Bulan Agustus adalah momentum kemerdekaan Indonesia. Selain itu pada bulan ini terdapat satu momen penting untuk menguatkan para ibu menyusui yaitu “world breasfeeding week” atau pekan menyusui dunia yang jatuh pada pekan pertama bulan Agustus tanggal 1-7Pekan ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menyusui, memperbaiki layanan menyusui dan sebagai bentuk dukungan kepada seorang ibu untuk menyusui.

Menyusui adalah aktivitas mulia bagi seorang ibu. Menyusui adalah proses transfer nutrisi dari ibu ke buah hati melalui ASI, yang merupakan nutrisi utama bagi bayi. ASI diciptakan dengan banyak sekali kelebihan. Komposisi nutrisi ASI berubah sesuai dengan kondisi bayi. ASI mengandung zat antibody yang membuat bayi memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah sakit. ASI bisa mencerdaskan bayi. Selain itu, ASI juga bisa didapatkan secara gratis. Kelebihan-kelebihan itu tidak akan didapatkan di produk susu lain.

Aktivitas menyusui juga sangat bermanfaat bagi ibu. Menyusui bisa mencegah ibu mengalami pembengkakan atau infeksi pada payudara. Menyusui bisa menjadi KB alami bagi ibu. Selain itu, menyusui juga bisa meningkatkan bonding  atau ikatan antara ibu dan bayi.

Proses menyusui tidak selalu mudah, banyak ibu yang mengalami berbagai masalah saat menyusui. Misalnya ASI yang tidak lancar, ASI terlalu banyak, pembengkakan payudara, atau bahkan ibu yang merasa stress saat menyusui. Padahal menyusui adalah komponen penting untuk memenuhi nutrisi pada masa tumbuh kembang buah hati. Kecukupan nutrisi pada 2 tahun pertama usia bayi sangat menentukan berbagai aspek kehidupan bayi di masa depan, misalnya kecerdasan, kesehatan, kepercayaan diri dan lain sebagainya.

Ada tiga kunci pokok utama agar seorang ibu bisa menyusui dengan sukses

Pertama adalah ilmu yang cukup tentang menyusui.

Semakin seorang ibu memiliki ilmu maka dia akan semakin percaya diri untuk menyusui dan hal ini bisa meningkatkan keberhasilan menyusui. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, kepercayaan diri ibu bisa menyukseskan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Mempelajari ilmu tentang ASI dan menyusui bisa dilakukan saat ibu hamil, sehingga ketika tiba waktunya untuk menyusui, ibu sudah siap untuk melakukannya. Ilmu tentang menyusui ini beragam, mulai dari tentang pentingnya ASI, perlekatan dan posisi yang tepat saat menyusui, kapan dan bagaimana menyusui yang efektif, apa yang harus dilakukan ibu untuk meningkatkan produksi ASI, hal-hal yang harus diperhatikan oleh ibu menyusui, dan lain sebagainya.

Di zaman perkembangan teknologi yang semakin maju ini, ilmu tentang menyusui bisa didapatkan dengan mudah. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah membaca buku KIA yang dimiliki setiap ibu hamil, lalu bisa juga dengan bertanya pada bidan atau dokter saat kontrol kehamilan, mengikuti kelas menyusui, membaca buku panduan menyusui atau membaca informasi seputar menyusui yang banyak dibagikan oleh dokter atau konselor laktasi di media social

Kedua, adalah semangat dan tekad yang kuat untuk menyusui.

Semangat dan tekad ibu untuk menyusui akan membuat ibu tidak mudah menyerah saat menyusui. Di awal proses menyusui seringkali ASI tidak langsung keluar dalam jumlah yang banyak atau cukup, sehingga ibu memberikan susu formula untuk bayinya dan tidak lagi memberikan ASI. Padahal proses menyusui di awal-awal kehidupan bayi inilah yang akan menentukan keberhasilan menyusui selanjutnya. Jika ASI yang keluar jumlahnya masih sedikit, maka tetaplah berusaha untuk menyusui karena hal ini akan membuat produksi ASI semakin meningkat.

Saat ibu sudah mulai bekerja di luar rumah, semangat dan tekad ibu untuk tetap bisa memberikan ASI walaupun tidak secara langsung juga sangat dibutuhkan untuk keberhasilan menyusui.

Ketiga, dukungan keluarga terdekat dan lingkungan.

Seringkali ibu baru mengalami stress saat awal-awal proses menyusui karena penyesuaian dengan peran baru sebagai ibu, jam tidur yang kurang atau terbatasnya ativitas karena harus selalu berdekatan dengan bayi. Sehingga dukungan orang terdekat merupakan hal yang sangat penting bagi ibu menyusui. Penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta menunjukkan bahwa dukungan suami dan keluarga bisa mendukung keberhasilan proses menyusui.

Dukungan ini juga bisa berupa menyediakan waktu bagi ibu menyusui untuk menikmati ‘me time’ atau waktu untuk dirinya sendiri. Bisa dengan melakukan hal-hal yang membuat ibu bahagia dan semangat lagi, melepaskan stress dan kepenatan selama menjadi ibu, karena stress bisa menurunkan produksi ASI. Keluarga terdekat juga harus diberi tahu mengenai pentingnya ASI ini sehingga bisa mendukung dan menyemangati ibu untuk terus memberikan ASI kepada bayinya.

Selain itu, dukungan dari teman kantor atau lingkungan juga dibutuhkan. Sediakan waktu  dan tempat bagi ibu menyusui untuk melakukan pompa ASI jika memang dibutuhkan. Jangan menilai atau memberikan komentar negatif bagi ibu yang sedang menyusui, karena setiap ibu memiliki problematika menyusui yang berbeda-beda. Tempat kerja seharusnya juga bisa memberikan cuti yang cukup, minimal 6 bulan bagi ibu menyusui, karena pentingnya menyusui bagi masa depan anak yang merupakan generasi penerus bangsa.

Kesuksesan dalam menyusui tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Peran keluarga dan lingkungan juga sangat penting. Semoga 3 kunci utama tadi bisa meningkatkan kesuksesan menyusui sehingga bisa mencetak generasi penerus bangsa yang lebih gemilang.