Hidup tidak bergerak dalam suatu garis lurus. Ada kelokan, tanjakan, turunan, bergelombang, dan juga berlubang. Hidup diselingi dengan tertawa, terkadang juga menangis. Kadang bersedih, kali lain berbahagia. Laiknya rollercoaster, suasana hati sepenuhnya dipengaruhi oleh aksi dan reaksi dalam memandang sebuah peristiwa.

Sewaktu kecil, saya dan teman-teman sepermainan biasa ‘mempermainkan’ nama-nama bapak teman kita masing-masing, sambil tertawa terpingkal-pingkal, memang lucu sih. Dan jika kebetulan ada simbah kami yang memergoki, ia tak bosan-bosannya mengingatkan “Jangan bergurau keterlaluan nak, nanti pasti ujungnya ada yang menangis”.

Tuturan seperti ini akan selalu muncul jika ada anak-anak yang bercanda terlalu berlebihan, karena biasanya di ujung candaan pasti ada hati lain yang terluka, yang membuat sebagian mata-mata kecil kita sembab dan bercucuran air mata.

Dalam perspektif yang lebih luas, dimana Iklim demokrasi di Indonesia yang terbuka luas, sangat bisa sekali kita mengeskpresikan kebahagiaan kita terhadap suatu peristiwa dengan tertawa, bahkan kadangkala terbahak-bahak tanpa peduli batas. Hal inilah yang kadang kita lupa bahwa dibalik tertawaaan kita bisa jadi ada pihak yang merasa sedang ditertawakan, dan akhirnya terluka.

Hal di atas sejalan dengan peristiwa pleset-memplesetkan suatu marga oleh komedian itu dan komedian ono. Yang bagi sebagian orang itu lucu-lucu saja, tapi bagi sebagian yang lain itu telah merusak harkat, martabat, dan kehormatannya.

Sudah berkasus-kasus hal seperti ini, tergelak di atas perih kehormatan orang lain. Kita menertawakan sesuatu hal yang sebenarnya tidak pantas ditertawakan. Sifat manusiawi kita yang kadang kebablasan dalam mengekspresikan tingkat ketertawaan kita. Dan karena sifat manusiawi jugalah yang kadang membuat kita terluka. Kita lupa bahwa ada liyan yang terbalut tradisi dan kebiasaan yang berbeda, yang bisa saja salah dalam mengartikan candaan kita.

Maka dari itu, inilah pentingnya kontrol pribadi. Ia bertugas mengontrol sepak terjang candaan kita agar tidak melampaui pagar pembatas. Kontrol inilah yang bersinggungan langsung dengan sejauh mana tingkat kecerdasan sosial suatu individu serta sebagai bukti akan pengalaman yang panjang dalam sebuah pergaulan.

Tentu saja hal ini tidak berlaku khusus kepada komedian profesional saja, namun ini juga berlaku kepada kita semua sebagai seorang makhluk sosial. Kepada kita yang kadangkala juga bermasalah dengan candaan. Bercanda dengan sesama teman, berkelakar dengan rekan kerja, atau menertawakan sesama tetangga.

Saya tidak tahu batasan hal-hal yang bisa ditertawakan maupun tidak secara sistematis dan terstruktur. Tetapi bahwa tidak semua hal bisa ditertawakan itu sudah jelas. Yang kadangkala sesuatu itu menjadi ambigu dan berada dalam wilayah abu-abu. Sehingga kadang kita tidak berpikir sampai sejauh itu ketika melontarkan sebuah joke.

Tetapi baiklah, demi tulisan ini ada ‘isi’nya, saya akan menuliskan beberapa hal yang tidak pantas ditertawakan sebut saja misalnya candaan yang menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), body shaming, atau tradisi budaya dalam masyarakat lokal tertentu. Memang ini bukanlah hal yang baru, tapi batasan-batasan sederhana seperti ini yang sering kita lupakan.

Sesuatu yang sudah asasi sebagai manifestasi dari takdir Tuhan sangat tidak pantas ditertawakan. Ke-suku-an dan ke-bangsa-an. Bermain dengan kata-kata yang mengundang tawa dengan konten penghinaan terhadap suatu suku atau bangsa tertentu sangat tidak pantas kita lontarkan.

Guyonan terhadap agama pun sangat tidak pantas kita lontarkan. Agama adalah keyakinan, dan kita mafhum bahwa keyakinan tidak pantas dijadikan sebagai bahan tertawaan.

Ambil contoh misalnya komika yang pernah terserempat masalah menyinggung agama ini, atau komedian di TV itu yang pernah juga bersinggungan dengan candaan agama. Apalagi pada masa kubu-kubuan kemarin, agama adalah isu yang sangat sensitif.

Seperti halnya candaan tentang suku, candaan tentang ras juga sama rentannya bila dipaksakan untuk dibuat guyonan. Apakah ia sebentuk setup, premis, atau punchline sekalipun. Jauhi saja candaan tipe ini. Hal yang sama juga berlaku untuk candaan yang bernada mengejek sebuah golongan.

Ada juga candaan yang menyinggung fisik. Kita tahu bahwa fisik adalah takdir Tuhan yang telah kita terima secara bulat dalam diri kita. Sesuatu yang tidak bisa kita tawar-tawar. Jika kita melontarkan candaan yang berbau body shaming, maka bukan saja orang yang kita hina yang terkena, tapi ada kekuatan Tuhan yang kita lecehkan.

Lalu mengenai candaan yang menyinggung adat kebiasaan setempat. Saya teringat seorang teman yang berasal dari wilayah pantura jawa bagian barat yang bercerita jika kita bercanda dengan memegang ujung hidung maka itu bukan lelucon, tetapi pertanda sebuah tantangan.

Seakrab apa pun pertemanan, jika sudah berani melakukan tindakan pemegangan ujung hidung maka perkelahian yang muncul. Potensi perpecahan yang menyinggung kebiasaan adat seperti contoh ini pantas kita perhatikan lebih lanjut.

Maka ujung dari semua itu adalah sebuah kepekaan sosial. Peka membaca realitas budaya, adat istiadat, serta asasi manusia dalam melontarkan sebuah candaan.

Memang bercanda adalah bumbu-bumbu interaksi sosial. Ia mempermanis persahabatan. Ia memperindah pergaulan. Tanpa canda, seseorang yang berada dalam level ‘teman’ tidak akan pernah naik ke tingkat level ‘sahabat’.

Maka bercanda juga perlu, akan garing rasanya jika obrolan antar teman hanya berisi lontaran yang dingin tanpa humor. Akan tidak menarik sebuah ceramah keagamaan tanpa selingan canda. Tidak akan menarik tulisan tanpa penyedap tawa.

Namun kembali kepada etika dan moralitas dalam interaksi sosial yang harus tetap kita perhatikan. Agar kita senantiasa waspada dan berhati-hati dalam bercanda. Karena etika, moralitas, dan hak asasi manusialah pagar-pagar pembatas kita bereskplorasi dalam bercanda. Jika ada saudara kita yang kelewatan, ingatkan agar kembali ke rel semula. Jangan dimusuhi tetapi jadikan ini sebagai momentum perbaikan diri.