Pasca meraih treble winner di musim 2012/2013, Bayern Munich selalu menjadi kandidat kuat juara Liga Champions. Keperkasaan mereka di ajang domestik menjadi alasan logis menjagokan mereka. Namun ternyata harapan tidak sesuai kenyataan. 

Musim ini Munich lagi-lagi memenangkan Bundesliga lebih awal. Akankah mereka membawa titel Liga Champions ke Jerman musim 2017/2018 ini? Berikut tiga alasan optimis dan skeptis peluang Munich menjuarai Liga Champions

Tiga Alasan Akan Juara

1. Keuntungan konsentras

Menyegel gelar Bundesliga Jerman pada pekan 29, memberi Munich modal dasar yang sangat mahal untuk memenangkan Liga Champions. Heynckes bisa mengistirahatkan sebelaspemain utama dan merancang taktik melawan calon-calon lawan di Liga Championsdengan lebih fokus.

Secara psikologis, para pemain juga dapat menghadapi lawan di Eropa dengan lebih tenang. Tekanan mempertahankan gelar liga sudah dilewatkan. Mereka akan menantang lawan di Eropa dengan status jawara yang  berhasrat melumat lawan-lawan selanjutnya.

Kemewahan semacam itu yang tak dimiliki tim-tim lain. Real Madrid masih harus bersaing dengan Valencia dan menghindari kejaran Villareal untuk mengamankan jatah Liga Champions musim depan di La Liga. Demikian pula dengan Liverpool dan AS Roma.Masing-masing masih berjuang di Liga Utama Inggris dan Serie A untuk mengamankan jatah Liga Champions musim depan. 

Calon lawan di DFB Pokal pun tidak sedigdaya Munich. Mereka saat ini sudah mencapai semifinal DFB Pokal. Calon lawan yang dihadapi adalah Bayer Leverkusen. Di kotak semifinal lain, FC Schalke berhadapan dengan Eintracht Frankfurt.

Bila dilihat dari jarak poin mereka di Bundesliga, kedigdayaan Munich tak terbantahkan. Munich berjarak 24 poin dengan Leverkusen (72-48). Jarak poin Munich dengan FC Schalke adalah 20 (72-52). Sedangkan interval poin Munich dengan Eintracht Frankfurt sebesar 26 poin (72-46).

Di ajang Bundesliga, Bayern sudah mengalahkan Leverkusen dengan total gol 6-2, masing-masing dengan skor 3-1 di kandang maupun tandang. Schalke 04 dikalahkan Bayern dengan total gol 5-1, masing-masing dengan skor 3-0 di kandang Schalke lalu 2-1 di kandang Bayern. Eintracht Frankfurt baru kalah dari Bayern 1-0 pada pertemuan pertama di Bundesliga.

Bila melihat sisa pertandingan di Bundesliga yang tak perlu mereka menangkan lagi, ditambah konsentrasi calon lawan yang masih terpecah dan rival-rival di DFB Pokal yang jauh lebih lemah, Munich punya keuntungan konsentrasi besar untuk mempersiapkan fisik, psikologis dan taktik menghadapi lawan-lawan di Liga Champions.

2. Jupp Heynckes, Ahli Liga Champions

Dari tiga kali membesut tim di final Liga Champions, Jupp Heynckes, pelatih Munich, memenangkan dua gelar Liga Champions. Madrid 1998/1999, Bayern Munich 2012/2013. Tim kacau balau Real Madrid pada musim 1998/1999, berhasil dibawa Heynckes mengalahkan Juventus.

Padahal saat itu Juventus adalah juara Serie A dan kontestan final Liga Champions tiga musim berturut-turut, yang satu di antaranya mereka menangkan. Di musim itu Heynckes bertengkar dengan Clerence Seedorf dan Predrag Mijatovic, dua bintang Madrid. Madrid sendiri akhirnya hanya berakhir di peringkat keempat La Liga akhir musim 1997/1998. Walaupun meraih Liga Champions, Heynckes dipecat Madrid.

Setelah kalah dari Chelsea di final Liga Champions 2011/2012, Heynckes sukses meraih Liga Champions musim 2012/2013 bersama Munich. Trofi tersebut adalah bagian dari treble winner Munich dan kado perpisahan Heynckes yang memutuskan pensiun melatih.

Pengalamannya membawa tim kacau balau Real Madrid menjadi juara Champions lalu meraih treble winner, termasuk Liga Champions, untuk Munich di musim 2012/2013, membuktikan rekam jejak meyakinkan Heynckes memenangkan Liga Champions.  

Sampai saat ini pun Heynceks masih memegang catatan 13 pertandingan tak terkalahkan di Liga Champions bersama Bayern Munich sejak 2013 hingga kembali melatih tahun 2017 sampai sekarang. Catatan tersebut membuktikan sentuhan tangan dingin Heynckes meraih trofi Liga Champions. Sentuhan yang sangat mungkin diulang musim ini.

3. Keberuntungan

Pada final Liga Champions musim 2000/2011, anak asuh Otmar Hitzfield dikejutkan ketika Gaizka Mendieta menembak sukses penalti ke gawang Oliver Kahn, di menit ketiga, untuk keunggulan Valencia 1-0.

Munich tampak akan pasti kalah saat tembakan penalti Mehmet Scholl dihentikan kiper Santiago Canizares di babak pertama. Penalti diperoleh Munich setelah Stefan Effenberg jatuh diganjal Jocelyn Angloma di kotak penalti Valencia.

Namun, keberuntungan berpihak pada Munich di stadion San Siro, Milan malam itu. Pada menit ke 51, tangan Amadeo Carboni menyentuh bola setelah kewalahan berduel dengan Carsten Jancker, striker raksasan Munich bertinggi 193 cm.

Penalti pun diberikan kepada Munich oleh wasit asal Belanda, Dick Jol. Stefan Effenberg menembak bola ke arah kanan sedangkan Santiago Canizares bergerak ke kiri. Kali ini, Munich sukses menyamakan kedudukan hingga babak tambahan berakhir.

Pada babak adu penalti, tembakan penalti Paulo Sergio, penendang pertama Munich, melayang ke atas gawang Valencia. Secara psikologis, kegagalan penendang pertama akan meruntuhkan kepercayaan diri penendang berikutnya.

Namun, keberuntungan memang melekat pada Munich malam itu. Sekalipun tendangan bek Munich, Patrick Anderson, juga gagal, kiper Oliver Kahn berhasil menepis tendangan Zlatko Zahovic, Amadeo Carboni lalu Mauricio Pellegrini.

Gelar Liga Champions musim 2000/2011 pun menjadi milik Bayern Munich. Air mata Samuel Kuffour dua tahun sebelumnya pun terobati. Memang ada faktor kekuatan mental di sini. Namun tanpa keberuntungan, Munich belum tentu dapat membalikkan keadaan setelah dua kali tertinggal dari Valencia.

Pernah dinaungi keberuntungan menjadi variabel harapan bagi Munich untuk dapat membawa pulang kembali gelar Liga Champions musim ini. Gelar yang terakhir kali mereka rebut enam tahun silam.

Tiga Alasan Tidak Akan Juara

1. Memenangkan Bundesliga Lebih Awal Tidak Menjamin Menjuarai Liga Champions

Bayern mempertahankan gelar juara Bundesliga musim 2013/2014, pada pekan ke 24. Pada musim 2014/2015, Bayern Munich memenangkan liga Jerman pada pekan ke-30.  Pada musim 2015/2016 lagi-lagi Bayern Munich mempertahankan gelar liga lebih awal. Munich memenangkan liga pada 7 Mei 2016. Sekalipun Bundesliga baru berakhir tanggal 14 Mei 2016. Ketiganya di bawah Pep Guardiola.

Musim 2016/2017, Bayern memenangkan gelar kelima Liga Jerman berturut-turut pada pekan ke-31 setelah membantai Vfl Wolfsburg 6-0. Namun tim asuhan Ancelotti hanya mencapai perempat final Liga Champions musim itu.

Memenangkan Bundesliga lebih awal selama ini tidak menjamin Bayern Munich memenangkan Liga Champions, minimal masuk final. Sehingga modal keuntungan konsentrasi karena telah memenangkan liga lebih awal, harus benar-benar diwujudkan ke dalam persiapan tim.

2. Tantangan Real Madrid

Dalam empat musim terakhir, Bayern memang konsisten sukses minimal mencapai fase perempat final Liga Champions. Namun mereka berturut-turut disingkirkan oleh tiga klub besar Spanyol. Real Madrid, Barcelona dan Atletico Madrid.

Pada musim 2013/2014, tim juara bertahan Bayern disingkirkan Madrid dengan skor agregat 5-0. Di musim 2014/2015, Bayern dikalahkan calon juara Barcelona dengan total skor 5-3. Musim 2015/2016 mereka dipulangkan Atletico Madrid lewat agregat 2-2 dengan keunggulan gol tandang Atletico.

Musim 2016/2017, Bayern, lagi-lagi, disingkirkan Real Madrid dengan agregat skor 3-6 pada fase perempat final. Musim ini, Atletico dan Barcelona memang sudah tersingkir. Namun pertemuan dengan juara bertahan dua musim berturut-turut Real Madrid di semifinal akan menjadi pertarungan menegangkan.

3. Ketidakberuntungan

Apa lagi yang bisa dijelaskan dari ketidakberuntungan? Ketika skuat lengkap, taktik sudah dipersiapkan dengan cermat dan dieksekusi serapi mungkin tapi keberuntungan menjauhi tim. Kemampuan manusia memprediksi sesuatu pastilah terbatas. Hal-hal di luar prediksi sangat mungkin terjadi.

Bayern pernah merasakan, setidaknya, dua kali. Pada final Liga Champions tahun 1999 di Nou Camp, mereka sudah unggul 1-0 lewat gol Mario Basler pada menit ke 6 sampai menit ke 90. Apa daya, dua gol Solskjaer dan Sheringham merebut trofi dari Bayern ke Manchester United.

Di musim 2011/2012, Bayern lagi-lagi unggul 1-0 lewat gol Thomas Meuller pada menit 83 di final Liga Champions. Pertandingan tinggal tersisa tujuh menit, gol penyama kedudukan Didier Drogba di menit ke 88 mengawali ketidakberuntungan mereka. Kegagalan Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger menembak penalti, menerbangkan trofi Liga Champions ke Stamford Bridge, markas Chelsea.

Munich memang digdaya bila dilihat dari faktor fokus ekstra dari kompetitor-kompetitor lain dan tangan dingin Jupp Heynckes memenangkan Liga Champions. Namun mereka dua kali pula pernah tersandung ketidakberuntungan membawa pulang trofi Liga Champions.

Di Tangan Yang Tepat

Sejak memenangkan Liga Champions di musim 2012/2013, Munich selalu terhenti di fase semi final dan perempat final. Memenangkan Bundesliga lebih awal belum menjamin mereka dapat menyegel Liga Champions.

Namun musim ini, Munich kembali dilatih oleh Jupp Heynckes, pelatih yang mempersembahkan treble winner, termasuk Liga Champions terakhir mereka. Jangan lupa pula, Heynckes adalah pelatih Munich yang menyingkirkan Real Madrid di semifinal musim 2011-2012.

Ada pula James Rodriguez, eks gelandang Madrid yang dicadangkan pelatih Zidane selama dia bermain di Santiago Barnebeu. Akankah tangan emas Heynckes kembali sukses memoles Munich merebut Liga Champions musim ini? 

Sumber: bundesliga.com