan menggunakan dalalah ini, bisa saja kita menyebut kata manusia, tapi makna yang kita maksud adalah hewan saja, atau makhluk yang berpikir saja. Karena baik hewan maupun berpikir keduanya adalah kandungan makna manusia.

Tadhammun itu artinya kandungan. Dalalah tadhammuniyyah artinya ialah “petunjuk suatu lafaz atas sebagian kandungan maknanya (dalalat al-Lafzhi ‘ala juz’i ma’nahu alladzi wudhi’a lahu)  

Untuk lebih memperjelas lagi, kita ambil contoh yang lain: kata rumah, yang sudah penulis contohkan di atas. Makna utuh dari rumah ialah tempat tinggal manusia yang terdiri dari bagian-bagian tertentu, seperti yang kita tahu.

Tapi, dalam percakapan sehari-hari, seringkali kita menyebut kata rumah, dan yang kita maksud adalah sebagiannya saja, bukan makna utuhnya.

Misalnya ada orang minta tolong kepada Anda: “Mas, saya mau minta tolong, rumah saya bocor.” Apakah itu berarti bahwa semua bagian rumah milik orang itu bocor? Tentu saja tidak. Yang dimaksud adalah sebagiannya, yaitu atap, misalnya.  

Kesimpulannya, jika suatu lafaz menunjukan makna utuhnya, maka dalalah-nya ketika itu ialah dalalah muthabaqiyyah. Tapi jika yang dimaksud oleh suatu lafaz itu sebagian kandungan maknanya, maka petunjuk lafaz tersebut masuk dalam kategori dalalah lafzhiyyah tadhammuniyyah.

Dalalah Lafzhiyyah Iltizamiyyah

Bisa jadi kita menggunakan suatu lafaz, dan yang kita maksud bukan makna utuhnya, juga bukan sebagian maknanya, melainkan makna lain di luar esensi lafaz tersebut, tapi masih memiliki keterkaitan (luzum).

Misalnya kata api, tapi yang dimaksud adalah panasnya. Ketika disebut kata api, biasanya kita langsung membayangkan panas. Api dan panas adalah dua hal yang berbeda. Tapi, keduanya saling terkait.

Nah, jika kita menyebut kata api, dan yang kita maksud adalah panasnya, maka petunjuk dari kata api tersebut masuk dalam kategori dalalah lafzhiyyah iltizamiyyah. Mengapa? Karena lafaz tersebut menunjukan sesuatu yang berada di luar esensinya.

Dengan demikian, kita bisa mengartikan dalalah iltizamiyyah ini sebagai  “petunjuk suatu lafaz atas sesuatu yang berada di luar makna aslinya (dalalat al-Lafzhi ‘ala amrin kharijin ‘an ma’nahu al-Ashliy).

Contoh lain: Angka empat dan genap. Angka empat itu sudah pasti genap. Tapi tidak semua yang genap itu harus berangka empat. Keduanya adalah hal yang berbeda, tapi, meski berbeda, keduanya memiliki keterkaitan yang erat.

Di mana disebut kata empat, disitulah akan terbayang makna genap. Angkat empat dalam hal ini sebagai malzum, dan genap sebagai lazim. Dalalah-nya ialah dalalah iltizamiyyah.

Ada satu hal yang perlu dicatat mengenai jenis dalalah yang terakhir ini. Karena setiap lafaz itu pada umumnya memiliki keterkaitan makna yang banyak, para ahli ilmu mantik dalam hal ini memberikan syarat-syarat yang cukup ketat.

Mengapa? Karena kalau tidak, orang bisa berbicara seenaknya. Bisa saja orang berkata A, tapi yang dia maksud adalah B. Padahal makna B ini tidak ada kaitannya dengan kata A. Atau ada keterkaitan, tapi keterkaitannya tidak jelas. Nah, untuk menghindari hal tersebut, maka dibuatlah syarat-syarat khusus.  

Lantas, apa saja syarat-syarat yang diberlakukan itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus membahas terlebih dahulu macam-macam luzum (keterkaitan) yang ada dalam dalalah iltizamiyyah ini. Ulasan mengenai hal ini, insyaAllah akan dibahas pada tulisan mendatang.        

Artikel Terkait