Tentang Tidur

Manusia memiliki kebutuhan untuk beristirahat setelah melakukan banyak aktivitasnya. Salah satu bentuk istirahat ialah tidur. Dilansir dari laman Detik Health, tidur tak hanya sebagai bentuk istirahat, namun juga proses perbaikan pada seluruh organ tubuh.[1] Oleh karenanya, saat tidur energi manusia kembali pulih oleh karena organ-organ yang mengalami recovery pula.

 

Dilansir dari laman Wikipedia, pada saat tidur, fungsi saraf motorik dan sensorik yang terhubung dengan saraf pusat akan “diblokade”. Sehingga pada saat tidur, manusia cenderung tidak bergerak dan daya tanggap pun berkurang. Fase peralihan dari sadar ke tidur disebut dengan pradurmitium dan fase peralihan dari tidur ke kembali sadar disebut dengan postdormitium.[2] 

 

Pada saat tidur, organ-organ manusia mengalami berbagai pengurangan fungsi. Seperti contohnya otak. Ketika manusia tidur, aktivitas otak manusia turun sekitar 40 persen. Penurunan fungsi ini merupakan akibat dari 40 persen aliran darah normal yang sebelumnya mengalir ke otak, pada saat tidur dialihkan ke otot dan organ lain. Sehingga, ketika manusia sadar dari tidurnya yang cukup, ia akan merasa segar kembali.[3]

 

Selain otak dan otot, sistem pencernaan akan mengalami penurunan fungsi. Sehingga, kecepatan sistem pencernaan akan melambat. Dari hal inilah akhirnya denyut jantung turuj antara 10 sampai 30 denyut per menit ketika tidur. Aliran darah ikut melambat. Sel-sel dan jaringan pun mengalami hal yang sama.

Dari penjelasan tentang apa yang terjadi pada tubuh ketika tidur, kita dapat mengetahui bahwa tidur adalah penting bagi manusia. Tidur berfungsi sebagai pemulihan energi manusia. Tak hanya itu, tidur dapat menjadi ajang bagi organ-organ untuk memulihkan kondisinya (recovery). Namun, masih terdapat sebagian manusia yang tidak memahami pentingnya hal ini. Terdapat berbagai penyebab yang menjadi alasan kekurangan tidur.

Bagi sebagian manusia yang berada usia produktif, beban pekerjaan dan tuntutan tugas menjadi penyebab utama dari kurang tidur. Tak hanya itu, kondisi psikologis seperti stress juga dapat menjadi penyebab dari kekurangan tidur. Dari hal tersebut, tentunya akan semakin memperburuk konidis tubuh. Kekurangan tidur pun menjadi penyebab dari berbagai masalah kesehatan saat ini.

Kondisi kurang tidur ini sangat tidak baik bagi manusia. Seperti yang sebelumnya dijelaskan, tidur menjadi waktu bagi tubuh untuk recovery. Sehingga, kurang tidur dapat mengurangi waktu bagi tubuh untuk memulihkan dirinya. Berbagai gangguan kesehatan mulai dari  yang ringan hingga berat dapat disebabkan oleh kurangnya tidur.


Gangguan kesehatan ringan dapat berupa menjadi sering lupa (pikun), mengurangi fokus saat melakukan sesuatu, hingga berat badan meningkat.[4] Selain itu, terdapat juga gangguan kesehatan yang sampai mengakibatkan kematian. Melansir dari laman Alodokter, kurangnya tidur pada manusia dapat mengakibatkan penyakit jantung, baik aritmia[5] maupun serangan jantung.[6]

 

Dari berbagai kondisi yang telah disebutkan, manusia perlu menyadari bahwa tidur adalah hal yang penting. Di dalam tidur, manusia belajar untuk menahan diri untuk terus melakukan sesuatu di luar kemampuan dirinya. Tindakan yang di luar kemampuan diri adalah tindakan yang berisiko bagi kesehatan.

Seperti yang telah dikatakan oleh Aristoteles bahwa tindakan yang berlebihan maupun berkekurangan adalah tindakan yang buruk. Sehingga, di dalam artikel ini akan dijelaskan pandangan Aristoteles mengenai keutamaan. Selain itu, dijelaskan bagaimana cara mencapai kebahagiaan melalui tindakan berkeutamaah. Sekaligus, akan dijelaskan pula mengenai keutamaan ugahari atau kesederhanaan diri.

Aristoteles

Ibarat pepatah “Tak kenal, maka tak sayang”, kita harus mengenal terlebih dahulu siapa Aristoteles sebelum mempelajari pemikirannya. Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani Kuno yang  terkenal hingga kini. Ia lahir pada tahun 384 SM di Stagyra, daerah Thrakia, Yunani Utara. Secara umum, ia dikenal sebagai seorang murid dari Plato, yang adalah murid dari Sokrates.

Pada tahun 342 SM, ia menjadi guru dari Iskandar Agung muda di kerajaan Makedonia. Selanjutnya pada tahun 335, ia kembali ke Athena dan mendirikan sekolah bernama Lykaion. Di sana ia melakukan berbagai penelitian ilmiah (karena ketertarikannya terhadap hal empiris), juga mengajar hal-hal filsafati. Di sekolah ini pula lah ia menulis tentang hidup yang baik bagi manusia.

Keutamaan menurut Aristoteles

Hidup manusia selalu mengarah pada hidup yang baik. Hidup yang baik tersebut menjadi sebuah tujuan bagi hidup manusia. Namun jika dikatakan sebagai tujuan, tujuan hidup yang baik dapat ditafsirkan menjadi berbagai definisi oleh banyak orang. Ada orang yang mengatakan bahwa hidup yang baik ialah hidup sukses, memiliki banyak harta, dan penuh dengan kesenangan.


Di dalam buku Nicomachean Ethics 1, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan dan hidup yang baik tersebut haruslah merupakan tujuan demi tujuan itu sendiri.[7] Tujuan yang paling terakhir, yang mengerucut demi dirinya sendiri, dapat dicapai dengan tujuan-tujuan lain yang dibbuat demi mencapai tujuan akhir. Lantas, tujuan akhir apa yang dimaksud oleh Aristoteles?

 

Tujuan yang dicapai demi tujuan itu sendiri, oleh  Aristoteles disebut dengan kebahagiaan atau Eudaimonia.[8] Kebahagiaan disebut sebagai tujuan  paling akhir dari manusia karena manusia tidak membutuhkan apapun setelah memiliki kebahagiaan. Kebahagiaan itulah yang baik pada dirinya sendiri. Tidak ada hal lebih tinggi lainnya yang ingin dicapai oleh manusia selain kebahagiaan. 

 

Lantas, dengan apa tujuan akhir yang adalah kebahagiaan itu dapat dicapai? Aristoteles mengatakan bahwa kekayaan bukanlah kebahagiaan itu. Menurutnya, kekayaan hanyalah sarana, yang dengannya digunakan sebagai cara untuk mencapai tujuan lain. Oleh karenanya, kekayaan tidak menjamin manusia untuk mendapat kebahagiaan.

Dengan demikian, kebahagiaan manusia dapat dicapai bukanlah dari apa yang dimilikinya, melainkan melalui apa yang dapat manusia lakukan. Sehingga, kebahagiaan dicapai melalui tindakan. Namun, tindakan macam apakah yang dapat dilakukan demi mencapai hidupnya yang bahagia? Tindakan berdasarkan apakah itu?

Di dalam buku kedua Nicomachean Ethics, Aristoteles mengatakan bahwa tindakan tersebut haruslah tindakan keutamaan. Tindakan manusia agar ia mencapai kebahagiaannnya haruslah berdasarkan keutamaan. Namun sebelumnya, Aristoteles menyebutkan bahwa keutamaan yang dapat membawa manusia kepada hidup bahagia ialah keutamaan yang selalu dilakukan secara berulang.

Keutamaan-keutamaan yang dilakukan secara berulang harus dipraktikkan. Agar, hal itu dapat dimiliki oleh manusia. Dalam tahapan mencapai keutamaan, Aristoteles mengatakan bahwa pada awalnya kita akan melakukan tindakan secara objektif (berdasarkan anggapan umum atas kebaikan). Namun pada akhirnya, kebiasaan atau tindakan yang berulang tersebut akan membentuk suatu keteguhan. Keteguhan itu yang membuat manusia dapat bertindak berdasarkan keutamaan.

Namun, apakah definisi dari keutamaan yang dimaksud oleh Aristoteles? Keutamaan adalah suatu tindakan yang didasarkan kepada jalan tengah atas dua keadaan ekstrem tertentu. Oleh Aristoteles, kedua ekstrem tersebut dikatakan sebagai sebuah kondisi kelebihan dan kekurangan dalam tindakan. Kedua ekstrem tersebut merupakan kondisi yang harus dihindari sehingga tercapailah jalan tengahnya.

Contoh dari keutamaan ataupun jalan tengah adalah keberanian (courage). Keberanian adalah jalan tengah antara keadaan terlalu takut dan terlalu percaya diri. Kelebihan rasa takut disebut oleh  Aristoteles sebagai pengecut. Sedangkan, terlalu percaya diri disebut dengan kecerobohan/ kenekatan (recklessness). Sehingga, keutamaan sendiri dapat dipahami sebagai keadaan tengah dari dua keadaan ekstrem yang ada.

Lebih lanjut, keutamaan juga mengenai ketepatan tindakan. Seseorang yang sedang dihadapkan pada situasi genting seperti melihat perampok di jalan, akan memiliki pilihan. Pilihan tersebut seperti: lari mengejar perampok tersebut atau meminta bantuan kepada pihak berwajib. Jika bertindak berdasarkan keutamaan, sudah seharusnya orang tersebut meminta bantuan kepada pihak berwajib.

Orang yang dalam kondisi tersebut memilih untuk mengejar perampok, adalah orang yang nekat dan membawanya pada kecerobohan. Dalam kasus ini, keutamaan keberanian bukanlah perihal bertindak heroic, melainkan memperhatikan keadaan diri maupun sekitarnya. Tindakan berkeutamaan haruslah tindakan yang dilakukan pada waktu, tempat, situasi, cara, dan orang yang dituju secara tepat.

Dengan berlaku secara tepat, di waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang tepat, orang tersebut telah melakukan tindakan keutamaan. Bertindak secara tepat juga tidak hanya berlaku pada keberanian, namun juga hidup yang sederhana. Hidup yang sederhana oleh Aristoteles disebut sebagai ugahari.


Ugahari, menurut Aristoteles adalah suatu kondisi tengah untuk mengendalikan kesenangan jasmaninya. Ugahari adalah kondisi tengah antara terlalu bernafsu dan kekurangan nafsu. Namun,  di dalam kondisi kekurangan  nafsu Aristoteles tidak memberikan sebutan atasnya, karena kondisi ini sangat jarang terjadi.[9]

 

Ugahari dalam Tidur

Menurut Aristoteles, ugahari sebagai pengendalian diri atas hal jasmaniah. Namun demikian, ugahari juga dapat direfleksikan di dalam hidup dewasa ini, termasuk di dalam hal tidur. Ugahari dapat dimaknai sebagai pengendalian diri atas hasrat manusia untuk selalu beraktivitas. Pengendalian diri tersebut dilakukan atas aktivitas-aktivitas berlebihan manusia.

Tidur sebagai upaya untuk mencapai pengendalian diri atau ugahari, pun juga didasari oleh karena kebutuhan manusia akan energi di dalam tubuhnya. Tanpa energi yang memadai, manusia tidak akan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik seperti yang telah dijelaskan di awal.

Ugahari di dalam tidur juga dapat memengaruhi hal lain dalam diri manusia. Seperti contoh, dengan tidur, manusia akan memiliki fokus yang lebih untuk mempertimbangkan suatu tindakan. Dengan begitu, manusia dapat melakukan tindakan keutamaan yang lain. Dengannya pula, manusia dapat mencapai hidupnya yang penuh dengan nilai dan makna.

Kesimpulan dan Penutup

Memang, filsafat Aristoteles membahas hal-hal mendasar seperti nafsu dan hasrat manusia akan sesuatu. Namun demikian, konsep seperti keugaharian tersebut nampaknya dapat dibuat refleksi bagi kebiasaan baru manusia dewasa ini yang “hidup seperti robot”. Konsep-konsep moral di alam hidup keutamaan tersebut juga dapat direfleksikan di dalam hal lain seperti kesehatan manusia.

Dari konsep ugahari di dalam tidur, diharapkan manusia menjadi sadar akan kondisi dan kemampuan badannya. Juga, dalam menghadapi aktivitas berikutnya, manusia bisa fokus dan sadar diri untuk mempertimbangkan segala tindakan yang akan dipilih olehnya. Dengan demikian, manusia dapat mencapai hidup yang bahagia. Jadi, sudah tidurkah anda?


  


 Catatan Akhir/ Sumber Bacaan:

[1] Detik Health, “Apa yang Terjadi Pada Tubuh saat Manusia Tidur?”, dilansir dari laman https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1535431/apa-yang-terjadi-pada-tubuh-saat-manusia-tidurpada 16 Maret 2021.

[2] Wikipedia, “Tidur”, dilansir dari laman https://id.wikipedia.org/wiki/Tidurpada 16 Maret 2021.

[3] Ibid, detikhealth.

[4] Klik Dokter, “Sederet Masalah yang Akan Terjadi Jika Anda Kurang Tidur”, dilansir dari laman https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3625516/sederet-masalah-yang-akan-terjadi-jika-anda-kurang-tidurpada 16 Maret 2021.

[5] Aritmia adalah gangguan yang terjadi pada irama jantung (terlalu cepat, lambat, maupun tak teratur). Alodokter, “Aritmia”, dilansir dari laman https://www.alodokter.com/aritmiapada 16 Maret 2021.



[6] Alodokter, “5 Kondisi yang Bisa Dialami Jika Kurang Tidur”, dilansir dari laman https://www.alodokter.com/5-kondisi-yang-bisa-dialami-jika-kurang-tidurpada 16 Maret 2021.



[7] Aristoteles, Nicomachean Ehics 1, cap. 1

 


 

 

[8] Crash Course, “Aristotle & Virtue Theory: Crash Course Philosophy #38”, dilansir dari laman YouTube https://www.youtube.com/watch?v=PrvtOWEXDIQpada 16 Maret 2021.



[9] Aristoteles, Nicomachean Ehtics 3, cap. 11.