Kebanyakan orang berkata bahwa lulusan fakultas filsafat tidak begitu eksis dalam dunia kerja di tengah revolusi teknologi informasi. Hal ini terlihat dari sedikitnya berita tentang para lulusan filsafat dan sedikitnya peminat di fakultas filsafat. Jarang sekali terdapat berita di koran, televisi maupun media sosial yang menyatakan tentang keberhasilan dari orang-orang yang lulus fakultas filsafat. 

Sepinya peminat dalam fakultas filsafat juga menjadi salah satu indikator mengenai eksisnya lulusan fakultas filsafat di dunia saat ini, mengapa? Karena jika fakultas filsafat eksis dan dikenal luas oleh masyarakat, maka akan banyak peminat yang bergabung dengan fakultas filsafat. 

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya eksistensi dari lulusan fakultas filsafat. Faktor pertama adalah luasnya materi yang dipelajari oleh fakultas filsafat. Filsafat adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan, maka materi yang dipelajari filsafat mencakup segala sesuatu yang ada pada setiap ilmu pengetahuan. 

Faktor berikutnya berkaitan dengan faktor pertama. Karena luasnya cakupan yang dipelajari filsafat maka filsafat tidak dapat fokus pada satu aspek saja, sedangkan yang sering di dunia kerja Indonesia adalah para ahli yang mendalami bidangnya masing-masing. 

Faktor lainnya yang membuat lulusan fakultas filsafat kurang eksis dalam dunia kerja adalah sedikitnya pemahaman tentang kegunaan filsafat dalam dunia kerja. Kebanyakan orang tidak memahami apa itu filsafat dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Faktor berikutnya berasal dari anggapan-anggapan negatif mengenai filsafat. Banyak orang di luar sana yang menganggap filsafat sebagai ilmu di awang-awang, tidak dapat diterapkan secara praktis, bahkan ada yang menganggap bahwa berfilsafat hanya membuang-buang waktu dan tidak berguna.

Anggapan-anggapan semacam inilah yang menjadikan eksistensi lulusan fakultas filsafat semakin berkurang. Masih dalam konteks yang sama, kebanyakan orang menilai eksistensi dalam dunia kerja dari kepraktisannya belaka. 

Banyak yang mengira ketika mengambil jurusan tertentu maka pekerjaan yang didapatkan sesuai dengan jurusan tersebut. Kenyataannya hanya 70% lulusan sarjana yang bekerja sesuai dengan jurusan yang diambilnya semasa kuliah. Dengan demikian kemana 30 % yang lainnya? 

Mengesampingkan eksistensi lulusan fakultas filsafat dalam dunia kerja, pada zaman revolusi teknologi informasi ini filsafat menjadi sangat penting, mengapa? Di tengah revolusi teknologi informasi, kita semua dibanjiri oleh berbagai macam informasi yang sangat sulit dibendung. 

Dalam banjir informasi tersebut, tak jarang informasi yang salah (hoax) ikut tercampur dan menjadi satu dengan beragam informasi yang kita terima. Filsafat menjadi bidang kajian yang sangat penting dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Kita akan sangat terbantu untuk menjawab berbagai permasalahan, terutama dalam menanggapi banjir informasi yang masuk ke dalam kehidupan kita. Dalam berfilsafat terdapat lima sifat dasar yang sangat penting, yaitu: berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan, dan berpikir rasional.

 Berpikir rasional adalah akar dari keempat sifat yang lainnya, dengan kata lain, dasar dari sifat-sifat berfilsafat. Berpikir secara rasional adalah berpikir dengan cara yang logis, sistematis dan kritis.

Berpikir rasional sangat diperlukan untuk dapat menyaring berbagai informasi yang masuk ke dalam kepala kita, terutama di tengah revolusi teknologi informasi saat ini. Dengan berpikir rasional, kita tidak mudah percaya dengan segala informasi yang masuk. 

Berpikir rasional mendorong seseorang untuk senantiasa menggali suatu permasalahan secara mendalam serta mengevaluasi anggapan-anggapan yang dianggap benar oleh masyarakat. Dengan demikian kita dapat mengolah setiap keputusan dan mengambil kesimpulan yang tepat terhadap setiap informasi yang masuk dan dapat menanggapinya dengan tepat.

Penulis berpendapat, setiap orang harus dapat berfilsafat. Akan tetapi, banyak orang yang memandang negatif hal tersebut. Namun, jika ditelaah kembali, berfilsafat sesungguhnya adalah sikap batin yang mau merenungkan suatu persoalan secara mendalam dan mempertimbangkannya dengan matang. 

Dengan berfilsafat, seseorang akan dihindarkan untuk tidak jatuh ke dalam bahaya irasionalitas dan berita bohong (hoax) yang marak dalam era revolusi teknologi informasi.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa lulusan fakultas filsafat kurang eksis di tengah revolusi teknologi informasi, terutama dalam dunia kerja. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan dan memperparah kondisi eksistensi dari fakultas filsafat di tengah revolusi teknologi informasi.

Meski lulusan fakultas filsafat kurang eksis di tengah revolusi teknologi informasi, hal ini tidak berarti filsafat tidak penting dalam kehidupan kita. Sebaliknya, berfilsafat sangat dibutuhkan untuk dapat menyaring beragam informasi yang masuk ke dalam pikiran kita.