Kemarin malam, saya mendapatkan pesan WhatsApp dari salah seorang teman saya.  Sebuah pesan balasan darinya, sebab sebelumnya saya telah mengomentari statusnya yang berbunyi: "Jika sedang untung, mereka bersembunyi. Jika sedang merugi, mereka berbagi keluh kesah. Itulah kehidupan". Sebuah quote yang redaksi aslinya berbahasa Inggris.

Melalui pesan balasan itu, teman saya itu rupanya hendak berbagi kebahagiaan pada saya dengan cara mengajak saya ikut sekolah pasar modal, yang tentu saja, via online. Ia menceritakan pada saya mengenai kebahagiaannya setelah mendapatkan keuntungan yang lumayan besar sewaktu menyelami dunia pasar modal. Dan karena pengalaman yang menggembirakan itulah, ia ingin mengajak saya bergabung bersamanya. 

Saya menolak secara halus permintaan kawan saya ini, dengan menyampaikan padanya bahwa saya akan belajar darinya saja. Selain gratis, mungkin saja pendekatannya akan lebih menarik bagi saya. Sebab, kami bisa melakukannya melalui pendekatan dari hati ke hati. Dari kepedulian seorang kawan atas kondisi kawan lainnya.

Untunglah, kawan saya ini termasuk orang yang gemar berbicara, atau kalau dalam bahasa Jawanya sugih omongan, sehingga dia enteng saja saat menanggapi permintaan saya itu. "Ya sudah, nanti kalau bertemu, saya kasih cerita banyak," balasnya sambil menceritakan sedikit pengalamannya bermain di bursa yang entah itu hanya simulasi atau nyata.

Usai kami saling berbalas pesan, tiba-tiba saja, saya menjadi teringat dengan pengalaman saya ketika masih duduk di bangku kuliah semester lima dulu. Waktu itu, saya juga sempat menyelenggarakan semacam seminar pasar modal bersama dengan teman-teman saya lainnya. Kami menjadi panitianya.

Kemudian, pada tahun berikutnya, saya bersama teman-teman yang satu jurusan juga pernah mengikuti simulasi pasar modal di Bursa Efek Indonesia yang berada di cabang Surabaya.

Waktu itu, antusias dan semangat saya begitu menggebu. Saya membayangkan masa depan saya sebagai orang yang sukses berkat berbisnis di pasar modal serasa begitu nyata.

Tahun demi tahun terus berlalu,  saya tetap mengintip perkembangan yang ada di pasar modal. Melihat beberapa emiten yang bermain di sana. Mengamati perkembangan modal dan keuntungan mereka. Mencermati nilai saham mereka, pergerakan harga saham mereka, hingga sejumlah kelompok mereka yang di-delisiting atau dikeluarkan dari bursa.

Setelah melihat beberapa perkembangannya itu, entah kenapa, antusias saya untuk terjun dan menggeluti pasar modal, secara perlahan kian meredup. Saya tiba-tiba saja lebih tertarik untuk menggeluti usaha di sektor riil bersama keluarga saya. Entah berapa pun keuntungannya.

Tiba-tiba saja, saya menjadi tidak telaten mengamati pergerakan harga saham yang detik demi detik rawan berubah itu. Sebab nurani saya tidak siap dengan sebutan spekulan atau investor model kutu loncat. Saya seakan memiliki beban psikologis tersendiri mengenai hal ini.  Meninggalkan mitra usaha di tengah kejayaannya dengan aksi ambil keuntungan, profit taking, demi meraup keuntungan pribadi. Meskipun jika dirunut dari sudut pandang transaksinya, itu sah-sah saja.

Sejujurnya, saya sangat senang dan kagum dengan tipe investor setia yang tidak mengambil keputusan demi meraih keuntungan yang sesaat. Mereka ini menurut saya adalah tipe investor yang berkomitmen dalam mendampingi perkembangan perusahaan yang sama dari waktu ke waktu.

Namun, dalam bayangan saya, manakala saya tetap bersetia pada satu perusahaan tertentu, maka saya harus telaten menunggu selama berbulan-bulan pembagian devidennya, yang terkadang bisa saja tidak dibagikan ketika perusahaan sedang mengalami keterpurukan.

Bisa saja, saya memilih saham-saham perusahaan yang baru diterbitkan atau memilih saham-saham pecahan yang berasal dari kebijakan pemecahan harga saham (stock split) perusahaan. Namun, tentu saja itu sangat berisiko. Sebab dapat berpotensi mengarahkan saya bermain pada saham gorengan. Jika pandai menggoreng, akan merasakan untung yang legit. Dan jika tidak pandai menggoreng ia akan hangus, rasanya pahit.

Dalam pikiran saya jauh lebih mudah menjalani usaha sebagai penjual gorengan di tepi jalan saja daripada bermain pada saham gorengan yang ada di bursa. Usaha ini menurut saya lebih tampak untungnya dalam skala harian. Pun demikian potensi kerugiannya manakala dagangan tidak laku.

Dalam angan saya, mereka yang menjalani usaha di sektor riil ini pun keuntungannya juga bisa lebih cepat. Omzet mereka juga akan tampak dalam skala harian. Tinggal dicari selisihnya saja dari nilai bebannya, untuk mengetahui untung atau rugi.

Berangkat dari latar belakang itulah, saya yang dulu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan konsentrasi manajemen keuangan, yang seharusnya saya menggeluti bidang pasar modal ini, pada akhirnya tidak saya tekuni. Sebab saya lebih tertarik untuk memilih menerapkan bidang ilmu yang lainnya, yakni kewirausahaan, yang juga saya peroleh sewaktu duduk di bangku kampus.

Saya bisa saja memilih keduanya. Namun sekali lagi, saya harus memperhatikan waktu, tenaga, dan konsentrasi saya yang cukup terbatas. Dan pada akhirnya, saya memilih untuk menekuni wirausaha saja dengan tetap memperhatikan kondisi yang ada di pasar modal.

Perkembangan kondisi di pasar modal masih cukup menarik perhatian saya, sebab ia tak jauh beda dengan bisnis-bisnis lainnya, yakni begitu sensitif terhadap isu-isu yang mengitarinya. 

Namun, sepertinya keputusan saya audah bulat. Bisa jadi, saya tidak akan mengamalkan ilmu pasar modal saya meskipun saya sedikit mengetahuinya.

Idealnya, setiap ilmu yang dimiliki oleh seseorang memang sepatutnya diamalkan agar ia dapat merasakan buahnya. Seperti kata orang bijak, al-'ilmu bila 'amalin ka asy-syajari bila tsamarin, ilmu yang tak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah.

Dulu, saya meyakini apa adanya pesan dari pepatah mahfudhat ini. Namun seiring berjalannya waktu, mulai timbul keraguan yang menyelimuti pikiran saya. "Apakah benar setiap ilmu itu harus diamalkan?"

Saya tiba-tiba saja terbayang beberapa pertanyaan nakal. "Apakah orang yang punya keahlian mencuri ia harus mencuri?" "Mereka yang punya kemampuan untuk memukul orang lain apakah harus selalu memukuli siapa saja yang ditemui di jalan?"

Mereka yang mampu berpikir secara arif dan bijak tentu akan menjawab tidak. Sebab mereka menyadari bahwa di samping ilmu, kompetensi maupun keahlian yang mereka miliki, rupanya masih ada nilai-nilai lain yang harus diperhatikan, seperti nilai agama, moral, hukum, dan sebagainya. 

Sehingga dengan memahami adanya nilai-nilai itu, maka seseorang akan sadar bahwa ia tidak dapat berlaku sebebas-bebasnya dalam memeragakan kemampuannya. Dan manakala mereka mengabaikan nilai-nilai itu, tentu mereka akan berpotensi berhadapan dengan konsekuensi maupun sanksi yang telah ada.

Gambaran mudahnya, mereka yang bersikukuh mencuri karena memiliki keterampilan mencuri tentu akan menanggung risiko masuk bui atau digebuki oleh massa. Sehingga dengan berangkat dari pemahaman ini, pemilik ilmu atau keahlian mencuri yang bijak, maka mereka tidak akan sembrono dalam mempraktikkan ilmu mencurinya.

Namun sebaliknya, dengan berbekal ilmunya itu ia akan menggunakannya sebagai langkah antisipasi agar dirinya maupun orang-orang yang ada di sekitarnya tidak akan menjadi korban pencurian.

Setelah memahami contoh sederhana ini, saya pun mulai mencoba menyimpulkan bahwa tidak sepatutnya setiap apa yang kita ketahui itu harus selalu kita amalkan secara apa adanya, tanpa berusaha untuk menggali maksud dan konteks yang ada di dalamnya.

Hal ini barangkali akan berguna bagi kita untuk mengantisipasi pengaplikasian ilmu secara tidak tepat sasaran, yang ujung-ujungnya adalah sebuah penyesalan.