Dongeng bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat kita. Dongeng barangkali sudah ada semenjak  manusia pertama kali menginjakkan kaki di planet yang bernama bumi ini, hingga kiwari. 

Sehingga dalam sejarah perkembangan manusia, dongeng pun kerap menjadi salah satu cara manusia dalam berinteraksi antar sesama. 

Dengan cara mendongeng, manusia menyampaikan cerita unik, fiktif dan imajinatif dari berbagai daerah di mana ia berasal, pun dengan mendongeng manusia mengenalkan budaya serta adat istiadatnya. 

Dalam dongeng terkadang  ceritanya takmasuk akal, atau lebih tepatnya tak rasional, seperti bintang  yang berubah menjadi manusia, dalam cerita Gomiho,  yang diceritakan di masyarakat Korea atau hewan yang cerdik, dalam cerita si Kancil; yang pada umumnya diceritakan di nusantara.

Kendati, dalam dongeng ada cerita yang takmasuk akal, tetapi saya yakin ada dari pembaca yang pada masa kecil sebelum tidur atau disaat senggang, oleh orang tua kerap mendongeng cerita tentang bintang yang bisa berbicara dan juga cerdik. 

Arkian, ketika mendengar kata “dongeng”, umumnya pikiran kita akan dibawa kepada anak-anak, maksudnya anak-anaklah yang kebanyakan suka mendengar dongeng, apalagi pada waktu menjelang tidur.

Barangkali ada juga orang dewasa yang suka mendengar dongeng, tetapi saya pikir tidak seberapa dibandingkan dengan anak-anak. Kalaupun ada orang dewasa yang suka membaca atau mendengar dongeng, barangkali itu menjadi referensi pengetahuan untuk diceritakan kepada anaknya. 

Lalu apa itu “Dongeng”?

Dikutip dalam Wikipedia, dongeng adalah salah satu cerita rakyat (folktale) yang cukup beragam cakupannya serta berasal dari berbagai kelompok etnis, masyarakat, atau daerah tertentu di berbagai belahan dunia. 

Sedangan dongeng  menurut  Liberatus Tengsoe (1988:166)  adalah cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Dalam dongeng disajikan hal-hal yang ajaib, aneh, dan tidak masuk akal. 

Lebih lanjut menurut Tengsoe. Dahulu dongeng diciptakan untuk anak kecil, isinya penuh dengan nasihat. Dan karena dongeng muncul pertama kali pada zaman sastra Purba di Indonesia maka pada mulanya tergolong sastra orai atau sastra lisan, disampaikan dari mulut ke mulut.

Waima menurut Tengsoe dongeng merupakan cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Namun, bagi saya, tidak semua dongeng merupakan cerita khayal. Sebab, ada beberapa dongeng  yang diambil dari kisah nyata dalam kehidupan dan lingkungan sekitar kita, kemudian dinarasikan sedemikian rupa agar menjadi diksi yang menarik dan juga mengandung pesan-pesan moral.

Misalnya cerita dongeng maling kundang dari Sumatera Barat. Dongeng yang menceritakan seorang anak yang durhaka pada anaknya.

kalau kita telisik ternyata dongeng tersebut, menurut masyarakat setempat, diceritakan berdasarkan fakta yang terjadi. Itu dibuktikan dengan batu yang bentuk manusia dan pecahan kapal yang telah membatu.

Sumber Foto: Batu malin Kundang di Padang yang terkenal (Hesti/detikTravel)


Dengan itu, bagi saya tidak semua dongeng hanya berdasarkan imajinasi atau fiktif semata. Akan tetapi ada juga dongeng yang diangkat/diceritakan berdasarkan fakta yang terjadi.

Dongeng bisa  berpengaruh negatif Terhadap Anak 

Hatta, dongeng menurut beberapa penilaian, ia bukan hanya sekadar cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Akan tetapi dalam cerita dongeng terdapat pesan /nilai yang sangat berpengaruh pada karakter dan psikologi anak.

Seperti merekatkan hubungan orang tua dengan anak, bisa membantu mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan anak secara emosional,  mengembangkan daya imajinasi anak,  membangkitkan minat Baca,  membentuk rasa empati anak dan meningkatkan ketrampilan dalam berbahasa.

Akan tetapi, bagi  saya, tidak semua dongeng berpengaruh positif terhadap anak. Walaupun ada dalam dongeng mengandung hal-hal positif yang sudah saya sebutkan di atas.

Namun ada juga dongeng bisa berpengaruh negatif terhadap anak. Mengapa saya Mengatakan demikian?

Pernah dengar dongeng si Kancil mencuri ketimun?

Dongeng tersebut sampai-sampai di buat sebuah lagu,  kalau tidak salah dikarang oleh Ibu Soed.  Begini bunyi lagunya:

Si Kancil anak nakal
Suka mencuri mentimun
Ayo lekas dikurung
Jangan diberi ampun

Si Kancil anak nakal
Suka mencuri mentimun
Ayo lekas diburu
Jangan diberi ampun

Dalam cerita dongeng si Kancil. Kancil digambarkan bintang yang pintar dan cerdik. Akan tetapi suka mencuri — mencuri apa? timunnya pak petani. Tidak hanya itu dengan kepintaran dan kecerdikannya ia juga menipu buaya, gajah, monyet, dll. 

Pernahkah kita bayangkan dampak dari cerita dongeng kancil dan lagu tentang kancil yang suka mencuri?

Cerita kancil seperti di atas, barangkali bagi kita orang tua tak ada masalah dalam cerita itu. Kita menganggapnya hanya merupakan cerita hiburan atau cerita pengantar tidur untuk anak.
Akan tetapi, kita tak menyadari bahwa anak bisa saja memahami berbeda cerita itu.

Anak-anak bisa saja memahami atau menganggap bahwa mencuri merupakan hal yang baik, atau dengan kepintaran dan kecerdikan bisa digunakan untuk menipu dan mencuri, seperti halnya dalam cerita dongeng kancil yang mencuri mentimun.

Saya bayangkan jangan-jangan sebagian orang yang pintar dan cerdik tapi koruptor adalah produk gagal dari cerita dongeng si Kancil anak nakal. Hehhe

Kita tahu bersama bahwa Anak adalah pendengar/perekam dan peniru yang baik.

Dengan demikian, kita sebagai orang tua, sejak dini, apabila mendongeng sebuah cerita untuk anak, sebaiknya ceritakan dongeng yang menginspirasi atau dongeng mengandung unsur-unsur kebaikan, seperti dongeng yang mengandung pesan cinta, persahabatan, penghormatan, tolong-menolong dalam kebaikan dan hal-hal positif lainnya.

Sebab, sesuatu yang berdampak pada diri anak baik itu positif ataupun negatif, bukan hanya datang dari hal-hal yang terlihat tapi juga datang dari hal-hal yang di dengar.

Maka dari itu, lihat/perlihatkan dan dengar/perdengarkan  hal-hal yang mengarah pada kebaikan.

Dalam bahasa Jalaluddin Rumi :
Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat.