Sejujurnya saya mulai jengah dengan orang-orang yang tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Pemandangan ini sering saya temui di timeline Twitter saya hampir tiap hari.

Entah apa faedahnya mereka melakukan semua itu, bukannya hanya akan menguras energi? Alih-alih mengeluh pada diri sendiri, bukannya lebih baik jika gunakan energi tersebut untuk memantau keributan belajar menerima keadaan?

Bukannya ingin menggurui, tapi nyatanya mengeluh itu memang tidak akan pernah mengubah apa-apa. Toh mengeluh tidak akan membuat kulit hitammu itu menjadi putih, atau mengubah muka jerawatanmu itu jadi semulus muka Gal Gadot. Andai semua hal di dunia ini bisa diubah hanya dengan mengeluh, pasti Nobita sudah menjadi direktur Microsoft saat ini.

Saya bisa memahami bahwa - hal yang disebut sebagai kekurangan diri - menjadi salah satu sebab seseorang menjadi tidak percaya diri. Entah itu karena kulit hitam, muka jerawatan, gigi bergelombang, badan lebar, atau mempunyai tubuh yang mungil. Anggaplah semua itu sebagai suatu kekurangan, selanjutnya apa?

Saya sepakat bahwa untuk bisa menjadi pribadi yang diterima di lingkungan, juga harus bisa merawat diri. Tapi dengan merawat diri toh tidak selalu berakhir dengan kondisi ideal seperti yang diharapkan. Orientasinya bukan lagi hasil, melainkan proses.

Merawat diri tidak sama dengan mengubah diri. Merawat diri adalah usaha membuat kekurangan fisik yang dimiliki sehingga naik setingkat dua tingkat lebih baik dari sebelumnya.

Namun harus dipahami bahwa merawat diri adalah hal yang sifatnya praktik. Jauh sebelum itu, ada satu hal fundamental yang harus ditanam lebih dulu dalam diri: menerima keadaan.

Mengeluh dan memiliki perasaan tidak puas terhadap diri sendiri tidak lain karena belum bisa menerima keadaan diri sendiri. Alih-alih fokus kepada diri sendiri, kita malah membandingkan diri dengan yang lain.

Akhirnya pola yang terbentuk akan selalu seperti ini: mengeluh – membandingkan dengan orang lain – insecure. Terlalu banyak waktu yang dibuang percuma.

Kadang kita suka lupa bahwa manusia adalah makhluk yang istimewa. Manusia selalu mempunyai kelebihan dalam dirinya sendiri yang kadang tidak disadari. Toh fisik tidak selalu menjadi hal yang utama, bukan begitu?

Saya kira kita semua perlu menjadikan film Imperfect sebagai sarana untuk bisa lebih menerima kekurangan diri sendiri. Bagaimana pada akhir film tersebut diceritakan bahwa sejatinya setiap orang mempunyai versi cantiknya sendiri-sendiri.

Semua orang bisa menjadi cantik dan ganteng tanpa harus menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri Anggapan standar kecantikan tidak lebih hanya omong kosong belaka hanya untuk kebutuhan komersil.

“Daripada insecure, lebih baik bersyukur” begitu kiranya kutipan favorit saya dari dialog di film tersebut. Sederhana, namun punya makna mendalam. Lagi untuk apa juga menenggelamkan diri dalam insecurity?

Lagi pula, kita selalu punya cara untuk menaikkan nilai kita, kan? Bukan, bukan nilai yang diberikan layaknya anak sekolahan ketika selesai mengerjakan tugas. Namun nilai yang didapat dari usaha diri sendiri untuk menjadi lebih baik dan mengantar ke arah kesempurnaan.

Belajar menjadi pribadi yang bernilai

Saya percaya bahwa untuk dilihat dan diakui lingkungan, tidak melulu karena punya fisik yang bagus bak model catwalk. Diberkahi kecantikan atau ketampanan fisik adalah salah satu kelebihan, namun bukan berarti dengan tidak menjadi cantik atau ganteng tidak bisa menggali kelebihan yang lain. Untuk itu kiranya perlu menunjukkan kelebihan dalam diri sendiri, atau inner beauty.

Dibanding mengeluh ngga jelas di Twitter, akan lebih baik jika waktu dan energi yang digunakan tersebut dialihkan untuk mengeksplor diri sendiri. Kenali diri lebih dalam dan cari hal yang bisa dikembangkan dari diri sendiri.

Entah memasak, menulis, menjadi pendengar yang baik, atau menjadi pribadi yang ramah. Tidak selalu keterampilan praktis, pun sikap juga bisa dikembangkan.

Kemudian fokuslah pada diri sendiri dan buatlah tujuan untuk jangka menengah dan jangka panjang. Entah mau jadi pribadi yang seperti apa nantinya, tentukanlah mulai dari sekarang. Fokus kepada impian dan cita-cita akan lebih mudah mengalihkan pikiran untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Percayalah, di dunia ini urusan fisik itu hal nomor sekian. Terpenting adalah kemauan dan kemampuan untuk berkembang. Ingat, kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Bill Gates jika hanya fokus pada keindahan fisik!

Seseorang akan bisa lebih dihargai karena usaha mereka. Apa yang mereka buat untuk keberlangsungan hidup mereka dan orang-orang sekitar yang merasakan dampaknya. Toh percuma juga punya tampang cantik atau ganteng tapi tidak didukung dengan usaha untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain

Tidak ada masalah dengan tidak menjadi sempurna. Seperti kata para motivator di televisi, bahwa tidak ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah manusia yang mau berusaha untuk mengubah nasib dirinya.

Tulisan ini dibuat bukan menandakan bahwa hidup saya sudah sempurna atau tidak pernah merasakan minder karena fisik yang menurut orang dianggap jelek. Dulu saya juga sudah akrab dengan ejekan seperti:

“dasar item, kurus, hidup lagi!”

“gigi lo tuh rapihin!”

Atau

“muka lo kok gak simetris, sih?”

Saya juga kadang berpikir dengan kondisi saya yang seperti ini apa ada perempuan yang tertarik sama saya? Nyatanya tetap ada, walaupun tidak banyak. Tapi apa kekurangan itu kemudian mematahkan semangat saya dan menganggap bahwa saya tidak bisa berkembang? Tentu tidak.

Contohlah makhluk pantang menyerah kebanggaan kita semua, Sheldon James Plankton. Tentunya kita sepakat bahwa Plakton secara fisik mempunyai kekurangan; pendek, dan kecil. Tapi toh itu tidak mengurangi kelebihan dalam dirinya di mana ia bisa menjadi seekor plankton yang cerdas dan menguasai teknologi.

Belajar menerima kekurangan diri adalah salah satu cara menghargai diri sebagai manusia yang hidup dan terus berproses. Teruslah merawat diri, juga diimbangi untuk meningkatkan kemampuan diri ke level yang lebih tinggi. Penting untuk menganggap diri sendiri lebih berharga dari sekadar omongan netizen.

Lagi pula sudah terlalu banyak masalah dan keributan di dunia ini, tidak bisakah kita memilih untuk berdamai sekali saja dengan hal seperti ini? Dengan diri sendiri?