Hujan sudah dua kali turun di tanah Bugis tempat kita memijak rumput yang mulai menjalar dan menumbuh kembali. Mungkin itu ijabah dari doa-doa petani yang panjang dari jauh hari sebelum aku mengenal akun Facebook milikmu.

Kau perempuan cantik, "Imut" katamu. Tapi manis juga, tambahan untuk fakta dari bibirmu yang jarang pakai gincu. Aku sebut kau dengan banyak nama. Termasuk Wahyunisuhaely dan belakangan kau memintaku memanggilmu dengan nama khusus. Aku tak peduli.

Dua malam yang lalu setelah petualang dan saling stalking di sosial media. Kau tidak menampakkan keraguan, ketakutan dan bahkan terlihat santai menemuiku di lokasi tujuan. 

Walau pertama kali dari perkenalan kita di Facebook seminggu lalu. Kau terlihat yakin padaku, sebagai teman baru yang baik. 

Kira-kira begitu dalam benakmu, sebab kau betul-betul datang, menemui aku yang menunggumu di pertigaan tak jauh dari salah satu puncak bukit di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, tempat yang diyakini bersejarah setelah kunjugan kita.

Kita disatukan oleh beberapa hal, nanjak, camp, dan sama-sama suka memuji rembulan. Aku masih sangat hafal caramu memuji dengan rambut terurai, aromanya mirip parfum Italy.

Kerap-kali aku tersenyum sendiri kala mengingat saat kita sama-sama di depan tenda. Kau buka carriel-mu dan ternyata kau lupa memasukkan portable, hanya membawa tabungnya saja. "Aku benar-benar lupa" kesalmu.

Kuamati gurat wajahmu, nampak banyak orang yang sedang berusaha membangun kediaman di kepalamu, sehingga kau terlalu kuat menuju lupa.

Hingga kita sampai pada survival sederhana. Ternyata bara api yang menyala dari percakapan kita yang terlampau hangat, mampu mencairkan aroma kopi. 

Walau hanya cukup untuk beberapa gelas, tetapi sangat lengkap bila dimasukan dalam lembar kenangan kita, yang setelahnya kau sering-sering mengaku rindu.

"Panggil aku Putry saja" pintamu. Dan aku tetap menyebut nama yang tertera di akun Facebook-mu. Sebab aku ragu kata Putry telah diucapkan oleh seseorang yang membuatmu patah. 

Kepatahan yang betul-betul membuatmu phobia, hingga menolak jatuh cinta lagi. Bahkan kau benci kata cinta. Meski diam-diam aku menemukan energinya di matamu yang sipit itu.

Sebenarnya malam itu sangat sakral, tepat pada malam Jumat. Keramat dan sangat membuat beberapa orang takut keluar rumah, itulah sebab aku menetap lama-lama dalam tendamu.

Cerita tentang masa lalumu yang sebenarnya aku tak ingin mendengarnya, tetapi telingaku tetap saja terbuka lebar merekam. "Bulan sudah di atas kepala, mari kita tidur?" katamu. 

Aku membenarkan, sementara kantukku telah kukubur jauh sebelum rencana kita berhasil ditunaikan.

Malam itu aku menuju bukit, kau sendirian. Tujuanku sebenarnya tak lain hanya untuk saling kenal. Tetapi kenyamana lebih dulu menyapa dengan sangat ramah.

Cukup banyak rekam jejak ingatanku dari ceritamu, tapi aku hanya tertarik menulis proses perpaduan cangkir kita malam itu. Bukan tanpa alasan, sebab cemburu lebih panas dari bara api yang menyala, dan sakit hati lebih menyakitkan dari sekedar tato, katamu.

Karena itu kau menasehatiku agar tak jatuh cinta terlalu dalam. Kau juga menolak untuk membuatkanku tato, walau kau sendiri gemar memasangi bagian tubuhmu. 

Padahal aku juga ingin tato. Dengan gambar wajahku di punggungmu, atau namaku di wajahmu. Bukan di tubuhku, alih-alih kau menyayangi tubuhku. Karena itu pula kau memintaku jaga kesehatan.

Tak terasa, sudah larut malam. Tapi cerita kita tak pernah selesai. Kau mulai mengantuk, dan mendekat, memelukku lebih erat. Aku berbalik dan mengecup keningmu dua kali, semoga kau masih ingat, dan semoga pula kau merasakannya. Maaf!

Keningmu terlalu menawan, dan bibirku tak ingin ketinggalan, sementara namaku meminta agar kepalamu menyimpan beberapa kata. Olehnya itu, aku menanamkan biji kecupan di wajahmu.

Kau boleh marah, atau jengkel serta tidak peduli. Tapi malam itu, aku benar-benar kedinginan. Beberapa selimut kubalutkan di tubuhku, tetap saja gigil berkecamuk. Satu-satunya kehangatan, hanyalah dari sepasang lenganmu.

Kupegang telapak tangan kirimu, serasa memegang jemari ibuku. Kasar dan terasa tulus seperti air mengalir dengan ikhlas. Aku suka caramu menuntut keadilan, "Kau kupeluk, sementara aku juga butuh kehangatan" tegasmu.

Waktu melaju, kita telah melewati masa sulit, dimana kau dan aku sama-sama ragu untuk berbagi kasih dalam dingingnya suasana.

Malam itu, aku lebih banyak menyimak. Sayangya kau banyak bercerita tentang kerapuhan hatimu, di lain sisi. Kau benci kata cinta. Suatu kewajaran, sebab kau adalah korban dari luka lama yang belum sempat kau temui penawarnya.

Ceritaku tak banyak. Selembar buku yang kutulis mungkin sudah cukup membuatmu tahu alasanku memilih diam.

Kau adalah perempuan hebat, dan itu patut dapat pengakuan. Minimal dariku, sebab tak mungkin dari negara. Negara kita lebih asik mengurusi orientasi seksual ketimbang menginspirasi perempuan progresif.

Bunga yang kulekatkan di halaman pertama buku itu mungkin sudah layu dan kehilangan aroma. Tapi nilai semangat, kasih, sayang dan perjuangan telah tumbuh abadi seiring kekuatan darahmu mengalir.

Satu poin yang perlu kita pahami, bahwa waktu memberikan banyak hal. Namun, juga merenggut apa-apa saja yang melekat dalam diri seseorang, termasuk pertemuan.

Semoga kita bisa letemu lagi, U*E!