Orang tua mana yang tidak ingin anaknya siap menghadapi masa depan? Masa depan yang bagi sebagian orang, dianggap penuh misteri dan ketidakpastian. Apakah Anda sebagai orang tua sudah mengetahui, bekal apa yang harus Anda berikan, agar ananda berani menyongsong masa depan dengan rasa optimis dan riang gembira?

Setiap orang tua pasti menginginkan masa depan yang terbaik bagi buah hatinya. Salah satu yang dapat diupayakan oleh orang tua untuk mempersiapkan masa depan nan gemilang bagi buah hatinya, adalah dengan memberikan pendidikan yang terbaik. Masa depan bangsa terletak di pundak generasi muda. Mempersiapkan pendidikan generasi muda, sama dengan mempersiapkan masa depan bangsa.

Dalam sambutan yang diberikan di hadapan para tenaga pendidik, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, menyebutkan ada tiga komponen utama yang harus disiapkan oleh orang tua dan tenaga pendidik, dalam rangka mempersiapkan masa depan generasi muda Indonesia:

Pertama, bekal karakter atau akhlak. Pentingnya pendidikan karakter atau pembinaan akhlak tidak hanya berlaku di Indonesia, tapi juga diakui oleh dunia. Karakter terdiri dari dua jenis: karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral ditandai dengan sifat beriman, taqwa, jujur dan rendah hati. Sementara karakter kinerja ditandai dengan sifat suka bekerja keras, ulet, tangguh, pantang menyerah, dan tuntas dalam mengerjakan sesuatu. Antara karakter moral dan karakter kinerja bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kita tentu tidak ingin anak kita memiliki sifat jujur tapi pemalas atau pekerja keras tapi culas.

Kedua, bekal kompetensi. Secara umum pengertian kompetensi adalah suatu kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas di bidang tertentu, sesuai dengan jabatan yang disandangnya. Ada empat jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh generasi muda Indonesia, yaitu: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Ketiga, literasi atau keterbukaan wawasan. Dahulu, definisi literasi hanya identik dengan kegiatan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Saat ini, generasi muda Indonesia tidak boleh hanya paham calistung, namun harus juga memiliki literasi baca, literasi budaya, literasi teknologi, dan literasi keuangan. Patut disayangkan, bahwa generasi muda di Indonesia, memiliki minat baca yang tinggi, namun memiliki daya baca yang rendah.

Indikasi bahwa minat baca tinggi, namun dayabaca rendah ada pada fenomena: minat baca pada media sosial tinggi, tapi daya baca buku rendah. Anak-anak bisa tahan berjam-jam membaca obrolan daring (online chat), hal ini menandakan minat baca sudah ada. Namun, begitu bertemu artikel dengan tulisan yang panjang, seketika langsung dilewatkan, hal ini menandakan daya baca rendah. Buku tidak lagi menjadi sahabat para generasi muda. Saat ini yang menjadi sahabat para generasi milenial adalah gawai. Gawai nyaris menjadi bagian di seluruh kegiatan harian mereka, untuk berkomunikasi, bersosialisasi, dan belajar. Dalam jangka panjang, kekhawatiran yang timbul adalah, dangkalnya pengetahuan para generasi muda, karena tidak lagi gemar membaca buku.

Dari ketiga hal tersebut di atas, yang paling mendasar atau fundamental adalah bekal karakter  atau akhlak. Namun kompetensi juga jangan sampai hilang. Sebagai ilustrasi, jika saat ini anak-anak kita menghadapi ujian, anak-anak kita akan diberi kertas untuk menjawab pertanyaan. Berikutnya manakah jawaban yang akan mendapatkan nilai tinggi? Jawaban yang akan mendapat nilai tinggi adalah jawaban yang paling mirip dengan buku teks (text book). Sementara, yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah: Anak kita hanya akan diberikan kertas kosong. Anak kita akan diminta mengerjakan semaunya, sesuka hatinya. Lalu anak kita akan kebingungan dan tidak bisa menjawab. Jika generasi muda Indonesia tidak siap menghadapi perubahan, maka bangsa Indonesia akan kalah.

Jika dulu anak-anak Indonesia ditanya “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”. Saat ini pertanyaan harus diubah menjadi “Nanti kalau sudah besar mau membuat apa?” karena situasi berubah dengan sangat cepat. Sebuah profesi yang dulu pernah ada dan bahkan menjadi profesi  idaman, bisa jadi akan punah di masa yang akan datang. Dahulu kala, dengan mengendarai sepeda motor berwarna oranye, tukang pos rutin mengantarkan surat dari rumah ke rumah. Saat itu, top betul rasanya berprofesi sebagai tukang pos. Tak heran, banyak anak-anak yang bercita-cita jadi tukang pos. Saat ini, tukang pos tidak lagi menjadi profesi idaman, karena semua komunikasi dilakukan secara elektronik, via telepon, surat elektronik (e-mail), maupun aplikasi chatting online. Profesi yang ada hari ini, belum tentu masih ada di masa yang akan datang.

Kita jangan terpesona dengan kebesaran masa lalu, gelisahlah dengan tantangan di masa depan. Gelisahlah, seperti apa pola pendidikan terbaik di dunia saat ini. Jangan terpukau pada romantisme masa lalu, bahwa kita sudah mencapai prestasi ini dan itu. Kita harus selalu waspada dan bersiap menghadapi masa depan.

Kemenangan di masa yang akan datang dipersiapkan di ruang-ruang keluarga dan di ruang-ruang kelas. Dari situ kebangkitan generasi muda akan terjadi. Jika kita sudah membekali generasi muda kita dengan tiga komponen (karakter, kompetensi, dan literasi), setelah itu kita bisa membiarkan anak-anak terbang menyongsong masa depannya. Mereka akan siap untuk menghadapi apa saja yang akan mereka temui di masa yang akan datang. Dan semoga, kerja keras orang tua dan tenaga pendidik dalam mempersiapkan generasi muda akan diganjar dengan pahala dan dicatat sebagai amal shaleh oleh Yang Maha Kuasa.