Pemuda adalah generasi harapan suatu negara. Bukan hanya sekedar penerus dari generasi sebelumnya, namun juga menjadi generasi perubahan untuk dapat berubah menjadi baik lagi demi kemajuan suatu negara.

Namun, seyogyanya terlebih dahulu melihat kembali arti kata pemuda itu sendiri. Dilansir dari kesrasetda.bulelengkab.go.id, menurut WHO pemuda adalah golongan manusia yang rentan usia antara 10-24 tahun sebagai young people serta 10-19 tahun disebut adolescenea. Secara biologis, pemuda mengalami perkembangan baik dari fisik maupun non-fisik. Dari fisik terdapat peralihan jasmaninya, yang semula tubuhnya kecil menjadi besar, atau yang disebut pubertas, sedangkan non-fisik berupa perubahan sikap, emosi, pemikiran dan sebagainya.

Dari hasil indeks Bappenas (2019) menyatakan, bahwa pemuda merupakan generasi yang memiliki pewarisan dari angkatan sebelumnya untuk melanjutkan pembangunan. Dan pemuda ini memiliki jiwa semangat yang tinggi untuk merespons berbagai perkembangan yang ada. Dari sinilah yang kemudian pemuda miliki kompleksitas dan keberagaman dari pewarisan sebelumnya sehingga, membentuk pikiran yang kritis terhadap perkembangan zaman, baik saat ini maupun masa depan.

Secara fungsionaris pemuda dalam konteks sosio-historis Indonesia, terdapat peristiwa penting dan (mungkin) masih kita peringati hingga saat ini. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 dulu adanya momentum kongres pemuda 2 dengan hasil akhir adalah terciptanya sumpah pemuda.

Sumpah pemuda merupakan ikrar pemuda untuk tetap memiliki rasa nasionalisme yang humanis agar dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Pasalnya, pada saat itu Indonesia tengah dijajah oleh negara Belanda, sehingga dalam melawan penjajahan feodalisme tersebut salah satunya perlawanannya adalah dengan pemuda, karena pemuda yang dinilai memiliki rasa juang dan jiwa semangat nasionalismenya yang tinggi.

Nasionalisme yang dimaksud adalah diposisikan secara proporsional yakni, untuk menyikapi kepentingan Negara. Yang artinya menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, yang notabenya Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan golongan.

Hal inilah yang kemudian saat ini kita “mengidam-idamkan” pemuda. Bukti nyata yang telah mengidam-idamkan pemuda dan (bahkan) dibirokrasikan ke dalam forum pemerintahan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), —kalau saat ini berafiliasi menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), adalah generasi emas

Mohammad Nuh saat itu yang tengah menjabat sebagai mendiknas, melaunching generasi emas yang bertepatan pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2012. Ya memang generasi emas ini tidak dikerucutkan pada pemuda saja, akan tetapi pemuda saat ini dapat mempengaruhi generasi berikutnya. Sehingga tidak ada salahnya untuk menitikberatkan pada pemuda saat ini.

Namun pemuda saat ini, tengah mengalami berbagai permasalahan dalam struktur fungsionalitas untuk bernegara. Kalau generasi sebelumnya permasalahannya tidak begitu ruwet, seperti karena feodalisme, imperialis dan sebagainya, namun pemuda atau generasi muda saat ini dihadapkan oleh berbagai permasalahan seperti, isu lingkungan, gender, jurang kemiskinan, diskriminasi, rasisme dan yang sangat jelas secara mikro atau pada individu pemuda tersebut adalah mengenai permasalahan percintaan dengan lawan jenisnya. Dan kemungkinan besar akan terjadi juga pada generasi berikutnya. Sebab permasalahan mengenai percintaan ini sangatlah mendominasi pada pemuda.

Masalah percintaan bisa dominan, karena hal itu merupakan konstruksi sosial yang pada akhirnya menganggap kehidupan yang ideal seperti itu. Ya ideal, ideal menurut mereka yang mengamini proyeksi tersebut. jika di-tracking penyebab dari itu adalah di Indonesia ini sendiri masih sangat kental budaya patriarkis.

Belum lagi ditambah dengan keberadaan teknologi yang berkembang semakin pesat. Karena tidak dipungkiri saat ini akan menuju zaman modernitas revolusi industri 5.0. Namun perkembangan teknologi ini (celakanya) jika tidak ada kontrol dari semua elemen masyarakat terkhususnya pemuda untuk manajemen penggunaannya akan dapat mendegradasi generasi emas itu sendiri. 

Sebab teknologi ini seperti micin, seakan nagih untuk menikmatinya lagi dan lagi. Kita ketahui sendiri banyak aktivitas kehidupan kita saat ini berbasiskan perangkat teknologi seperti laptop, pc, gawai dan sebagainya.

Alih-alih, keberadaan teknologi ini justru menjadi wadah untuk mengekspresikan masalah percintaannya. Dilihat dari berbagai platform sosial media yang terdominasi oleh status, story, bio, dan sebagainya yang menyatakan dan/atau mengalami jomblo, sakit hati, galau, gagal move-on dan segala bentuk bucin lainnya. Inilah yang kemudian tidak hanya mendiskriminasi orang yang tidak mengamini hal tersebut karena akan rentan akan dilabeli “tidak laku”, namun juga dapat membatasi peran pemuda untuk dapat berkontribusi dalam pembangunan negara.

Untuk itu, mari merefleksikan dengan realitas objektif kita untuk menata kembali masa ke depan negara Indonesia. Tidak hanya sekedar meninabobokan generasi muda saat ini dengan istilah generasi emas. Bukan tidak optimis untuk menjadi generasi emas, namun melihat secara determinisme yang rasional yakni permasalahan pemuda saat ini berkutat pada bucin. Jadi shiratal mustaqimnya yang menghambat untuk mewujudkan generasi emas adalah pada pemuda saat ini yang permasalahannya tidak hanya karena micin tapi bucin.