“Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia,” 

-Ir. Soekarno

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata anak muda? Apakah anda akan berpikir bahwa anak muda adalah mereka yang kuat dan tangguh? Atau anda akan berpikir bahwa mereka adalah kaum terpelajar?

Pada kalanya, pusat daya dorong kekuatan revolusi pada tahap pertama perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia terletak di tangan para pemuda. Pemuda pada saat itu diharapkan menjadi tulang punggung dan kekuatan bangsa Indonesia untuk maju merebut kemerdekaan dari genggaman para penjajah.

Mengamati fenomena yang saat ini terjadi, pemuda dihadapkan pada berbagai budaya dan kebiasaan baru yang membuat mereka menjadi sosok yang dikontrol oleh lingkungan sekitar. Mulai dari cara bersikap dan berperilaku yang terkadang tidak sesuai, cara berpakaian, dan bahkan pergaulan yang sangat berbeda dari karakter pemuda yang sebagaimana mestinya.

Memasuki era 4.0 ini, anak muda sangat diharapkan untuk menjadi generasi emas Indonesia yang kompeten, produktif, inovatif, beretika, dan juga harus bermoral. Tidak hanya memiliki semangat juang yang tinggi, namun juga pikiran yang cerdas dan kritis. Dunia berevolusi, begitu pun dengan kehidupan dan zaman yang berkembang dengan cepat bahkan lebih cepat dari anak cucu kita.

Saatnya Berevolusi

Menginjak era serba 4.0 ini, haruskah anak muda juga dituntut untuk menjadi anak muda yang 4.0? Apa landasan yang mengharuskan anak muda untuk berevolusi?

Sebelum melangkah jauh membahas mengenai revolusi anak muda, alangkah baiknya jika kita merenungkan dulu apa arti revolusi itu.

Selo Soemardjan berpendapat bahwa revolusi adalah setiap perubahan yang terjadi dalam lembaga-lembaga sosial di masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok masyarakat. Jikalau memang anak muda diharuskan untuk berevolusi, maka mereka harus dihadapkan pada perubahan sistem sosial, nilai, mental, dan pola perilaku yang selaras dengan era 4.0 ini.

Revolusi anak muda 4.0 yang terjadi saat ini diawali oleh peristiwa pada tahun 1908, semangat para pemuda terwujud dengan berdirinya Budi Oetomo, sebagai simbol kebangkitan nasional para pemuda. Menyusul tahun 1928 lahirlah sebuah sumpah sakral yang diciptakan menggunakan iktikad baik yang kemudian kita sebut sebagai Sumpah Pemuda.

Tak berhenti di sana, pergerakan pemuda kembali hadir yaitu sebagai aktor penting dalam persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tidak salah jika tanpa pemuda, bangsa kita mungkin tak akan pernah merayakan hari jadinya pada tanggal 17 Agustus 1945.

28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sejarah menjadi saksi setiap titik perjalanan perjuangan yang dilalui oleh Pemuda Indonesia. Kesadaran untuk berevolusi dalam hati pemuda Indonesia sendiri mulai tumbuh ketika mereka menyaksikan fenomena pemiskinan sistematis yang terjadi di negara ini. 

Derasnya arus demokrasi yang terjadi pada masa reformasi Indonesia merupakan bukti monumental anak muda yang bersejarah bersama elemen bangsa yang lain. Dalam perkembangan sosial dan politik yang terjadi, anak muda sesungguhnya tidaklah berada pada satu kepentingan politik tertentu, akan tetapi justru hadir untuk menjawab apa yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. 

Dengan kata lain, anak muda menjadi sejuta harapan bagi generasi sebelumnya, menjadi bagian dari perubahan Indonesia dari masa sebelumnya. Harapan tersebut telah terbayarkan saat ini dengan adanya momentum Sumpah Pemuda yang ke-91 tahun. Sumpah pemuda pada kala itu telah menjadi bukti nyata semangat membara para pemuda Indonesia.

Beberapa Perspektif

Manusia termasuk pemuda merupakan Zoon Politicon atau makhluk politik. Dalam perspektif ini, anak muda merupakan bagian dari komponen bangsa yang tidak dapat dilepaskan ataupun dihindarkan dari politik karena pada hakikatnya anak muda melebur menjadi satu dalam bagian itu.

Hal tersebut merupakan pernyataan yang diungkapkan oleh seorang filsuf politik terkemuka Aristoteles. Keberadaan anak muda merupakan bagian dari politik dan terlibat baik langsung maupun tidak langsung, nyata maupun tidak nyata.

Sementara itu, dalam perspektif ekonomi, anak muda akan menjadi sebuah anugerah besar bagi Bangsa Indonesia dalam wujud dari bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Pada tahun itu, Indonesia diprediksi akan memiliki jumlah pemuda lebih banyak daripada jumlah orang tua ataupun anak kecil.

Pencetus Start-Up yang berjamuran saat ini di Indonesia merupakan hasil cipta karya anak muda bangsa kita. Tidak hanya teknologi dan industri saja yang berevolusi, namun anak muda Indonesia juga dituntut untuk berevolusi menjadi anak muda yang kompeten, dengan kata lain “Anak Muda 4.0”.

Bukti nyata adanya revolusi anak muda di era 4.0 ini adalah fenomena terpilihnya 7 staf khusus presiden yang berasal dari kaum milennials. Bagaimana bisa, tak disangka-sangka ternyata Presiden Jokowi mengambil tindakan yang sangat mulia. 

Berita ini menyebar dan berhasil membakar semangat anak-anak muda Indonesia lainnya. Tujuh staf khusus tersebut ternyata bukanlah anak muda yang kaleng-kaleng, bahkan mereka berasal dari background yang sangat membanggakan.

Putri Tanjung, Adamas Belva, Ayu Kartika, Angkie Yudhistia, Andi Taufan, Gracia Billy, dan Aminuddin, tujuh pemuda inilah yang menjadi perwakilan anak-anak muda Indonesia lainnya dalam mewujudkan cita-cita bangsa sebagai Indonesia Emas.

“Mereka akan menemani saya dalam berdiskusi, jadi bisa cari cara baru yang out of the box, melompat untuk kejar kemajuan, sekaligus menjadi jembatan saya bagi anak muda, santri muda, dan diaspora yang tersebar di berbagai tempat”, ucap Pak Presiden.

Alasan dari Pak Presiden tersebut sudah cukup membenarkan bahwa memang benar adanya anak muda merupakan tulang punggung suatu bangsa, tempat di mana harapan mulai diwujudkan dengan aksi yang nyata tidak hanya sebuah kata.

Tidak hanya Pak Presiden, semua orang berharap agar ketujuh pemuda ini berhasil mewujudkan aksi nyatanya yang bukan hanya kata-kata indah saja yang diucapkan dari mulutnya. Namun, sebuah kerja nyata yang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang yang sesuai dengan cita-cita.

Itu semua telah cukup menunjukkan bahwa anak muda pun mampu berevolusi, tidak semata mata hanya industri saja yang bisa berevolusi. Bagaimana bentuk bangsa dan negara ini merupakan tanggung jawab anak-anak muda Indonesia. Jikalau bukan mereka, siapa lagi?

Asalkan mereka mampu dan berkeinginan dari hati untuk merubah diri serta berevolusi menjadi penerus bangsa yang berbudi, semua akan terwujudkan.

Referensi:

https://ristekdikti.go.id/siaran-pers/menristekdikti-anak-muda-sumber-ekonomi-baru-di-era-revolusi-industri-4-0/

https://www.tribunnews.com/techno/2019/01/01/kaum-muda-dan-tantangan-era-revolusi-industri-40

https://geotimes.co.id/opini/pemuda-diantara-garis-revolusi/