Melalui salah satu kalimatnya yang masyhur, suatu ketika imam al-Ghazali pernah menyampaikan, "Jika kamu bukanlah seorang anak raja, dan bukan pula anak dari seorang ulama terkenal, maka jadilah penulis."

Terus terang, saya terus merenungi maksud dari pesan imam al-Ghazali itu, kenapa seorang penulis bisa memiliki privilese yang setara dengan dua kelompok sebelumnya itu? Dan sebagai jawabannya, menurut versi saya tentunya, saya pun sudah membahasnya pada tulisan saya terdahulu di laman ini, "Menulislah, Sampai Kamu Mencintai Aktivitasmu Itu!"

Jika kita memandang secara sekilas, seorang penulis pada umumnya akan dikesankan sebagai profesi yang biasa-biasa saja. Bahkan, tidak hanya cukup sampai di situ, bisa juga sebagian orang tertentu akan beranggapan merendahkan, seperti, "Apa hebatnya menjadi penulis itu, tinggal ketik, tinggal tulis. Toh, semua orang juga bisa."

Pernyataan macam itulah yang mungkin akan merepresentasi pihak yang berpandangan sinis terhadap para penulis. Dan tidak menutup kemungkinan, sebagian di antara mereka ada pula yang menambahinya dengan nada merendahkan lagi, "Bisanya cuma nulis aja, coba dipraktikkan kalau bisa!"

Terlepas dari apa pun, bagaimana pun, dan berapa pun derasnya anggapan terhadap para penulis ini, penulis tetaplah penulis. Ia tetaplah sebuah pekerjaan yang memiliki tingkat kemudahan dan kesulitannya tersendiri. Menulis mungkin saja akan terasa mudah dan mengalir begitu saja bagi mereka yang telah terbiasa melakukannya, dan bisa saja akan terus menjadi perihal yang menakutkan bagi mereka yang tak mampu menderaskan gagasannya.

Jika ingin mengetahui secara mudah kemampuan menulis kita, mungkin kita bisa memulainya dengan cara yang paling sederhana, yakni menyusun sebuah kalimat. Dari kalimat pancingan itu cobalah dikembangkan lagi sehingga menjadi sebuah paragraf.

Dari sebuah paragraf silakan dikembangkan lagi menjadi tulisan artikel yang berformat standard. Dari sebuah artikel standard disambung lagi dengan beberapa artikel lainnya yang temanya serupa. Dan seterusnya, hingga mungkin akan menjadi sebuah sebuah buku.

Jika kita tidak mengalami hambatan yang berarti dalam melalui setiap proses ini, maka untuk sementara waktu, kita dapat menyimpulkan bahwa kita mungkin telah memiliki bakat untuk menyalurkan ide kita dalam bentuk tulisan. Namun, jika kita masih merasa sulit untuk melalui tahapan-tahapan ini, maka kita pun akan mulai paham bahwa ternyata kita harus lebih mendisplinkan diri untuk berlatih menulis lagi, jika ingin menekuni lebih jauh aktivitas di bidang kepenulisan ini.

Di samping bakat, aktivitas menulis pada umumnya membutuhkan waktu tersendiri. Orang yang punya kemampuan menulis, namun ia terlalu sibuk dengan profesinya, besar kemungkinan  ia akan mengalami kesulitan untuk menelurkan sebuah karyanya. Kecuali, mungkin, ia adalah seorang yang sangat pandai mencari celah waktu di sela-sela kesibukannya. Dan sepertinya, orang sejenis ini jumlahnya amatlah langka.

Jika saya boleh mencontohkan sederet orang yang mampu membagi kesibukannya dengan aktivitas menulis ini antara lain adalah EAN, Tere Liye, Aguk Irawan, dan silakan diteruskan sendiri untuk contoh-contoh nama penulis lainnya.

Dengan demikian, mereka yang memiliki waktu yang cukup senggang, atau bahkan hampir tidak memberikan porsi waktu untuk kegiatan lainnya, selain menulis, maka ia akan lebih berpeluang untuk menekuni dunia tulis-menulisnya. 

Dan sebagai konsekuensinya, karena anggapan mayoritas masyarakat kita mengenai entitas sebuah pekerjaan adalah aktivitas fisik yang kasat mata, maka bisa saja para penulis yang fokus dengan dunianya--atau kita boleh menyebutnya dengan penulis penuh waktu--itu akan dianggap sebagai seorang pengangguran.

Masyarakat yang tak sempat melihat pekerjaannya, tak paham dengan aktivitasnya, dan tidak mau tahu tentang profesinya, bisa saja mereka akan melabelinya sebagai seorang pemalas yang enggan berkarya. Tapi apa hendak dikata, beginilah keadannya.

Pada umumnya, masyarakat cenderung berpersepsi bahwa jenis pekerjaan itu adalah segala hal yang tampak dalam indra visual mereka, dan yang lebih penting lagi, harus ada bukti dalam bentuk materi, uang, kekayaan, dan seterusnya. Dan diantara contoh penulis yang mungkin pernah mengalami nasib nahas ini adalah Mas Mahfud Ikhwan.

Penulis yang sempat mencicipi juara dalam sayembara novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta ini, bahkan tak malu-malu untuk menahbiskan legitimasi masyarakat atas dirinya itu, dengan menyebut dirinya sendiri sebagai orang yang paling menganggur di daerahnya.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa ini adalah bentuk kerendahhatian Mas Mahfud, sekaligus salah satu strategi untuk menciptakan privilege-nya dalam berkaya, melalui label atas dirinya sendiri sebagai seorang pengangguran.

Dan, jika kita mencermati pengalaman dari Mas Mahfud ini, maka kita bisa saja mempersepsikan bahwa pengabaian dan cara pandang masyarakat ini sebenarnya berpeluang untuk menjadi berkah tersendiri bagi seorang penulis.

Biarlah mereka berkomentar sesukanya, dan para penulis pun akan tetap berkarya. Di tengah lautan cibiran dari orang yang memandangnya itu, bisa jadi hal ini justru akan berbuah privilege tersendiri bagi mereka.

Mereka yang kian dikucilkan oleh masyarakat akan makin khusyuk dan giat dalam berkarya. Sambil terus berusaha memahami keadaan mereka yang berpandangan sinis ini bahwa memang setiap jenis pekerjaan pada dasarnya berbeda-beda, meski semuanya dapat diserupakan dalam sebuah tujuan yang pragmatis, yakni mendapatkan penghasilan.

Ketidaktenaran itu adalah berkah yang luar biasa bagi para penulis. Sebab dengan tidak tenar setidaknya mereka akan memiliki lebih banyak waktu luang untuk fokus dalam menuangkan gagasan-gagasannya. Mereka tidak lagi terganggu oleh hiruk-pikuk formalitas pengakuan diri yang nyatanya tak terlalu berdampak signifikan terhadap produktivitas karya mereka.

Namun, sekali lagi, saat menempuh jalan penulis sejati ini, mereka bisa saja akan dianggap sebagai orang yang paling menganggur di kampungnya dan bahkan berpotensi akan dianggap sebagai teladan yang buruk bagi para penduduk.

Dan seperti yang kita tahu, bahwa tidak ada jawaban yang paling efektif untuk menjawab stigma siapa saja kecuali dengan terus berkarya. Para penulis yang memiliki keteguhan hati dalam menapaki jalannya ini akan beranggapan, biarlah semua orang berkomentar apa saja, sebebas-bebasnya mengenai dirinya. Dan seiring dengan riuhnya komentar itu, yang mereka lakukan hanya satu, yaitu makin giat berkarya.

Karya mereka itulah yang nantinya akan menjadi sebuah pembuktian atas pertanyaan yang berkaitan dengan riuh-rendahnya komentar orang yang memandang sinis mereka. Siapakah kiranya diantara mereka yang akan lebih bermanfaat pada kehidupan? Mereka yang terus berkomentar dengan segenap kerja nyatanya itu? Ataukah mereka yang tekun menulis dalam kesenyapan dengan dokumentasi peninggalan karya tulisnya?