63661_63196.jpg
tatkala.co
Cerpen · 8 menit baca

Tidak, Seorang Autis Bukan Tuna-Asmara
Cerpen

“Jika suatu potensi mati, itu dimulai dari isi kepala, bukan dari rasa cinta.”

Tangan gempal, dua tangan gempal berotot itu, memegang sebotol parfum kaleng berwarna pink, satu-satunya barang peninggalan ibu kandungnya, yang sudah kandas isinya.

Dilemparkannya botol tersebut ke langit rendah. Lantas, ketika jatuh, ditampaninya botol itu kembali.

Ia lakukan sekali lagi. Kali ini dengan lemparan yang tidak biasa. Lemparan jungkir-balik bagai tubuh seorang atlet lompat renang yang sedang unjuk-kebolehannya di hadapan para audiens.

Berjungkir-jungkirlah botol seukuran remote TV tersebut di udara, yang berangin basah, khas aroma senja di musim kemarau.

Adegan akrobatik botol itu sembari diiringi terbitnya senyuman polos bocah pada raut wajah lelaki berumur seperempat abad, yang terduduk tak elegan sama sekali. Ia terbengong takjub. Maka jatuhlah botol parfum tersebut, sekali lagi. Tepat di dahinya.

Aneh. Ia merasa terkagum-kagum sendiri dengan manuver yang berulang-ulang dipertunjukkan botol kesayangannya itu di udara. 

Makin tambah mekarlah senyum yang semula tipis di parasnya kini melebar. Ia tertimpa botol kaleng tepat di kepala—yang konon disebut-sebut tempat orang normal mikir di situ.

Namun respon dan rasa yang dituainya, dikenyamnya, justru sensasi seperti seorang bocah yang memang berniat dipukuli secara bertubi-tubi oleh gempuran deras air hujan. Membahagiakan betul baginya. 

Ia ingin mengulanginya berkali-kali, kalau perlu sampai demam, atau lebam, sebagaimana lumrahnya para anak-anak yang usai main hujan-hujanan.

“Sedang apa kamu, Naka?” Suara berat namun lembut itu muncul dari dalam rumah, di balik pintu.

Suara yang seolah ikut membawa-serta pohon rindang dan sepoi angin untuk dihidangkan kepada telinga yang mendengarnya. Magis sekali.

Kuduga itu suara ibu-ibu pengasuh. Bukan kuduga lagi. Melainkan memang hanya perempuan itulah satu-satunya yang bersuara seperti yang kusebutkan. Tak lain hanyalah miliknya seorang. 

Sosok indah tak bersayap yang mengabdikan dirinya hanya untuk Gubuk Ceria—sebuah nuansa asih yang mewujud fisik di kediaman seorang janda lapuk.

Ia, Gubuk Ceria, bukan seonggok rumah yang dijejali dengan pencitraan-pencitraan eufemisme dan adab-adab artifisial basa-basi yang sering dianak-pinakkan oleh para manusia ‘normal’ yang makin pandai bersolek saja—bahkan ketika hanya untuk bertemu dengan dirinya sendiri, di cermin maupun di kesendirian yang paling senyap.

Gubuk Ceria, mungkin benar gedung yang dipakai Ibu Pengasuh itu tampak terlihat tua. Tapi asal kau tahu, di setiap renik dindingnya terselip doa-doa. 

Di setiap keramik lantainya, terukir jejak-tapak ketulusan dan berbongkah-bongkah keringat dari seorang yang berusia daun kuning. 

Pada unggal tiang-tiang bangunannya, juga tertancap fondasi-fondasi harapan di masa depan yang gemilang—tanpa peduli dan tanpa pernah mengemis bantuan dana sosial sama sekali dari siapapun.

Di sanalah Jenaka tumbuh. Ia cuma salah satu dari beberapa penghuni Gubuk Ceria. Tidak. Meski ia hanya salah satu dari sekian banyak anak autis di rumah asri tersebut, namun ia semata lah yang paling sulung. Penghuni tertua setelah Ibu Pengasuh sendiri.

Justru karena ia yang paling berumur di antara kupu-kupu dan kunang-kunang—beginilah mereka dipanggil—kesayangan Ibu Pengasuh, maka khawatirlah ia semenjak tiga bulan ke belakang.

Ada seorang gadis muda datang menawarkan diri untuk menjadi bagian dari matahari masa depan di Gubuk Ceria. 

Ia, gadis muda itu, sebetulnya biasa saja penampilannya, tapi ia masih menganggap anak-anaknya itu selayaknya orang biasa, sehingga Ibu Pengasuh cemas bagaimana jika nanti si sulung ini kelak jatuh hati kepada Si Gadis tersebut.

Terutama lantaran perhatian berlebih yang diberikan Si Gadis pada Jenaka. Itu sangat mungkin terjadi. Eh, tapi bukankah mereka berbeda dengan manusia lainnya, yang haus akan asmara? Jadi bisa saja pikiranku ini hanya ilusi. Iya, ah, mengada-ada saja kau ini, tepisnya dalam batin.

Lama-kelamaan satu benih rasa khawatir tadi tumbuh makin dalam sampai berbuah menjadi mimpi dalam tidur Ibu Pengasuh. Ia melihat sebatang krayon warna ungu tergolek di atas meja. Samar-samar di tengah suatu tempat penuh gelap yang berkelindan dan ada dua sosok termangu di kursinya masing-masing tanpa berniat menyentuh mejanya sama sekali. 

Kemudian melesat menuju latar yang lain. Seperti pusaran; tiba-tiba gelap diusir cahaya, kali ini terik siang hari, ada saputan bayangan dari sebuah tangan besar yang menghalangi cahaya silau tersebut. Terik itu meredup, berubah semakin meneduhkan.

Lantas terdengar tawa yang cair, dan seperti kebak nada-nana-nana bahagia. Sebentar, seakan itu kebahagiaan yang memeram luka dan nyeri. 

Sekarang ada buah mahoni, yang jatuh, berguguran landai, lantas salah satunya menepi di kening Ibu Pengasuh. Langsung seketika itu ada jeritan, terdengar teriakan, pekikan, entah dari mana, dan terbangunlah ia.

***

Setiap terik siang sedang riang, tangan Jenaka menutupi cahaya matahari di atas mata Si Gadis. Di sudut halaman yang berumput taman. 

Sambil satu tangan lainnya memegang krayon lantas mencoret-coretkan ke bibirnya sendiri, sambil nyegir kegirangan, tanpa sama sekali rasa kelelahan demi menahan satu tangan di atas ubun-ubun Si Gadis yang tenah tersenyum sipit di sandingnya.

Tangan gempal itu, yang tak pernah mau melepaskan botol parfum kesukaannya itu, kini direlakan untuk menutupi cahaya terik agar tak menyilaukan paras Si Gadis. Botol tersebut sudah dilupakannya. Dibuangnya jauh-jauh dari isi kepalanya yang mungkin semula hanya berisi tiga hal saja; botol parfum, krayon, dan Ibu Pengasuh. 

Kini dipecatnya botol itu dari daftar inventaris harta karun kepunyaannya. Botol pemberian orangtuanya sejak kecil itu kini sirna. Digeser, digusur, digantikan oleh gadis itu.

Kemudian, sebelum senja hari, mereka berdua beranjak menuju rumah untuk memenuhi panggilan Ibu Pengasuh. 

Sudah waktunya mengajak adik-adik Gubuk Ceria untuk mandi bersama. Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Jenaka di setiap hari. Mandi, baginya bukan sekadar mengucurkan air ke badannya. 

Mandi di Gubuk Ceria, benar-benar menerbitkan senyuman yang nihil dari kamuflase dan dusta-dusta. Karena mereka akan mandi di halaman, dengan empat bak mandi dan tiga selang air. Mereka hanya akan main-main, saling siram dan saling semprot satu sama lain. 

Tidak telanjang total, hanya kaos saja yang dilepas. Potret yang cukup asyik jadi tontonan.

Momen inilah yang berharga bagi Jenaka, saat tiba dimana ia menyemprot Si Gadis dengan keusilan paling menyenangkan. Mereka akhirnya sibuk berkejaran ke sana kemari dan saling membalas. Sementara Ibu Pengasuh yang mengamati kejadian tersebut, menahan gejolak cemas di dadanya.

Maka, demi melegakan sedikit bebannya, setelah perang air selesai, Ibu Pengasuh pun mengajak Si Gadis untuk berbincang-bincang. 

Namun Si Gadis pamit untuk membeli sesuatu kemudian singgah menemui Bibinya terlebih dahulu. Pertemuan tersebut pun akhirnya ditunda hingga malam hari.

Ketika Si Gadis tiba dan Ibu Pengasuh mempersilakannya untuk masuk ke ruang tamu, Si Gadis memilih untuk duduk di teras. Menikmati pemandangan bintang sepertinya suasana yang sangat sesuai untuk mengobrol. Ibu Pengasuh setuju dengannya.

“Apa kabar Bibimu?” Ibu Pengasuh mengawali percakapan.

“Baik, Bu. Oh, iya, beliau menitipkan salam ke Ibu dan menyuruh saya memberikan ini.” Si Gadis menyodorkan suatu bingkisan ke meja depan Ibu Pengasuh.

“Aduh, semestinya tak perlu repot-repot memberikan sesuatu. Lain kali, bilang ke Bibimu ya, jangan ulangi lagi!” Nadanya memang menekan, tapi Si Gadis paham bahwa Ibu Pengasuh membalasnya sambil tersenyum dengan sorot mata sedikit serius.

Obrolan malam itu pun mengalir sedikit berbelok dari topik yang ingin segera diperjelas oleh Ibu Pengasuh. Hingga tiba momen yang pas, mulailah Ibu Pengasuh mengajukan pertanyaan ganjil.

“Apa kamu sudi menerima Jenaka?”

Si Gadis tertawa kecil. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah. Menjawab Ibu Pengasuh dengan kalimat yang seakan bercanda.

“Tentu saja lah, Bu. Kalau saya nggak menerima dia lantas mana mungkin saya betah di sini, bersama anak-anak Gubuk Ceria?”

Ibu Pengasuh menggeleng. Sebelum ia melanjutkan kalimat, ia terketuk oleh isyarat yang ganjil. Ada yang aneh yang menyelusup di relung dadanya. Apakah ini De Javu? Ia seperti pernah merasakan suasana yang serupa namun gagal menemukan ingatannya. Ia pun melanjutkan dengan mimik lebih serius.

“Aku yakin kamu paham apa yang kutanyakan, Nak.”

Si Gadis berhenti tersenyum. Kini ia menjadi tegang.

“Kamu tau kan? Jenaka telah ditinggalkan oleh orangtuanya dan akulah yang merawatnya selama ini. Belum pernah satu kali pun aku melihat Jenaka menuliskan nama seseorang di buku gambar dengan begitu riang selain namaku.”

Ibu Pengasuh menghela nafas.

“Apa kamu tahu, Nak? Sudah beberapa hari, Jenaka, di setiap pagi, ia selalu menggunakan krayon kesayangannya itu untuk menuliskan namamu. Iya, namamu…”

Angin malam itu seakan mendesirkan beku yang menyengat. Si Gadis tercengang. Lalu menunduk.

“Kamu mengerti apa yang sedang kubicarakan, bukan?”

Semakin dalam wajah Si Gadis terbenam.

“Tapi… Tapi aku tak bisa, Bu.” Suara lirih yang menggiris. Si Gadis tetap termenung.

Gadis itu, dengan bibir kelunya, dengan gerai rambutnya yang kaku disapa dingin, dan punggung yang tak bersandar, setabah mungkin memberikan penolakan kepada Ibu Pengasuh.

Pikirnya, terkadang manusia perlu tabah dalam perlakuan tega, hanya demi menangkal penyakit kecewa dan penyesalan di hari esok. Karena penyesalan, yang meski bisa berguna itu, sangat potensial untuk melukainya di kemudian hari.

Aku musti menolaknya, sejak masalah itu masih berupa benih, batin Si Gadis.

Ibu Pengasuh, matanya leleh separuh terisak. Sambil tak tahan pada kenyataan setelah perempuan muda di hadapannya itu mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah disadarinya akan segera terjadi. Tetapi tetap saja pukulan fakta itu tak mau menyurutkan sifat kejamnya.

“Dia sungguh orang yang baik, Nak. Hanya saja kamu akan jadi maha-tak-tahu-diri, di depannya.” Ibu Pengasuh mencoba lagi.

“Ibu, maafkan. Maafkan saya, Ibu. Saya sadar bahwa membengkalaikan satu jiwa saja, adalah hal yang najis. Tetapi siapalah saya, Ibu? Bukan malaikat penjaga yang diberi sayap indah sekaligus tugas khusus untuk menebar rasa tanpa pamrih sama sekali. Saya juga manusia, Bu. Yang juga dahaga akan cinta. Cinta yang biasa saja.”

Maka malam ini berlangsung terasa lebih hening, lebih sunyi, dari lazimnya kenangan-kenangan. Hening yang tidak menambah tenang, selain rasa khawatir dan dada yang tak kuasa. 

Sedang di bawah cermin angkasa dan sekeliling angin yang bisu, dua orang perempuan, tua dan muda, duduk masing-masing di kursinya.

Meja itu tampak iri karena tidak tersentuh satu lentik jari pun. Kira-kira, kata-kata seperti apa yang dirasa seimbang untuk mengungkapkan ganjalan hati di antara keduanya? 

Ah, mungkin bukan kata-kata. Jangan kata-kata. Sebab kata-kata sudah mandul. Bhusung! Seperti petasan yang tidak meledak ketika dinyalakan. Ia kosong. Hampa. Sama sekali tak bermakna.

Sedang di sudut jendela Gubuk Ceria, ada sesosok yang muak dengan telinganya sendiri, menjadi gemetaran. Ia mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.

Sosok itu, ia paham dari wajah Si Gadis, tidak dari kata-katanya. Sosok tersebut, sambil menahan getar yang menggoyahkan, dan hampir menjerembabkan tubuhnya ke lantai, ia beranjak pergi ke belakang. Mengambil pisau. Jenaka berlari kalap menuju mereka berdua. Diayunkannya pisau tersebut menghunjam Si Gadis. Ibu Pengasuh segera mencegahnya. Meja di sana tergubrak. Mereka berdua terjatuh. Pisau itu menancap di dada kiri Ibu Pengasuh. Jenaka terbelalak. Si Gadis menutup bibirnya dengan terisak.

Benar-benar tidak ada pantasnya jika kata-kata yang menggambarkan perasaan ketiganya. Takkan ada kata yang sanggup mewakili. Tak berarti. Ia kosong. Hampa. Sama sekali tak bermakna!