Kehidupan mahasiswa yang serba terbatas memaksa kami untuk selalu berpikir kreatif. Mengelola keuangan menjadi keterampilan wajib yang harus kami kuasai selama hidup di masa perantauan. Kemampuan memisahkan kebutuhan pokok, sekunder, dan tersier sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup kami sampai akhir bulan.

Sebagai mahasiswa, kami harus berorientasi pada hal detail dan mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang baik. Termasuk di dalamnya masalah keuangan dan asmara.

Selain kebutuhan dadakan yang harus diantisipasi, pacaran juga termasuk salah satu kegiatan yang cukup mengganggu arus keuangan bulanan kami. Tidak jarang nominal paling tinggi dari ongkos pacaran yang dikeluarkan bisa setara dengan uang makan kami selama beberapa hari.

Tentunya kita semua sepakat bahwa untuk keluar dengan pacar sedikit banyak pasti ada uang yang dikeluarkan. Jika asumsi ongkos pacaran adalah Rp. 100.000 tiap satu kali nge-date, maka setidaknya itu sama dengan uang makan kami selama 5 hari. Untuk ukuran mahasiswa di Purwokerto, nominal sebesar itu sudah lebih dari cukup jika konsisten makan nasi rames atau makan di warmindo.

Oleh karena itu, biaya pacaran atau malam mingguan tentunya harus masuk juga ke dalam hitung-hitungan bulanan. Perlu juga ditegaskan bahwa ini adalah langkah yang harus dilakukan untuk menjaga stabilitas dompet dan kesejahteraan hidup kami sebagai anak kosan.

Guna menyeimbangkan kehidupan asmara dengan neraca keuangan, alternatif yang dipilih adalah mencari tempat murah dan menyenangkan untuk malam mingguan. Untuk hal ini, saya merekomendasikan toko buku sebagai pilihan paling tepat yang memenuhi kategori tersebut. Iya, toko buku. Kenapa? Ngga ada yang salah toh?

Pengalaman saya mengajak pacar malam mingguan ke toko buku juga seru-seru saja, kok. Walaupun itu hanya menurut saya, entah kalau menurut pacar saya yang kini sudah menyandang label mantan.

Sejauh yang saya rasakan, dia pun cukup menikmati tanpa ada drama kesurupan atau pura-pura melihat lelembut hanya untuk pergi dari toko buku. Lagi pula, lelembut mana yang malam minggunya nongkrong di toko buku?

Mengajak pacar ke toko buku bukan hanya bisa menghabiskan waktu berdua, lebih dari itu kami juga bisa jadi punya banyak topik pembicaraan. Hal ini lebih menyenangkan ketimbang duduk berlama-lama di kafe yang ramai dan bising lalu berakhir dengan saling menatap handphone karena kehabisan topik pembicaraan.

Lagi pula, mengunjungi toko buku sebagai sarana menghabiskan waktu malam minggu toh bisa jadi menguntungkan. Dari sisi keintiman dengan pasangan kita bisa mendapatkannya melalui obrolan seru yang bisa dibahas dari buku yang kita temui.

Berkeliling toko buku juga tanpa sadar membuat waktu yang dihabiskan dengan pasangan menjadikan malam cepat berlalu. Kan itu yang diinginkan kami semua, para lelaki?

Dari sisi pengetahuan apalagi, sekali pun tidak suka membaca buku namun akan tetap ada pengetahuan baru yang didapat dari sana. Entah hanya dengan membaca judul atau sinopsis buku di sampul belakang halaman. Satu lagi yang paling menguntungkan dari sisi anak kos adalah kami tidak harus mengeluarkan uang untuk melihat dan membaca buku-buku baru!

Malam mingguan di toko buku tentu saja berbeda dengan tempat-tempat yang memfasilitasi muda-mudi untuk berpacaran. Tidak bisa selalu bergandengan tangan, menyandarkan kepala di pundak, atau grepe-grepe. Hanya berkeliling melihat buku, bercerita soal isi buku, atau bahkan menjadikan bahan diskusi dari buku yang dibaca walau hanya sekilas.

Berdasarkan pengalaman, satu-satunya hal romantis yang bisa didapatkan dengan pacar ketika di toko buku adalah ketika saya dan mba pacar berhasil larut dalam pembahasan dari buku yang kami temui.

Saat-saat di mana saya sedang membaca buku yang sudah tidak disegel dan dia datang menghampiri. Saya kemudian mencoba menjelaskan isi buku tersebut dan dia terlihat begitu antusias mendengarkan. Begitu pun sebaliknya, walau pun sejujurnya saya tahu dia tidak begitu suka dengan buku.

Kebetulan saya adalah orang cukup senang dengan buku, khususnya buku-buku bertema politik, sejarah, sains populer, dan kebudayaan. Ketika datang ke toko buku, umumnya saya sudah tidak asing dengan beberapa judul buku yang ditemui di rak buku. Terlebih, tiap minggu juga selalu ada saja buku baru yang dipajang di rak, jadi selalu ada hal yang diperbincangkan.

Pada akhirnya saya dan mba pacar saling tukar referensi judul buku. Layaknya pasangan pada umumnya yang mencoba saling melengkapi. Saya coba mengenalkan buku The World Until Yesterday dan Homo Deus padanya. Pun sama halnya dengan dia yang menyodorkan saya buku kumpulan hadist shahih.

Menjadikan toko buku sebagai tempat malam mingguan dengan gebetan juga bukan ide yang buruk. Kamu bisa membuat gebetan luluh dengan membangun citra diri sebagai orang yang suka membaca, sekalipun itu buku komik One Piece. Setidaknya kamu punya kepribadian lain yang tidak dimiliki para pesaing yang ikut mengejar gebetanmu.

Menjadikan toko buku sebagai tempat yang ramah untuk muda-mudi sejatinya dapat mematahkan aturan kolot tak tertulis yang selama ini tumbuh di masyarakat kita. Seolah toko buku adalah tempat yang keramat sehingga hanya pengunjung yang mempunyai tujuan suci saja yang boleh berkunjung. Maka tidak heran, selama ini toko buku hanya identik dengan keperluan mencari dan membeli saja.

Baru belakangan ini saja kemudian muncul konsep toko buku dengan fasilitas pendukung lainnya seperti tempat membaca dan coffee shop. Saya kira inovasi ini menarik dan sangat diperlukan untuk menarik pasar anak muda yang mulai kehilangan minat untuk menjadikan buku sebagai bagian dari gaya hidup.

Pada akhirnya saya kira menjadi penting untuk menormalisasi toko buku sebagai salah satu destinasi favorit malam minggu. Terlebih bagi kami, para anak kos yang tengah menjaga kesejahteraan hidup.