Sebagai seorang awam yang baru berniat mendalami ilmu agama, Idul sangat kebingungan soal bagaimana dia harus memulainya. Sebabnya, Idul menerima banyak sekali informasi terkait agama yang justru dirasa saling bertolak belakang, padahal tema bahasannya mengenai hal yang sama.

Ditambah lagi Idul mendapati bahwa dalam agama yang sedang didalaminya terdapat kelompok atau mazhab --metode yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.

Pernah Idul bertanya kepada seorang ulama yang cukup terkenal melalui media sosial yang dimiliki ulama tersebut tentang suatu hal. Saat itu Idul mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari ulama tersebut tentang pertanyaannya.

Di kesempatan yang berbeda, si Idul secara tidak sengaja menonton acara tausiah keagamaan di televisi, dan pembahasannya sama persis dengan pertanyaannya kepada ulama di media sosial yang pernah ditanyakannya. Ternyata jawaban dari ulama tersebut berbeda 180 derajat dari jawaban ulama yang dirujuknya di media sosial.

Hal tersebut tentu saja membuat Idul yang masih sangat awam menjadi bingung, sehingga dia berusaha mencari sumber lain untuk mengetahui jawaban atas pertanyaannya tersebut. Kebetulan di suatu kesempatan, Idul bertemu dengan seorang tetangga kampung yang memang cukup terkenal sebagai seorang penceramah. Idul mencoba bertanya pertanyaan yang sama, dan ternyata jawaban penceramah tersebut berbeda lagi dengan jawaban yang pernah diterimanya dari dua ulama yang berbeda.

Hal seperti ilustrasi di atas banyak dialami orang saat mereka mencoba mendalami atau mempelajari agama secara lebih mendalam. Sebagian orang mempelajari agama dari ulama idolanya dan mempercayainya “luar-dalam” tanpa saringan. Pokoknya apa pun yang dikatakan sang ulama idolanya, sudah pasti benar.

Begitu pendapat orang yang berada di kelompok ini. Terkadang orang yang berada pada kelompok ini menganggap apa yang diyakini merupakan kebenaran absolut atau hakiki, sehingga siapa saja yang berbeda pendapat akan dianggap sesat. Seringkali orang di kelompok ini malah dengan mudah mengafir-ngafirkan orang karena tidak sejalan pendapatnya.

Kalau si Idul bertemu dengan orang-orang yang berada dalam kelompok ini, rasanya hanya ada dua kemungkinannya. Pertama, jika si Idul merasa apa yang dia dapat sesuai dengan hatinya, maka si Idul akan menjadi orang seperti pada kelompok ini; atau kedua, jika si Idul merasa apa yang dia dapat tidak sesuai dengan hatinya, si Idul akan menjauh dari kelompok ini atau bahkan bisa jadi si Idul dimusuhi oleh kelompok ini karena si Idul dianggap tidak sama dengan mereka.

Kelompok ini sangat mudah dicirikan, karena kebanyakan dari mereka sangat vokal dan sering bertindak frontal. Kalau kita melihat media cetak maupun elektronik, biasanya kelompok ini sering berteriak “jihad…jihad” ataupun meneriakkan kalimat tauhid “Allahuakbar…Allahuakbar”.

Satu tanda lagi yang mencirikan kelompok ini, biasanya mereka yang paling lantang untuk mendirikan negara Khilafah --sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Ada juga kelompok orang yang sangat taat terhadap satu mazhab fikih tertentu –dikenal empat mazhab besar di Indonesia, yaitu: Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Maliki. Di Indonesia dan kebanyakan negara Asia Tenggara lainnya bermazhab Syafi’i. Kelompok ini biasanya lebih toleran dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka, karena mereka menyadari bahwa memang dikenal empat mazhab tadi yang untuk hal-hal tertentu memang berbeda.

Walaupun kelompok ini dikenal lebih toleran, tapi untuk hal-hal tertentu yang dianggap sangat krusial, terkadang mereka juga agak kaku atau kurang bisa bertoleransi. Ini mungkin adalah kelompok terbesar kalau umat muslim di Indonesia kita kelompokkan.

Kebetulan si Idul awalnya bertemu dengan banyak sekali orang dari kelompok ini. Dia banyak belajar tentang Islam dari kelompok ini. Banyak hal yang sudah dipelajari Idul selama bertahun-tahun bahkan lebih dari 10 tahun, mendekati 15 tahun. Sampai pada suatu ketika Idul menyadari bahwa ternyata banyak pendapat yang berbeda, bahkan antar ulama besar sekalipun.

Akhirnya sampailah si Idul pada suatu kesimpulan bahwa ternyata tidak ada kebenaran hakiki di dunia ini. Tidak ada pendapat yang benar-benar “BENAR”. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan bahwa apa yang dilakukannya selama ini terjamin kebenarannya. Perbedaan para ahli agama sudah cukup membuktikan bahwa tidak ada kebenaran yang hakiki.

Ada salah satu hadis yang mengatakan bahwa ada 72 atau 73 kelompok umat Islam, dan hanya satu yang benar dan masuk ke dalam surga. Siapa yang bisa memastikan bahwa dirinya termasuk dalam kelompok yang satu itu? Dengan dasar apa dia bisa memastikan bahwa dia berada dalam kelompok yang benar? Tidak seorangpun bisa memastikan hal tersebut.

Si Idul terus dalam perjalanan spiritualnya selama 15 tahun, dan sampai pada suatu ketika dia berhenti berjalan, dia berpikir. Dia gunakan akal yang diberikan Tuhan kepadanya, dia mencari sumber-sumber ilmu dari manapun juga, baik dari buku, ceramah-ceramah, para ulama atau ustaz, bahkan dari Google ataupun media sosial lainnya.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang pencariannya tentang “ketuhanan”, Idul memutuskan bahwa dia tidak bermazhab kepada salah satu dari empat mazhab fikih yang kita kenal. Kalaupun ditanya si Idul bermadzhab apa?, maka dengan mantap dia akan menjawab mazhabnya adalah mazhab cinta. Si idul menjadi orang yang sangat toleran terhadap apapun dan siapapun. Dan dia tetap menjalankan apa yang dia ketahui dan harus dia jalankan dalam agamanya, Islam.

Sebenarnya apa yang dilakukan si Idul? Untuk mempelajari suatu hal, si Idul mencari sumber dari manapun juga, baik buku, ulama, ustaz, Google dan lain-lain. Lalu dia menggunakan akal yang diberikan Tuhan kepadanya dan diproseslah semua sumber yang dia dapatkan tersebut dengan akal yang dimilikinya, dan dia putuskan hasilnya berdasarkan referensi yang sudah dia kumpulkan tadi. Itu adalah cara si Idul belajar agama.

Dia mengatakan bahwa untuk belajar membaca Alquran, maka kita perlu guru untuk membimbing kita, karena memang ada ilmu untuk bisa membaca Alquran seperti ilmu tajwid dan makhroj, tetapi untuk urusan agama, dia mengatakan tidak perlu guru untuk mempelajarinya, yang diperlukan adalah mencari sumber sebanyak-banyaknya, lalu olah data tersebut dengan akal yang diberikan Tuhan kepada kita. Hasil buah pikir tersebutlah yang  dipakai sebagai pendapat kita tentang hal tersebut.

Hal yang dilakukan si Idul menggunakan akalnya sebenarnya tersurat jelas dalam Alquran, bahkan dibanyak ayat. Alquran tidak saja menganjurkan penggunaan akal, tetapi juga mengecam yang tidak menggunakannya untuk meraih ilmu dan hikmah.

Di samping itu, alquran juga menggarisbawahi perlunya menghindari hal-hal yang dapat menghambat akal untuk berpikir lebih jernih dan beramal lebih baik. Kecaman Alquran terhadap mereka yang mengikuti tradisi leluhur tanpa dasar ilmu, merupakan salah satu contoh dari penekanan kitab suci ini menyangkut pentingnya penggunaan akal.

Memang, kaum muslimin dituntut untuk percaya, tetapi kepercayaan itu harus didukung oleh ilmu dan dikukuhkan oleh hati yang suci, bukan sekadar percaya atas dasar pengamalan leluhur. Bertebaran ayat dan Alquran yang mengandung makna ini.

Dengan uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa akal yang dimaksud oleh Alquran adalah akal yang mengantar manusia meraih pengetahuan dan hikmah serta mengantarnya menuju akhlak luhur serta pemeliharaan kesucian nurani.