Tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia (World's Mental Health Day).

Apa yang kita tahu tentang kesehatan mental? Seperti apa mental yang sehat? Seperti apa yang tidak sehat? Bagaimana supaya mental kita tetap sehat? Banyak sekali pertanyaan.

Apa kita tahu bahwa dengan bantuan seorang psikolog kita bisa menjaga kesehatan mental kita?

Di perbincangan grup WhatsApp beberapa hari yang lalu, sempat ada bahasan tentang pentingnya datang, bertemu, dan berkonsultasi dengan seorang psikolog. Ada yang bilang: "Lha aku disuruh ke psikolog, memangnya aku gila?"

Hello, there. Menemui seorang psikolog bukan berarti kamu gila. Bukan berarti juga kamu punya penyakit mental.

Kenyataannya, dalam hidup ini, banyak hal yang tidak bisa kita pahami dengan sambil lalu. Kita butuh memahami masalah apa yang terjadi pada kita, menelaahnya dan mencarikan jalan keluar.

Lingkungan yang kurang menyenangkan, teman yang menjadi racun, bahkan keluarga yang tidak mendukung, pada akhirnya akan memberikan suatu tekanan pada diri kita. Bukan tekanan yang baik, tentu saja. Masalah-masalah ini, bila kita biarkan, lama-kelamaan akan menjadi bom waktu. Nah, bagaimana kita mengatasi hal inilah yang perlu kita perbincangkan dengan seorang psikolog.

Kenapa harus ke psikolog?

Dalam banyak kasus, keengganan untuk berbagi ini menjadi bumerang bagi beberapa orang. Tidak semua masalah bisa diceritakan ke orang lain, tentu juga tidak semua orang nyaman menceritakan masalahnya.

Menceritakan masalah ke sembarang orang juga berisiko. Alih-alih terbantu, yang ada malah kita dijadikan bahan gunjingan yang membuat makin depresi.

Datang ke psikolog adalah solusi yang tepat bila kita merasa masalah sudah makin kompleks. Karena bagaimanapun, kita butuh seseorang untuk mendengarkan dan mungkin memberi saran.

Seorang psikolog sudah pasti lebih paham bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik dan netral, tidak memihak ke A atau B. Mereka juga pasti sudah terlatih memberikan beberapa metode penyelesaian masalah pada kita.

Datang ke psikolog juga sangat diperlukan bila kita mengalami trauma psikologis. Apa saja contohnya? Dibully sejak kecil, bodyshaming, menjadi korban perkosaan, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan bila kita menjadi korban suatu bencana alam. 

Kenapa riwayat trauma seperti ini harus ke psikolog? Karena ini membekas dan tidak bisa hilang begitu saja. Kita butuh mengenali lagi traumanya, mengolah dan mencari solusi terbaik untuk mengatasinya. Di sini peran psikolog sebagai pendamping sangat dibutuhkan.

Banyak orang yang mempunyai masalah dalam hidupnya (dan tidak mampu mengatasi masalah tersebut) lalu lari ke hal-hal negatif sebagai pelampiasan. Narkotika dan obat-obatan terlarang, alkohol, bergaul di lingkungan yang kurang baik, bahkan menyakiti diri sendiri menjadi sebuah pelarian. 

Alkohol dan narkotika mungkin bisa membuat kita lupa sejenak akan masalah, tapi efek panjangnya bagi kesehatan tubuh sangatlah tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatannya. Bergaul di lingkungan yang kurang baik hanya akan membuat kita makin terpuruk, menumpuk masalah tanpa pernah ada solusi. Begitu pun dengan menyakiti diri sendiri.

Sedang tren ya orang melukai tubuhnya sendiri lalu diunggah ke media sosial? Untuk apa? Butuh perhatian. Butuh dilihat dan didengar. Saat kita sudah sampai di tahap ini, berarti kita sudah sangat butuh bantuan.

Segeralah menemui seorang psikolog. Jangan takut menemui psikolog

Tidak perlu takut dengan rumor yang beredar bahwa biaya konsultasi dengan psikolog itu mahal. Memang ada yang mahal, tapi di beberapa pusat layanan masyarakat seperti puskesmas atau lembaga-lembaga swadaya lain, konsultasi ini dikenakan biaya yang sangat ringan, bahkan ada yang gratis.

Tidak perlu juga merasa khawatir bahwa berkonsultasi dengan psikolog maka kita akan membuka aib. Psikolog pasti akan menjamin seluruh cerita kita aman bersama mereka.

Dan yang pasti, jangan takut disebut gila bila kita datang ke psikolog. Justru ini adalah cara supaya pikiran dan jiwa kita sehat tanpa menyimpan luka. Dengan begitu, kita akan paham bahwa penyakit atau luka mental itu sangat berbahaya. Tidak usah memedulikan anggapan orang yang sudah jelas tidak bisa membantu kita mengatasi masalah.

Berani mengakui bahwa kita butuh bantuan, berani mencari bantuan ke orang yang tepat akan menyelamatkan kita.