"Believe in yourself! Have faith in your abilities! Without a humble but reasonable confidence in your own powers you cannot be succesful or happy"_Norman Vincent Peale

Di tahun 2019, tepatnya bulan September sampai Oktober saya diijikan untuk mengikuti event Seminar dan Debat Nasional Ilmu Sosial dan Politik. Event tersebut dilaksanakan oleh UK WP2SOSPOL (Unit Kegiatan Pengkajian dan Pengembangan Sosial dan Politik)  Universitas Negeri Padang Sumatera Barat, dengan tema “Optimalisasi Revolusi Industri 4.0 Menuju Indonesia Jaya 2045”. 

Bersama dengan dua teman saya, kami diijinkan oleh salah satu Universitas di NTT, tempat di mana kami kuliah untuk mengikuti event itu usai dinyatakan lolos kurasi Esai dan berbagai administrasi lainya.

Dengan bekal pengetahuan,  kami ahkirnya berangkat ke Padang di ahkir bulan September mengunakan pesawat Lion Air. Kami tiba di Padang pukul 04.00 senja hari. Kurang lebih setengah jam di bendara kami dijemput oleh pendamping. 

Pendamping kami umurnya sebaya, maka disela-sela perjalanan menuju hotel tempat penginapan kami,  kami akrab ngobrol layaknya teman lama. Obrolan kami seputar suasana kota Padang. Kota yang hijau, asri, dan romantis, dengan populasi penghuninya adalah mayoritas Muslim.

Ahkirnya, selama enam hari kami menghabiskan waktu  di Universitas Negeri Padang. Dalam kurun waktu enam hari tersebut kami mengikuti  seluruh aneka kegiatan yang telah dilampirkan oleh panitia, mulai dari Perkenalan dari masing-masing universitas,  Seminar Nasional, pelaksanaan Debat Nasional, dan perjalanan berwisata di beberapa tempat di  Sumatera Barat. Jumlah kami waktu itu 48 orang yang berasal dari 16 Universitas se-Indonesia.

 Nah, itulah secuil kisah saya. So, masih panjang loh ceritanya, jika diteruskan jujur saya akan kehabisan kata-kata untuk menuliskannya.

Lalu, bagaimana kaitan dengan judul di atas dan kisah yang telah saya tuliskan ini.  Tidak rumit  guys, judul di atas merupakan kesimpulan yang dirangkum dari hasil diskusi dengan beberapa teman  saya dari Universitas Negeri Padang. 

Tidak usah saya sebutkan nama dan menjelaskan semua tentang kepribadian mereka, cukup saya bilang teman-teman saya itu  berdarah muslim, cantik, ramah, dan memiliki integritas  dalam berdiskusi.

Waktu itu hari ke lima, tepatnya saat kami melakukan field trip di beberapa tempat bersejarah di Sumatera Barat. Objek tujuan wisata  kami meliputi dua tempat  yakni Istana Pagaruyung dan Jam Gadang di Kota Bukit Tinggi. Oiya guys, jarak Kota Padang ke Kota Bukit Tinggi lumayan jauh, membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan.

Bertempat di Kota Bukit Tinggi, saya didampingi oleh beberapa teman cewek untuk  menjelajahi dan melihat indahnya Jam Gadang. Karena didampingi oleh teman cewek, maka tidak asyik jika saya diam membisu. Sambil mengekseplorasi Kota Bukit Tinggi saya pun mulai menyalakan situasi dengan mengajak mereka berdiskusi.

Mulanya kami berdiskusi tentang keindahan kota Bukit Tinggi, kemudian berlanjut pada situasi alam pulau Sumatera yang masih terjaga keasrihannya, hingga ahkirnya diskusi kami berahkir pada topik tentang bagaimana membangkitkan rasa percaya diri para mahasiswa.

Menariknya, di ahkir diskusi itu, saya berhasil mengumpulkan beberapa hal penting. Berapa hal penting itu saya rangkum dalam satu kalimat sederhana yakni  tiga kunci sukses menjadi mahasiswa apa adanya. Bahwa mahasiswa apa adanya adalah mahasiswa yang dalam dirinya menghidupi tiga kunci  utama yakni, afirmasi, berkarya dari hal-hal kecil, dan repetisi.  

Ketiga hal ini menuntun seorang mahasiswa untuk  sanggup menerima diri apa adanya. So, menerima diri apa adanya bukan berarti pasrah loh, tetapi percaya pada diri sendiri (be your self ) dengan berbekal pada tekad dan kerja keras menuju masa depan yang sedang diperjuangkan.

Pertama: Afirmasi

Merupakan penegasan positif terhadap diri sendiri. Seorang mahasiswa harus memiliki afirmasi yang kuat dalam dirinya. Ungkapan saya bahagia hari ini, saya pasti bisa adalah ungkapan afirmasi yang senantiasa harus dimiliki oleh seorang mahasiswa. Afirmasi membantu mahasiswa untuk bangun dari rasa minder dan menghilangkan stigma sa bisa apa, sehingga dengan demikian mahasiswa tampil prima dan elegan dengan wujud khas dirinya yang unik.

Kedua: Berkarya dari hal-hal kecil

 Sederhana saja, untuk menjadi sukses dan menjadi orang hebat tidak mungkin langsung mulai dari hal yang paling besar, bukan? Atau untuk menjadi pintar dan terkenal  seperti Newton, Plato, atau Cristiano Ronaldo mustahil langsung dimulai dari hal yang paling besar. Yang pasti segala sesuatu harus dimulai dari hal-hal kecil, entah itu pengetahuan, usaha, dan kerja. 

Maka, sebagai mahasiswa patutlah belajar untuk mencintai, memulai, dan melatih dari hal yang paling kecil. Dengan mencintai, memulai, dan melatih dari hal-hal kecil, maka setiap mahasiswa akan menemukan kemampuan atau talenta yang dianugerahkan oleh Tuhan, dan niscaya lebih dari itu yang dicita-citakan pasti akan tercapai.

Ketiga: Repetisi atau pengulangan. 

Ini merupakan kolaborasi dari dua hal di atas. Semisal sebagai mahasiswa saya mau menjadi mahasiswa yang penulis, maka saya berjanji untuk setiap hari menulis apa saja yang saya ketahui mulai dari yang paling mudah, dan saya yakin saya pasti bisa.

 Ini diulang terus menerus hari demi hari. Jika dilaksanakan secara konsisten dan  teratur maka akan terbentuk pola yang tersistematis. Pola tersebut akan membantu mahasiwa bertumbuh dalam kedisiplinan waktu. Dan dengan pola yang sudah tersistematis itu, saya percaya istilah kuno  time is money pasti dapat dimaknai dengan baik oleh setiap mahasiswa.

Nah, itulah guys kesimpulan dari hasil diskusi yang saya rangkum dengan  teman-teman tentang bagaimana membangkitkan rasa percaya diri para mahasiswa. Hemat saya, tiga hal kecil di atas tampaknya biasa-biasa saja dan  mungkin sudah kadaluwarsa di benak mahasiswa atau bagi siapa saja yang konon menguasai banyak teori, dan dengan bangganya menyuarakan tentang kebenaran di ranah media-media sosial. 

Tetapi, ingatlah ‘kebenaran’ tidak pernah meminta, mengemis apalagi memaksa setiap orang untuk memperjuangkannya. So, itu kisah saya guys, bagaimana dengan kisahmu?

Nah, sudah sangat panjang nih, saya ahkiri dulu tulisan ini guys, oiya, untuk teman cewek saya yang cantik-cantik itu, melalui kontak whastapp atau dm di akun instagram, kami sering-sering bertukar pikiran  tentang hal-hal kecil, tentang masa depan, tentang bagaimana situasi mahasiswa di Kupang dan di Padang, dan tidak lupa, ahkir perbincangan kami pasti tentang  pandemi covid-19

Sekian dulu, nanti kapan-kapan saya cerita lagi.  Mungkin tentang mahasiswa calon imam yang gagal jadi pastor, tentang lapang dada mahasiswa yang beraksi di depan kantor-kantor DPR untuk menyuarakan ketidakadilan di negara ini, atau mungkin tentang rahasia supaya cepat dapat jodoh bagi mahasiswa yang merasa diri jomlo.

 See you the next story.. Selamat menjadi mahasiswa apa adanya, yang tampil penuh percaya diri. Dan salam jangan lupa selalu pakai masker.