Baru-baru ini, saya membaca tangkapan layar status whatsapp di beranda Facebook, yang dibagikan oleh salah satu teman. Isi statusnya begini, "please bgt ini mah kalau bhs inggris lu msih belepotan bahkan grammarnya berantakan, gausa belaga paling jago pamer sana sini, sadar diri saja. Gua aja yang kerja nya tiap hari harus ngomong bahasa inggris sama customer kadang suka ngerasa malu kalo tau bahasa inggris kita masih kurang. Duuuhh ngomong bahasa inggris kalo masih berantakan grammar nya itu bukan nya keren malah jadi cringe." Saya tulis persis seperti status yang ditulis si mbak itu. Lebih mudahnya, kita sebut saja Mbak Julid.

Si Mbak Julid ini lupa tentang jejak digital. Ia lupa zaman sekarang; telat 1 detik saja, status yang dia bagikan sudah berpindah tangan. Berpindah dari satu sosial media ke sosial media yang lain. Itulah canggihnya fitur share. Sharing is caring. Begitu slogan kerennya. Siapa tahu memang sengaja sih supaya netizen bereaksi lalu jadi tenar seperti yang lagi tren sekarang ini.

Sejujurnya saya juga ingin julid seperti Mbak Julid. Tapi, gimana ya kok buang-buang waktu saja. Sebenarnya nyinyir itu kan tanda-tanda matinya hati dan pikiran.

Jadi, di sini saya hanya ingin titip salam manis, eh, maksudnya ingin meluruskan kebengkokan pemikiran si Mbak Julid itu. Toh, bagaimanapun, saya juga tersinggung dengan statusnya. Duh, sakit hati online nih yee!

Ada jutaan bahasa yang berbeda-beda tersebar di seluruh dunia. Tiap-tiap negara mempunyai bahasanya masing-masing. Untuk memudahkan warga di seluruh dunia berkomunikasi secara internasional, digunakanlah bahasa inggris. Bahasa inggris ini bisa disebut alat untuk berkomunikasi.

Bahasa diciptakan untuk memudahkan manusia berkomunikasi bukan mempersulit komunikasi. Komunikasi dua arah hanya memerlukan dua orang yang paham satu sama lain tentang apa yang mereka diskusikan atau bicarakan. 

Jadi, penting atau tidak penggunaan grammar? Tidak terlalu penting, bila penggunaan bahasa inggris hanya sekadar untuk berkomunikasi. Selama tidak ada kesalahpahaman antara dua pihak, ya sah sah saja grammarnya berantakan. Justru di sinilah tugas kita yang paham, mengoreksi, dan meluruskan.

Kalaulah orang yang mahir berbicara bahasa inggris menjadi tolok ukur kecerdasan seseorang, berarti orang gila di inggris juga termasuk orang cerdas. Mana ada orang gila yang tinggal di inggris sana yang tidak mahir berbicara bahasa inggris, ya kan?

Sesekali perlulah kita ini jalan-jalan atau tinggal di luar negeri yang berbeda bahasa. Apalagi bertemu dan berbincang dengan para ekspatriat dari berbagai negara. Bukan untuk menyombongkan kemampuan bahasa inggris. Tapi, untuk membuka pikiran dan wawasan bahwa komunikasi yang baik dan benar adalah ketika dua pihak sama-sama mengerti maksud yang dibicarakan.

Dulu ketika masih di Indonesia, saya pikir bahasa internasional itu bahasa inggris. Baru menginjakkan kaki di bandara Jeddah International Airport, pemahaman saya berubah total. 

Bayangkan saja, saya tidak bisa bahasa arab. Petugas imigrasi di bandara, orang arab yang tidak bisa bahasa inggris. Lha terus gimana? Apakah semua aktivitas keimigrasian akan terhenti begitu saja bila dua pihak ini tidak bisa berkomunikasi? Bahasa isyaratlah yang akhirnya menolong kami untuk berkomunikasi, sesekali diselingi bahasa inggris sepatah dua patah kata.

Tidak perlu malu belum mahir bahasa inggris. Malu itu ketika kita tidak pernah belajar sama sekali. Untuk bisa meraih kata sukses dan mahir berbicara bahasa inggris, dibutuhkan latihan terus-menerus. Dengan berlatih terus-menerus, rasa percaya diri itu akan tumbuh. 

Mungkin bagi beberapa orang menumbuhkan rasa percaya diri itu susah. Apalagi didukung dengan omongan yang mematikan motivasi seperti yang ditulis Mbak Julid.

Kalimat-kalimat pedas seperti yang ditulis Mbak Julid tadi bisa jadi motivasi dan bisa jadi membunuh rasa percaya diri orang lain. Teman-teman saya, khususnya, ragu untuk ke luar negeri hanya karena takut tidak bisa bahasa inggris.

Mereka tahu dasar-dasar bahasa inggris. Bukan tak mau belajar. Jarangnya berlatih berbicara bahasa inggris membuat keraguan dan ketakutan itu semakin besar. Padahal ketakutan itu ibarat sugesti yang membuat hati menjadi kerdil. Hilang sudah keberanian berbicara bahasa inggris.

Herannya lagi, kebanyakan orang-orang kita seperti punya bakat untuk mematikan motivasi orang lain. Alih-alih membenarkan atau mengoreksi, mereka-mereka ini yang "merasa paling jago" dalam bahasa inggris baik dari grammar atau pronounciation mudah menghakimi yang lain. 

Padahal kita sudah jungkir balik membangun kepedean untuk bisa mengeluarkan semua ilmu ke-bahasa-inggris-an yang telah kita dapatkan di bangku sekolah dulu. Dahulu tidak bisa, sekarang lupa. Akhirnya hilang sekejap mata. Lhah!

Sejak sekolah dasar hingga perkuliahan, kita dijejali banyak teori-teori tentang bahasa inggris. Cukup pusing menghapal banyak grammar dan vocabulary. Apalagi dibarengi dengan cara berbicaranya yang seratus persen berbeda dengan bahasa kita.

Apakah dengan teori-teori itu cukup? Tidak! Lihat saja betapa banyak diantara kita yang tidak bagus-bagus amat bahasa inggrisnya. Bahkan jauh dibawah rata-rata. Kita perlu berlatih terus menerus untuk bisa mahir berbahasa inggris. Dengan berlatih terus menerus, kemampuan bahasa inggris akan meningkat.

Ada kisah inspiratif dari salahseorang penerima beasiswa S2 dari pemerintah. Ia seorang pemuda yang pernah viral di sosial media dengan julukan pemulung ganteng. Pemuda ini sedang kuliah dan butuh biaya untuk kuliah strata satu sehingga ia bekerja menjadi pemulung. 

Pemerintah mengapresiasi semangatnya bekerja yang tidak malu sekalipun harus bekerja menjadi pemulung. Selain itu, setelah ditelusuri si pemuda ini juga termasuk mahasiswa yang cerdas.

Setelah mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintah, si pemuda tadi masih memiliki kendala. Ia tidak pandai berbahasa inggris sedangkan kemampuan bahasa inggris baik teori maupun praktek dibutuhkan untuk mempermudah kuliah strata duanya. Ia tidak memiliki biaya untuk kursus bahasa inggris.

Akhirnya secara otodidak, berbekal kemampuan bahasa inggris yang seadanya, ia nekat menjadi pemandu wisata. Ia datangi turis-turis dari luar negeri yang sedang berwisata di Indonesia. Ternyata respon bagus didapatkannya dari para turis.

Dari caranya menjadi pemandu wisata itu, si pemuda tadi dapat berlatih terus menerus berbicara bahasa inggris. Kuncinya berani, percaya diri, dan terus berlatih praktek berbicara. Jangan menyerah karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Jangan dengarkan nyinyiran orang-orang yang menyakitkan tentang buruknya bahasa inggris kita.

Apa sih keistimewaan orang yang sombong dengan bahasa inggrisnya? Tidak ada! Toh kesombongan itu hanya sepanjang lidahnya saja.