Guru memang selalu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan pendidikan. Mencerdaskan kehidupan bangsa untuk generasi masa depan.

Tapi guru yang seperti apa yang disebut pahlawan? Kok saya kurang setuju kalau gelar kepahlawanan guru itu harus disematkan secara general ke semua guru. Soalnya istilah "guru" saja memiliki beberapa makna, multitafsir. Belum lagi kelakuan dan tipe guru itu banyak. Banyak sekali.

Makna pertama dari kata guru, adalah guru sebagai profesi. Seseorang yang bekerja sebagai pengajar di suatu lembaga pendidikan atau sekolah, tentu akan dipanggil guru. Makna kedua, adalah seseorang yang mengajarkan sesuatu kepada orang lain meskipun satu huruf saja, baik secara profesi ataupun tidak.

Tidak jarang, seorang yang berprofesi guru ternyata tidak benar-benar menjadi "guru". Seseorang yang mengajar di sekolah, atau lembaga pendidikan, masih ada yang hanya sekadar datang dan hadir ke kelas tetapi tidak menjadi "guide" pada pelajaran. Atau, ada saja guru yang sekadar mengajar sebagai penggugur kewajiban tapi tidak memperhatikan pemahaman siswa. Hanya sekadar saja. Yang penting masuk, isi absen, dan tinggal nunggu gajian di akhir bulan.

Lantas, sudah tepatkah guru yang hanya sekadar itu ikut disematkan gelar pahlawan anda jasa? Atau, seseorang yang tidak mesti berprofesi guru yang mau mengajarkan ilmunya dan tidak harus dalam kelas formal, dialah pahlawan yang sebenarnya?

Saya yakin, semua orang bisa menjadi guru secara "profesi". Tetapi hanya sedikit mereka yang sanggup mengemban amanah negara untuk benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagian dari mereka hanya sekadar mencari masiah atau penghidupan dari gaji mengajar tanpa memperhatikan apakah kemampuan mengajarnya cukup memadai untuk mentransfer keilmuan pada siswa hingga dalam tahap memahami suatu pelajaran.

Sebagian guru pula tidak lebih dari sekadar menggugurkan kewajiban. Agar di akhir bulan tidak perlu ada beban karena sudah cukup absen dan penyampaian materi untuk syarat gajian. Ada pula tipe guru yang mengajar hanya menuruti dan menghormati kepala sekolah. Kalau tidak mengajar, tidak menyampaikan materi sesuai kurikulum yang telah ditentukan, maka ia akan dipanggil dan ditegur keras oleh pimpinan.

Pun ada juga guru yang hanya melengkapi keharusan sekian jam mengajar untuk mengejar target saja. Yang penting masuk dan seminggu minimal 36 jam terpenuhi. Masalah di dalam kelas ngapain, itu nanti saja. Masalah siswa mengerti atau tidak, tidak perlu dipedulikan. Masalah siswa tertarik belajar atau tidak, ya bukan urusan. Urusan guru tipe ini ya gimana gaji PNS cair tiap bulan dan gaji 13 serta THR nggak ada penundaan.

Mari kita ambil contoh salah satu guru SMA saya dulu. Sebut saja bapak A. Sebagai guru BK, kelakuan bapak ini bahkan sangat kurang santun kepada murid-muridnya. Tidak jarang ketika jam istirahat ia menggoda siswi-siswi yang lewat di depannya. 

Kegenitan beliau sangat tidak mencerminkan guru sebagai pahlawan bangsa. Beliau hanya mendapat gelar guru karena profesi saja, lebihnya tidak. Sebagai fungsi pembimbing, guru satu ini setiap hari kerjanya hanya datang, absen, menggoda siswi, dan pulang saat jam belajar selesai.

Contoh selanjutnya adalah salah satu dosen saya di kampus. Alih-alih hadir mengontrol mahasiswa belajar, ia sibuk selama hampir satu semester di luar kota sehingga mahasiswanya harus belajar mandiri tanpa arahan. Di akhir semester, ia baru datang hanya untuk memberikan soal ujian dan menentukan nilai.

Contoh sebaliknya adalah seorang teman saya, Heri Supianto namanya. Saya rasa ia termasuk guru yang sangat memperhatikan pemahaman dan keberhasilan siswanya. Saat sama-sama mengajar di sebuah lembaga, saya menjadi saksi bagaimana ia begitu serius merencanakan pembelajaran, mencoba beberapa metode modern dan mencari cara inovatif yang membuat siswa tertarik belajar.

Guru-guru seperti Heri Supianto adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sejati. Namun sayang nian, tipe guru seperti ini tidak berlaku untuk semua profesi guru. Hanya sebagian saja yang benar-benar menghayati peran sebagai guru dalam membimbing siswa.

Maka dari itu, maaf beribu maaf, dengan alasan tersebut, saya harus sebutkan bahwa tidak semua profesi guru berhak mengakui diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, setiap orang yang memberikan pelajaran ke orang lain, meski secara profesi ia bukan guru, dialah yang boleh menyandang gelar pahlawan itu.

Karena, gelar guru pahlawan bukan diberikan pada guru yang hanya sekadar profesi atau sekadar menggugurkan kewjiban, tetapi untuk mereka yang benar-benar mengajar, membimbing, dan memastikan pemahaman siswanya bahkan berinovasi agar siswanya tertarik belajar.

Saya harap, semua orang yang sudah terlanjur dalam profesi guru, mau mengevaluasi diri masing-masing. Apakah kita adalah orang yang tepat untuk menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa?