Sudah sering mendengar istilah Humble Bragging? Sudah tahu artinya? Sudah sering lihat contohnya? Atau malah ada yang belum tahu?

Saya yakin akan banyak definisi bermunculan bila kita mencari arti kata ini di mesin pencari Google. Tapi bila agak dipersingkat, kira-kira artinya seperti ini;

Humble bragging adalah sikap menyombongkan diri yang terselubung. Orang yang melakukan humble bragging biasanya mengatakan hal yang bertolak belakang dengan niat aslinya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pujian dari orang lain dan terkesan rendah hati, padahal sebenarnya tidak demikian. Aslinya malah bisa dibilang sombong sekali.

Lalu ada juga istilah yang mungkin sering kita dengar akhir-akhir ini di beberapa media sosial, yaitu merendah untuk meroket. Ya, karena memang seringnya hal ini kita temukan di media sosial walau tak menutup kemungkinan banyak terjadi di dunia nyata.

Memangnya seperti apa sih contoh tindakan humble bragging itu? Kita ambil contoh yang paling sering kita temukan di media sosial saja, ya. Let's see!

~ Duh, bosen juga nih makan di resto mahal terus ama klien. Kangen masakan warteg.

Apakah menurut kalian pengirim kalimat ini benar-benar sedang rindu masakan di warteg pinggir jalan?

Oho, belum tentu. Mungkin malah tidak sama sekali. Ini hanyalah sebuah trik kecil untuk menunjukkan bahwa dia sangat sering makan di restoran mahal.

~ Aku tahu aku nggak seksi, aku hanya coba tampil apa adanya dan bersyukur.

(Kalimat ini disertai sebuah foto di pantai atau kolam renang dengan baju renang seksi plus bentuk badan yang memang aduhai.)

Sudah jelas sekali, kan, ya bahwa dia memang butuh pengakuan atas keseksian tubuhnya? Apalagi bila ada yang membalas dengan: 'Duh, kamu tuh seksi kok.' Sukseslah humble braggingnya.

~ Akhirnya sampai rumah juga, gila capek banget jalan-jalan di Singapore seminggu penuh.

Beneran lagi capek? Mungkin iya. Tapi ya tetap saja, intinya mau pamer kalau mampu jalan-jalan ke Singapore. Apalagi bisa sampai seminggu.

~ Alhamdulillah, bisa dapat nilai A. Padahal cuma belajar sejam aja lho, aku capek banget kemarin tuh.

Dapat nilai A tapi merendah? Mana ada. Hahahaha.

***

Sebenarnya apa sih yang dicari dan ingin didapatkan oleh orang-orang yang punya hobi humble bragging ini? Eksistensi? Pengakuan dari orang lain? Ingin dianggap penting dan hebat? Supaya dikira pribadi yang rendah hati?

Ya, bisa jadi semuanya benar. Yang jelas, ingin sombong tapi tidak terlihat sombong.

Ingin meninggikan diri tapi dengan cara merendahkan diri dulu. Bahkan ada juga yang rela dengan sengaja mengolok-olok diri sendiri, tapi ujungnya tetap saja sombong.

Seringnya orang-orang macam ini akan terus-menerus berusaha kalau tidak mendapat perhatian yang mereka inginkan. 

Lalu misalnya kita balas status mereka dengan mengiakan ke-humble bragging-an itu, apa mereka akan berhenti? Ya jelas tidak. Mungkin malah makin menjadi-jadi.

Akuilah, terkadang kita bisa saja tidak menyadari bahwa orang itu sedang ber-humble bragging. Dan saat kita sadar tentu rasa kesalnya jadi berkali lipat. Sikap sombong colongan ini tidak bisa dibiarkan karena bikin eneg.

Apakah humble bragging tidak diperbolehkan? Lho, siapa bilang?

Silakan saja kalau mau memakai prinsip merendah untuk meroket. Asalkan sudah siap dengan segala komentar yang datang. Netizen masa kini itu pada pintar-pintar lho. Bukannya pujian yang akan kalian dapat, malah sepertinya bakal panen cacian.

Lagi pula, kalau memang ada sesuatu yang ingin dipamerkan, kenapa tidak langsung to the point saja sih? Biar cepat gitu lho.

Sering makan di resto atau cafe mahal, merasa jenius karena selalu dapat nilai A setiap ujian, punya uang banyak dan mampu jalan-jalan ke luar negeri selama berhari-hari, punya badan yang seksi dan terawat, ya bilang saja langsung. Kan nggak ada salahnya? Kalau nanti dibilang sombong, kan memang seperti itu adanya?

Nggak perlu repot-repot mikir cari padanan kebalikan katanya, nggak usah susah payah merendahkan diri dulu. Toh cara apapun yang kalian pakai, ujungnya kan tetap saja bakal dicap sombong oleh orang lain. Ujungnya juga bakal dinyinyirin. Sama.

Kalau mau sombong, ya mbok sekalian saja, jangan nanggung! Kok seneng banget nyusahin diri sendiri sih kalian itu? Istilah kerennya: kalau ada yang gampang, kenapa pilih yang ribet?