Penulis
8 bulan lalu · 545 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 86757_22433.jpg
Ilustrasi: hs

Tidak Tahu Namanya tetapi Tahu Rasanya

Saya minggu lalu baru tahu ternyata jumlah rokok dalam sebungkus Sampoerna Mild itu enam belas batang. Pas ditanya oleh teman dalam sebuah obrolan tentang rokok, dia nanya berapa jumlah rokok itu? Saya bilang delapan belas atau berapa. Ditertawakan sama yang nanya, katanya itu enam belas. 

Bayangkan coba, padahal setiap hari saya akrab dengan bungkus rokok berwarna putih dan berlogo merah itu. Bukan lagi dalam jumlah hari mengenalnya tapi sudah bertahun-tahun. Kalau saya ditanya berapa jumlah nikotin dan tar dalam rokok itu pun pasti tidak tahu lagi. 

Dalam kasus ini, apakah saya bisa disebut tidak mengerti apa-apa tentang Sampoerna Mild? Tidak dong, saya hafal rasanya. Saya hafal juga harganya. Saya malah tahu bagaimana kalau sudah habis dan jauh dari toko kelimpungan untuk mencarinya.

Mungkin saja saya tidak tahu jumlah rokok, tapi saya tahu hakikat rasa dari rokok itu. Bagi saya, pengetahuan saya mengenai rasa itulah hakikat dari keberadaan. Percuma Anda tahu jumlah tetapi tidak tahu rasa. Istilah anak zaman now: tidak masalah tidak tahu namanya, yang penting sudah tahu rasanya (dilarang ngeres pikirannya..:v)

Ini bukan tentang kampanye rokok atau anti-rokok. Saya menyebut itu sebagai sebuah pengantar bahwa tidak selamanya kita harus mengetahui secara normatif akan hakikat sesuatu. Bahkan saya berani mengatakan: hakikat pengetahuan bukan yang bisa kita cerap melalui nalar, tetapi oleh sesuatu yang bisa kita rasakan.

Pernyataan itu sepertinya sepele, padahal jika melihat literatur, mengenai hal itu merupakan salah satu tema penting dalam kajian epistemologis. Ibn Rusyd, Al-Farabi, dan Ibn Sina meyakini bahwa sumber pengetahuan adalah yang bisa dijelaskan melalui penalaran. Basisnya rasio. Inilah kemudian yang mengilhami munculnya pemikiran rasional yang banyak diadopsi oleh Barat.


Di pihak lain, pendapat itu dikritik oleh Al-Ghazali melalui kitab Tahafut al-Falasifah-nya, bahwa sumber pengetahuan yang hakiki diperoleh melalui fakultas rasa (dzawq), atau yang sering kita sebut intuisi.

Jadi, sebenarnya yang mana yang betul? Anda dapat menelusuri lagi tentang kajian ini dari banyak sumber. Bisa mengacu pada pendapat Henry Bergson, bahwa antara intuisi dan nalar sebetulnya satu. Nalar dan intuisi tidak ada yang beda. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibn Arabi, bahwa akal, hati, dan jiwa sesungguhnya satu. Tidak seperti yang kita bayangkan terpisah-pisah. Terpisah-pisah jika dilihat fungsi, sedangkan wujudnya satu.

Saya lebih cenderung pada pendapat Al-Ghazali tetapi dengan penjelasan yang disebutkan oleh Hairi Yazdi dalam buku Ilmu Hudhuri dan pandangan Ibn Arabi, khususnya pada konsep Ittihadul 'Aqil wal Ma'qul (bersatunya subjek pemikir dengan objek yang dipikirkan), atau konsep Wahdat al-Wujud.

Begini penjelasan gampangnya. Kalau saya tanya Anda: apakah Anda tahu apa itu matahari? Yang mana hakikat matahari itu? Saya yakin Anda tidak akan bisa jawab. Atau bisa jawab dengan definisi yang bermacam-macam; atau dengan menunjuk langsung ke arah matahari. Padahal matahari adalah objek yang selalu hadir dalam keseharian kita. Setiap hari kita melihat matahari, tetapi kenapa ketika diminta menjelaskan kok susah?

Kita bisa mengenal matahari bukan dari wujud nyata matahari itu sendiri, melainkan dari sinarnya. Dari rasanya. Dengan demikian, Matahari dikenal oleh kita bukan melalui nalar, tetapi melalui intuisi. Melalui rasa. Bahwa rasa matahari adalah hangat, panas, dan jika ia tidak ada akan berubah dingin. Ini ilmu kita tentang matahari. 

Dan ini sebetulnya hakikat dari ilmu, yaitu ketika ada penyatuan antara subjek yang berpikir dengan objek yang dipikirkan, sehingga tidak ada lagi jarak. Kita tak butuh lagi nalar untuk mengetahui matahari. Cukup dirasakan.

Ketika sudah terjadi penyatuan antara subjek dan objek, maka tidak diperlukan lagi nalar, tidak diperlukan lagi definisi, tidak diperlukan sejumlah teori. Inilah yang disebut oleh Hairi Yazdi dengan Ilmu Hudhuri, yaitu ketika objeknya yang langsung hadir dalam diri kita, bukan lagi konsep tentang objek itu.

Di dalam kajian ilmu penelitian, pendapat ini diadopsi dalam penelitian kualitatif. Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah ketika subjek peneliti adalah juga sebagai objek yang diteliti.

Paham gak nih? Misal, saya mau meneliti bahasa Sunda dan saya sendiri orang Sunda. Maka antara subjek dan objeknya sudah menyatu. Dan, penelitian model ini lebih terpercaya dibanding penelitian lain. Ya karena saya sebagai orang Sunda tentunya bisa berbahasa Sunda. Sudah menyatu. Pada saat saya meneliti tentang itu, maka saya sebagai subjek peneliti dan, pada saat yang sama, saya juga sebagai objek yang diteliti.  

Dalam dunia keseharian kita, metode kebenaran sejati tentang intuisi dan ilmu hudhuri ini sering kita jumpai. Apakah Anda bisa menjelaskan bagaimana rasa gula? Jika Anda menjawab rasa gula itu manis, maka akan dijawab lagi: apa bedanya manis gula dengan manis mangga? Dan apa bedanya manis gula dengan manis kurma? Terus akan begitu.

Ketika kita menjawab dengan menggunakan fakultas nalar tentang wilayah rasa akan selalu gagal. Satu-satunya cara jika ingin mengetahui hakikat gula, ya dengan mengambil gula lalu masukkan ke mulut. Rasakan sendiri bagaimana rasa gula itu. Jika sudah dirasakan, itulah ilmu hakiki tentang gula.

Anda juga tidak bisa mendefinisikan bagaimana rasanya suatu pernikahan jika Anda belum nikah. Satu-satunya cara mengetahui rasa nikah dan seluruh problemanya mau tidak mau Anda harus menikah. Omong kosong saja orang yang merasa sudah mengetahui hakikat pernikahan ketika orang itu belum menikah.


Itulah bukti-bukti bahwa dalam banyak hal, hakikat pengetahuan bukanlah yang Anda pahami, melainkan justru yang Anda lupakan. Saking dekatnya suatu objek dengan kita, objek itu sering kita lupakan. Karena memang tidak butuh lagi pengetahuan tentang itu.

Lebih jauh, menurut saya, level pengetahuan tentang Tuhan pun berada pada level pengetahuan ini. Yaitu akan selalu gagal ketika kita melakukan fakultas nalar terhadap Tuhan. Tuhan tidak bisa dijelaskan melalui nalar, tetapi harus melalui rasa. Jika Anda ingin tahu Tuhan ya rasakan kehadirannya. Sebab, Dia sudah menyatu dalam diri Anda. Sudah sangat jelas. Sudah terang seterang sinar matahari.

Dalam kitab suci kita mendapati suatu ungkapan yang relevan dengan itu bahwa Tuhan lebih dekat dengan urat leher. Artinya kehadirannya telah menyatu dengan diri kita.

Mulla Shadra menyebutkan tentang itu dengan istilah "Kedekatan Wujudiyyah", kedekatan dari segi wujud. Kedekatan dari segi kata "Ada" (existent). Dari aspek wujud, antara kita dengan Tuhan tidak berbeda sama sekali. Kita ada, Tuhan ada, maka dari segi ke-ada-an (existent), kita dan Tuhan berada di level yang sama. Namun dari segi keberadaan (existence) sangat jauh, kita yang diciptakan dan Tuhan pencipta.

Pada level wujud (Ada) inilah kita dengan Tuhan menyatu. Dan, hanya pada level yang sama, sesuatu itu dapat menyatu. Ketika kita menghapus kata "Ada" dalam diri kita, maka kita lenyap, menjadi tidak ada, dan tidak lagi memiliki level yang sama dengan Tuhan.

Jangan percaya dengan penjelasan dari banyak penceramah bahwa Tuhan itu begini dan begitu. Mereka mencoba menjelaskan dengan nalar. Menjadi absurd. Gunakan rasa jika ingin mengetahui-Nya. Rasakan Dia hadir. Leburkan diri Anda dalam wujud. Menyatulah dengan "Ada". Bagaimana caranya? Kembali ke atas, bahwa pengetahuan yang hakiki adalah bukan pengetahuan yang bisa dijelaskan tetapi justru yang tidak bisa dijelaskan, tapi dirasakan.


Artikel Terkait