Menyebalkan! Sebal rasanya ketika menggulirkan beranda media sosial dan menemukan curahan hati perempuan yang menuliskan kurang lebih seperti ini, “Semua cowok sama aja. Yang beda hanya level berengseknya”. Hellaaaww??!

Bahkan jika curahan seperti itu adalah cerminan perasaan traumatik dari hubungan yang beberapa kali kandas, mengatakan bahwa semua laki-laki itu berengsek sungguhlah tidak masuk di akal.

Sebagai perempuan yang kisah cintanya juga tidak lancar-lancar amat, aku tetap tidak akan mengatakan bahwa semua laki-laki itu sama. Terlebih lagi sama berengseknya. Aku berkeluarga, berbagi aliran darah yang sama dan berteman dengan beberapa orang dari kaum tersebut dan segala sesuatunya biasa saja, walau tidak selalu sesuai keinginan. 

Apakah aku pernah bertemu dengan laki-laki berengsek? Sepertinya tidak. Karena aku tidak akan  membiarkan orang lain melakukan hal-hal yang berengsek terhadap diriku. Terutama ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Tidak akan kubiarkan. Aku akan melawan setiap bentuk penindasan. Hahaha!

Tapi, aku pernah bertemu dengan laki-laki hidung belang yang mungkin terbiasa dengan jasa ayam kampus dan mengira aku akan menjadi salah satu tangkapannya. Sial! Tentu saja aku berhasil membebaskan diri. Itu adalah jenis laki-laki terburuk yang pernah kutemui.

Baiklah. Aku tidak ingin menegasikan seluruhnya bahwa semua laki-laki itu berengsek. Mungkin ada beberapa, sebagian, atau separuh dari kaumnya dan aku hanya belum bertemu dengan salah satunya atau tidak ingin menyimpulkan terlalu dini.

Seperti ketika mengamini perbedaan di antara  sesama perempuan, aku juga mengafirmasi perbedaan di antara kaum laki-laki. Sederhana saja, mencoba melihat mereka- kaum laki-laki itu sebagai manusia dengan sifat-sifat yang manusiawi.

Setiap laki-laki menawarkan kisah hidup yang berbeda. Seumpama sebuah buku, setiap halamannya adalah cerita hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang benar-benar sama.

Laki-laki hanya manusia biasa yang juga memiliki gejolak perasaan seperti halnya kaum perempuan. Masyarakat bias terhadap laki-laki yang menunjukkan emosinya, terlebih lagi air matanya. Tapi, laki-laki boleh nakal, wajar jika melanggar aturan, kata mereka.

Hasilnya, emosi tersalurkan dengan cara-cara yang kurang baik. Akhirnya, muncullah apa yang disebut fakboy, gudboy, dan sejenisnya. Sialnya, golongan gudboy pun merasa bahwa kebanyakan perempuan lebih tertarik pada fakboy- golongan "anak nakal" dibandingkan kepada mereka, gudboy- anak baik-baik.

Jika semua laki-laki itu berengsek dan perempuan hanya menjadi korban keberengsekan laki-laki, maka kita buta pada perempuan-perempuan yang berjasa menghadirkan patah hati dalam hidup laki-laki. Percayalah, jika semua laki-laki itu berengsek, maka aku pun akan mengatakan bahwa semua perempuan itu juga berengsek.

Perempuan, selalu bersembunyi dibalik frasa bahwa: perempuan itu menunggu. Perempuan tidak boleh menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Alhasil, perempuan menebarkan begitu banyak kode-kode, dari yang tunggal tafsir, hingga yang multi tafsir.

Dan ketika laki-laki salah menangkap kode, si perempuan marah. Si laki-laki mulai menjauh, dan si perempuan kembali merasa sebagai korban dari sebuah hubungan yang sebenarnya  tidak pernah ada.

Si perempuan merasa sebagai korban dan laki-laki hidup menanggungkan rasa ketidakpastian. Padahal, banyak laki-laki yang juga harus menanggungkan patah hati dalam hidup, termasuk terkait hubungan percintaan.

Ada laki-laki yang hanya bisa mencintai dalam diam, mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, ada yang gamang dengan karir dan pekerjaan, yang galau dengan pendidikan hingga yang sulit move on. Permasalahan hidup laki-laki juga sebuah kerumitan tersendiri.

Ada  perasaan aneh dalam diri perempuan yang sungguh membuatku terheran-heran, yaitu hasrat ingin diperjuangkan. Perempuan selalu ingin melihat seberapa besar pengorbanan laki-laki dalam memperjuangkan dirinya. Oh Tuhaaan! Apakah Anda medali emas olimpiade yang hanya bisa didapatkan sekali dalam empat tahun hingga begitu prestisius?

Sebelum berharap untuk diperjuangkan, apakah Anda yakin bahwa Anda memang pantas, cukup berharga, bermanfaat untuk untuk diperjuangkan?

Aku tidak bermaksud memojokkan kaum perempuan. Tapi, jika laki-laki mulai menjauh- menjauh dari hubungan yang mengawang-awang, tidak jelas dengan semua ketidakpastiannya- di mana Si perempuanlah yang tarik-ulur, maka laki-laki itu bukanlah seorang berengsek.

Ia hanyalah seorang laki-laki yang tahu kepada siapa yang tepat untuk membucinkan diri. Yaitu majikan cinta yang membayar pengorbanannya dengan pantas.

Walau tidak menjamin kebenaran seluruhnya, gejolak emosi dan keluh-kesah hidup banyak berpusat pada perempuan, atau setidaknya selalu mendapatkan banyak perhatian.  Hal itu menunjukkan seolah laki-laki adalah makhluk yang tidak bermasalah atau kurang bermasalah dalam hidup atau bahkan mungkin akan dipandang lemah jika mengeluh.

Tidak ada kolom khusus dengan kategori “laki-laki” di Qureta. Tapi, kategori khusus permasalahan hidup perempuan terpampang nyata. Apakah ini menyatakan seolah laki-laki tidak memiliki permasalahan hidup dan sudut pandang untuk dituliskan?

Apakah hal tersebut megafirmasi bahwa “perempuan selalu benar” dan karenanya cukuplah melihat segala sesuatunya dari sudut pandang perempuan? Lalu, ketika perempuan mengatakan semua laki-laki itu berengsek, apakah semua laki-laki benar-benar sama berengseknya?

Tidak semua sifat-sifat buruk pantas disandangkan kepada kaum laki-laki. Bajingan, bangsat, berengsek, bedebah, dan segala jenis umpatan dalam hati seharusnya menyasar siapapun- laki-laki atau  perempuan yang perilakunya tidak terpuji.

Ah, aku mungkin juga seorang yang berengsek.